Dia Memelihara Kita

24 Agustus 2026

Mengapa Yesus Disebut Adam Terakhir?

28 Agustus 2026

Dia Memelihara Kita

24 Agustus 2026

Mengapa Yesus Disebut Adam Terakhir?

28 Agustus 2026

Apa yang Seorang Pastor Kerjakan?

Ketika anak laki-laki saya masih di taman kanak-kanak, ia membawa pulang sebuah sketsa biografi yang telah ia selesaikan di sekolah. Sketsa itu berisi potret diri dan informasi dasar tentang dirinya dan keluarganya. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah, “Apa pekerjaan ayahmu?”

Saya akan senang jika jawabannya kira-kira seperti, “Dia seorang pendeta di gereja,” “Dia mengkhotbahkan Firman Allah,” atau mungkin, “Dia memberi tahu orang tentang Yesus.” Tapi tidak—tidak ada satupun dari jawaban-jawaban itu. Sangat disayangkan, jawabannya hanya, “Dia bekerja di depan komputer dan minum kopi.”

Meskipun saya percaya bahwa pemahaman anak saya tentang pekerjaan ayahnya telah semakin matang seiring berjalannya waktu, momen lucu itu membuat saya menyadari bahwa pertanyaan “Apa yang dikerjakan seorang pastor?” mungkin tidak semudah itu dijawab, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.

Jadi, apa yang dikerjakan seorang pastor?

Sebuah Panggilan yang Khusus

Pekerjaan seorang pastor, pertama-tama dan terutama, berasal dari panggilannya. Panggilan pada pelayanan Injil berbeda dari panggilan umum untuk keselamatan. Rasul Paulus mengingatkan protege mudanya, Timotius, akan panggilan khusus ini melalui “penumpangan tangan,” dan menggambarkannya sebagai “panggilan kudus” (2Tim. 1:6–9). Memang ini adalah panggilan kudus, sebab seorang pendeta dipisahkan oleh dan melalui gereja untuk mewakili Tuhan Yesus Kristus dalam perkataan dan perbuatan sebagai duta-Nya yang dipercayakan dengan kunci-kunci kerajaan yang memiliki otoritas (2Kor. 5:20; Mat. 16:19).

Otoritas representatif ini tidak boleh digunakan untuk mempromosikan diri sendiri (2Kor. 4:5), maupun untuk mendominasi mereka yang berada di bawah penggembalaannya (1Ptr. 5:3). Sebaliknya, jabatan pastor adalah jabatan pelayanan dengan kerendahan hati, meneladani Tuhan kita sendiri, yang membasuh kaki para murid-Nya (Yoh. 13:1–17). Mereka yang melayani dengan cara ini, dengan mengingat panggilan dan tujuan ini, dihormati oleh Tuhan—dan harus dihormati oleh jemaat yang berada di bawah penggembalaan mereka (1Tim. 5:17).

Dari panggilan ini mengalir tiga tanggung jawab utama.

1. Memimpin

Yang pertama adalah memimpin gereja Tuhan Yesus Kristus. Seorang pastor adalah seorang pemimpin. Namun, kepemimpinan ini tidak boleh disamakan dengan jenis kepemimpinan yang ada di dunia korporat Amerika, di mana kesuksesan sering kali diukur berdasarkan hasil akhir.

Kepemimpinan dalam gereja Kristus, di atas segalanya, adalah kepemimpinan melalui teladan—teladan kesalehan dan keserupaan dengan Kristus. Ketika Yosua memimpin umat Allah memasuki tanah perjanjian, Tuhan tidak memberikan strategi militer sebagai kunci kemenangan. Sebaliknya, Ia memerintahkan Yosua: “Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya” (Yos. 1:8).

Demikian juga, ketika berbicara kepada jemaat di Korintus—sebuah jemaat yang dilanda perpecahan dan kebingungan moral—Paulus menunjuk pada teladannya sendiri sebagai tuntunan menuju kesalehan: “Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor. 11:1).

Dari dasar integritas pribadi dan teladan yang saleh inilah seorang pendeta mampu memimpin umat Allah dalam ibadah kepada Allah dan dalam pelayanan gereja.

2. Memelihara

Kedua, seorang pastor dipanggil untuk memelihara gereja Tuhan Yesus Kristus. Pemeliharaan ini dilakukan melalui pemberitaan Firman, sakramen, dan doa. Inilah sarana-sarana anugerah yang istimewa—tetapi juga umum—yang telah ditetapkan Allah untuk melayani umat-Nya secara penuh dan memadai, menyampaikan kepada mereka manfaat penebusan mereka di dalam Kristus.

Tugas sang pendeta adalah melakukan sarana-sarana ini dengan setia dan konsisten kepada kawanan domba yang dipercayakan dalam penggembalaannya. Ia tidak boleh terlalu teralihkan oleh urusan-urusan lain, betapapun pentingnya urusan-urusan tersebut. Rasul Petrus menegaskan prioritas ini dengan jelas dalam Kisah Para Rasul 6, ketika muncul kebutuhan mendesak di gereja mula-mula terkait pembagian makanan sehari-hari. Petrus berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja … dan kami sendiri akan memusatkan perhatian pada doa dan pelayanan firman” (Kis. 6:2, 4).

Penekanan ini tidak mengurangi pentingnya pelayanan-pelayanan lain di dalam gereja; sebaliknya, hal ini menempatkan pelayanan-pelayanan tersebut pada urutan yang tepat di bawah pemeliharaan yang utama yang berupa makanan rohani. Petrus mempelajari prioritas ini langsung dari Tuhan kita, yang tiga kali menugaskannya untuk “peliharalah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:17).

3. Melindungi

Ketiga, seorang pastor bertugas melindungi gereja Tuhan Yesus Kristus. Tanggung jawab ini sudah ada sejak zaman Adam, manusia pertama, yang ditempatkan di Taman Eden “untuk mengerjakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Adam ditugaskan untuk merawat taman itu dan menjaganya dari segala sesuatu yang dapat menghalangi pertumbuhannya. Tragisnya, Adam gagal dalam peran sebagai pelindung ini, terjebak ke dalam tipu daya ular melalui istrinya, Hawa, dan dengan demikian menjerumuskan seluruh umat manusia ke dalam dosa.

Sampai hari ini, dosa dan Setan terus mengusik dunia—dan khususnya gereja. Oleh karena itu, seorang pendeta harus waspada dalam menjaga kawanan dombanya. Ia dipanggil untuk memperingatkan akan bahaya rohani dan mengobarkan perang melawan serangan si jahat (Ef. 6:10–20). Dalam melakukannya, ia memberitakan bahwa kemenangan akhir telah diraih oleh Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit dan naik ke Surga. Bahkan di tengah pergumulan yang terus berlangsung dengan kejatuhan dunia ini dan hati kita sendiri, gereja tetap berdiri dengan kemenangan di dalam Dia.

Lebih lanjut, seorang pastor harus berjuang untuk menjaga kedamaian dan kemurnian gereja. Rasul Paulus menasihati para penatua di Efesus dengan pesan yang serius ini:

Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu … Sebab itu, berjaga-jagalah …. (Kis. 20:28–31)

Ketiga tanggung jawab ini—memimpin, memelihara, dan melindungi—dapat dirangkum dalam analogi Alkitab yang paling sering digunakan untuk menggambarkan para pemimpin umat Allah: gembala. Bahkan sebutan “pastor” pun berasal dari gambaran tentang merawat, memberi makan, dan membina kawanan domba Kristus.

Model penggembalaan ini menemukan teladan yang sempurna, kekuatan yang tak pernah pudar, dan jaminan kekal dalam Sang Gembala Agung, Tuhan Yesus Kristus, yang “memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Karena itulah, Rasul Petrus menyampaikan pesan yang tak lekang oleh waktu ini kepada para pelayan Injil:

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, … dengan sukarela … dengan pengabdian diri … menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1Ptr. 5:2-4)

Kiranya Tuhan, dengan anugerah-Nya, membangkitkan banyak pastor yang akan menggembalakan gereja Tuhan Yesus Kristus dengan setia.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Joel Smit

Joel Smit

Pdt. Joel E. Smit adalah pendeta senior di Smyrna Presbyterian Church di Smyrna, Georgia.