
Apa yang Seorang Pastor Kerjakan?
26 Agustus 2026Mengapa Yesus Disebut Adam Terakhir?
Begitu Adam jatuh ke dalam dosa, ia membuat dirinya sendiri dan keturunannya tidak bisa lagi memenuhi tuntutan perjanjian kerja. Allah tidak mengubah panggilan Adam, melainkan mengutus satu Pribadi yang akan menunaikannya dengan setia—yaitu, Yesus, Adam yang terakhir. Rasul Paulus menyoroti hal ini di beberapa bagian di mana ia menempatkan Adam dan Yesus secara berdampingan sehingga kita dapat melihat bahwa keduanya adalah dua kepala perjanjian (atau federal): “Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah dinyatakan sebagai orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang akan dinyatakan sebagai orang benar” (Rm. 5:19, terjemahan penulis). Tindakan-tindakan representatif Adam dan Yesus menentukan akhir dari orang-orang yang diwakili oleh mereka.
Paulus juga menyimpulkan hal yang sama dalam penjelasannya mengenai kebangkitan: “Sebab, sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Sebab, sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor. 15:21–22). Semua orang yang secara perjanjian disatukan dengan Adam akan mati, dan semua orang yang secara perjanjian disatukan dengan Yesus akan hidup. Paulus menguraikan poin ini dengan lebih rinci kemudian dalam 1 Korintus 15:
Seperti ada tertulis, “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk hidup”, Adam yang terakhir menjadi Roh yang memberi hidup. Tetapi, yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. Manusia pertama berasal dari bumi, manusia debu, manusia kedua berasal dari surga. Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu, dan mereka yang surgawi sama dengan Dia yang surgawi. Sama seperti kita telah memakai rupa dia yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa Dia yang surgawi. (1Kor. 15:45-49, terjemahan penulis).
Paulus mengutip Kejadian 2:7, yang merujuk pada penciptaan Adam oleh Allah, untuk menunjukkan bahwa Adam menjadi sumber kehidupan, tetapi hanya menghasilkan keturunan secara alami. Mengingat kejatuhannya dan penempatannya ke debu bumi, Adam hanya dapat menghasilkan anak-anak yang akan kembali menjadi debu. Sebaliknya, Yesus, Adam yang terakhir, berasal dari surga dan bersifat rohani—yaitu, dicirikan oleh Roh—dan mereka yang disatukan dengan-Nya dalam perjanjian akan turut mengambil bagian dalam rupa surgawi-Nya. Yesus sebagai Adam yang terakhir telah dengan sempurna, secara pribadi, dan secara definitif menaati Bapa-Nya di Surga dan dengan demikian menjadi Roh yang memberi hidup—Ia melepaskan karya Roh Kudus, yang pergi untuk mengumpulkan mempelai Kristus, yaitu gereja, Hawa yang terakhir.
Alkitab menggambarkan Yesus sebagai Adam yang terakhir, Sang Anak yang taat, yang bertolak belakang dengan anak-anak Allah yang tidak taat, yaitu Adam dan Israel. Ingat bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38; bdk. Kej. 5:1–4), tetapi ia berusaha meraih kesetaraan dengan Allah dengan mengambil dan memakan buah terlarang. Namun, Yesus, yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, datang sebagai manusia, merendahkan diri-Nya, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:5–11). Demikian pula, Israel adalah anak Allah (Kel. 4:22; Hos. 11:1), tetapi Israel tegar tengkuk dan tidak taat. Roh membawa Israel ke padang gurun, di mana umat tidak taat karena mereka menganggap akan kekurangan makanan; tetapi ketika Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Ia dicobai oleh Iblis tiga kali, Ia taat dan setia. Sebagaimana yang pernah ditulis oleh bapa gereja Ambrosius dari Milan dalam ekpsosisinya tentang Injil Lukas, “Sungguh tepat dicatat bahwa Adam yang pertama diusir dari Firdaus ke padang gurun, agar kamu dapat melihat bagaimana Adam yang kedua kembali dari padang gurun ke Firdaus.” Ambrosius menekankan poin ini: “Adam membawa kematian melalui pohon. Kristus membawa kehidupan melalui pohon.” Yesus membawa masuk ciptaan baru yang seharusnya dimulai oleh Adam. Sementara Adam gagal dalam perjanjian kerja, Yesus berhasil melalui perjanjian anugerah untuk membawa keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dalam kata-kata penyair abad keenam belas, John Donne:
Kami berpikir bahwa Firdaus dan Kalvari,
Salib Kristus, dan pohon Adam, berdiri di satu tempat;
Lihatlah, Tuhan, dan temukan kedua Adam bertemu dalam diriku;
Sebagaimana keringat Adam pertama membasahi mukaku,
Kiranya darah Adam terakhir dirangkul oleh jiwaku.
Kita tidak dapat memahami perjanjian anugerah kecuali kita terlebih dahulu memahami perjanjian kerja. Demikian pula, kita tidak dapat memahami karya Adam yang terakhir kecuali kita memahami karya Adam yang pertama.


