
Apa itu Keluarnya Roh Kudus?
21 Agustus 2026
Apa yang Seorang Pastor Kerjakan?
26 Agustus 2026Dia Memelihara Kita
Selama beberapa minggu terakhir, saya terlibat dalam beberapa situasi bersama orang-orang yang membutuhkan perawatan. Ada titik tertentu dalam kehidupan banyak orang ketika mereka membutuhkan perawatan, dan hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran serta kecemasan yang nyata tentang masa depan. Sangat mudah merasa cemas ketika Anda bergantung pada orang lain dan menghadapi ketidakpastian; Anda tidak lagi memegang kendali. Di sisi lain, ada hak istimewa yang sangat besar dalam menjadi caregiver yang sering kali tidak dibicarakan dalam budaya kita, dan tentu saja tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dalam kedua kasus tersebut, Kitab Suci berbicara dengan penuh kuasa dan dengan penguatan yang besar bagi mereka yang dirawat dan juga bagi mereka yang merawat.
Saat saya berkhotbah tentang kerendahan hati berdasarkan 1 Petrus 5 baru-baru ini, saya terkejut bahwa orang yang rendah hati menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Tuhan karena Dia memelihara kita (1Ptr. 5:6–7). Allah adalah Sang Caregiver Agung. Kata “memelihara” yang digunakan Petrus adalah kata dalam bentuk present tense—Dia terus-menerus memelihara. Dia tidak pernah berhenti memelihara. Tidak ada hari libur; tidak ada hari di mana Dia tidak memelihara. Hal ini berbicara tentang memberikan perhatian, bertindak, menunjukkan kepedulian, dan berupaya keras. Begitulah cara Allah memperhatikan umat-Nya. Mazmur 8 mengungkapkannya dengan sangat kuat:
Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm. 8:5)
Saat saya masih kecil, ada sebuah lagu himne yang kami nyanyikan di sekolah minggu, “Allah yang Menciptakan Bumi” (God Who Made the Earth):
Allah, yang menciptakan bumi,
udara, langit, laut,
yang menjadikan terang:
Dia memelihara saya.
Tema kepedulian dan pemeliharaan ini mengalir sepanjang Alkitab. Ada seruan yang terus-menerus kepada umat Allah untuk “berhati-hati” dan “memperhatikan” dalam kaitan dengan perintah-perintah Allah. Yesus mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan bagaimana kita mendengarkan Firman Allah. Ia memperingatkan bahwa kekhawatiran dunia ini dapat mencekik Firman Allah (Mrk. 4:19). Sebagai orang percaya, kita harus saling memperhatikan (1Kor. 12:25). Para penatua di gereja Kristus ditugaskan untuk memperhatikan (LAI: menggembalakan) domba-domba Kristus (Kis. 20:28).
Semua perintah ini berada dalam konteks Allah yang memelihara anak-anak-Nya. Fakta bahwa Dia adalah Sang Pemelihara Agung seharusnya menjadi sumber penghiburan yang luar biasa bagi kita. Dalam Ulangan 11:12, bangsa Israel diberi tahu tentang warisan mereka, “Negeri itu dipelihara oleh TUHAN, Allahmu. Mata TUHAN, Allahmu, selalu mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” Dalam khotbah penyerahan tugas Musa kepada Yosua di akhir kitab ini, ia berkata kepada umat Allah:
Tetapi, bagian TUHAN ialah umat-Nya,
Yakub ialah milik pusaka yang ditetapkan-Nya.
Didapati-Nya dia di padang gurun,
di tengah ketandusan dan auman padang belantara.
Dikelilingi dan diawasi-Nya dia,
dijaga-Nya seperti biji mata-Nya. (Ul. 32:9–10)
Sangat mudah bagi para caregiver untuk merasakan beratnya beban tanggung jawab, untuk merasa tertekan oleh natur tugas merawat seseorang yang tak ada habisnya. Mengetahui bahwa Allah memahami hal itu merupakan penghiburan yang luar biasa. Pemazmur mengatakan kepada kita,
Ketika batinku kalut oleh pikiran-pikiran,
penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. (Mzm. 94:19)
Bagi mereka yang sedang dirawat, ada sebuah perasaan yang sering diungkapkan: “Saya tidak ingin menjadi beban.” John Stott menjelaskan hal ini dengan baik dalam bukunya The Radical Disciple:
Kadang-kadang saya mendengar orang-orang lanjut usia, termasuk orang-orang Kristen yang seharusnya lebih tahu, berkata, “Saya tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Saya senang bisa terus hidup selama saya masih bisa mengurus diri sendiri, tetapi begitu saya menjadi beban, saya lebih baik mati saja!” Namun, ini salah. Kita semua dirancang untuk menjadi beban bagi orang lain. Anda dirancang untuk menjadi beban bagi saya, dan saya dirancang untuk menjadi beban bagi Anda. Dalam kehidupan keluarga, termasuk kehidupan keluarga gereja lokal, seharusnya merupakan kehidupan yang “saling membebani.”
Dalam Markus 4, para murid mendapati diri mereka terjebak dalam badai yang mendadak dan dahsyat. Yesus sedang tertidur, dan para murid-Nya tidak dapat memahami mengapa hal itu bisa terjadi. Mereka membangunkan-Nya dengan pertanyaan, “Tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38). Ini adalah salah satu pertanyaan paling mengejutkan di seluruh Alkitab. Alasan utama mengapa Yesus datang ke dunia ini, alasan mengapa Dia berada di perahu itu, adalah karena Dia peduli. Dia begitu peduli sehingga Dia menukar kemuliaan surga—tempat Dia dipuja oleh para malaikat dan menikmati kebahagiaan kekal—untuk menjadi Manusia Sengsara, yang akrab dengan kesedihan, yang akan menanggung dosa dan kejahatan kita di kayu salib di Kalvari. Bertanya kepada-Nya, “Tidak pedulikah Engkau?” menunjukkan kesalahpahaman total tentang siapa Dia dan apa yang Dia hendak lakukan.
Marta mengajukan pertanyaan yang sama dalam Lukas 10. Merasa jengkel dengan saudarinya, Maria, karena Marta bekerja keras di dapur sementara Maria hanya duduk dan mendengarkan Yesus, ia bertanya, “Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (Luk. 10:40). Pertanyaannya itu menunjukkan bahwa ia belum memahami tujuan kedatangan Yesus dan prioritas-prioritas-Nya. Yesus tidak mungkin dapat menunjukkan kepedulian-Nya melebihi apa yang sudah Dia lakukan.
Kebenaran tentang pemeliharaan Allah adalah sesuatu yang harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh untuk meresapinya ke dalam diri kita. Anda bukanlah beban bagi Allah; Dia peduli dengan Anda. Membuat hal ini meresap hingga ke lubuk hati kita yang paling dalam akan mengubah diri kita. Kecenderungan alami kita sejak Taman Eden adalah menganggap bahwa Allah tidak peduli.
Yesus memperingatkan kita bahwa kekhawatiran dunia ini akan mencekik Firman Allah (Mrk. 4:19). Ia memahami kita dengan sempurna dan dengan tajam mengatakan kepada kita bahwa kekhawatiran dunia ini dapat membebani hati kita (Luk. 21:34). Kitab Suci memperingatkan kita di banyak tempat bahwa kita tidak perlu memedulikan pendapat orang lain. Oleh sebab itu, jawabannya adalah mendengarkan Firman-Nya dan mempercayainya.
Kita peduli tentang hal-hal dan orang-orang yang berharga bagi kita, dan Allah peduli pada kita karena kita berharga bagi-Nya dalam Anak-Nya. Jadi, serahkanlah kepedulian dan kekhawatiranmu kepada-Nya, karena Dia memelihara kamu. Lagu himne “Allah yang Mencipta Dunia” (God Who Made the Earth) karya Sarah Betts Rhodes mengingatkan kita:
Allah, yang mengutus Anak-Nya untuk mati di Kalvari,
Dia, jika aku bersandar pada-Nya, akan memeliharaku.


