
Bagaimana Saya Bisa Menjadi Seorang Ayah yang Saleh?
02 September 2025
Menelusuri Kisah Natal
18 September 2025Ikatan Kasih
Kita akan beroleh banyak manfaat dari Sakramen jika pemikiran ini dicamkan dan ditanamkan pada pikiran kita: bahwa jika ada seorang pun dari saudara seiman kita yang dilukai, dihina, ditolak, dilecehkan, atau disakiti, maka pada saat yang sama Kristus telah dilukai, dihina, dan dilecehkan oleh kesalahan-kesalahan yang kita lakukan; bahwa kita tidak dapat berselisih dengan saudara seiman kita tanpa pada saat yang sama berselisih dengan Kristus; bahwa kita tidak dapat mengasihi Kristus tanpa mengasihi-Nya dalam diri saudara seriman kita; bahwa kita seharusnya merawat tubuh saudara seiman kita seperti kita merawat tubuh kita sendiri; sebab mereka adalah anggota tubuh kita; dan karena tidak ada bagian tubuh yang bila disentuh dengan rasa sakit apa pun, yang tidak menyebar ke seluruh tubuh, maka kita tidak seharusnya mengizinkan saudara seiman kita mengalami hal yang buruk tanpa disentuh oleh belas kasihan kita kepadanya. Karena itu, dengan alasan yang baik Augustinus berulang kali menyebut Sakramen ini sebagai “ikatan kasih”.1
Bagi John Calvin, manfaat utama dari Perjamuan Kudus adalah menguatkan iman dan kesatuan kita dengan Kristus. Namun, persekutuan kita dengan Kristus tidak dapat dipisahkan dari persekutuan orang kudus. Mengikuti Augustinus, Calvin menyebut aspek “horizontal” dari Perjamuan Kudus ini sebagai “ikatan kasih”. Perjamuan Kudus adalah sesuatu yang menyatukan orang percaya dan mendorong mereka untuk saling mengasihi. Paulus memberitahu kita bahwa Kristus hanya memiliki satu tubuh yang di dalamnya Ia membuat kita semua mendapat bagian; karenanya, kita semua adalah satu tubuh (1Kor. 10:17). Menurut Calvin, roti Perjamuan memberi ilustrasi tentang kesatuan yang seharusnya kita miliki. Kita seharusnya disatukan bersama, tanpa terbagi-bagi, sama seperti banyak biji gandum dalam roti disatukan bersama untuk membentuk sebatang roti.
Namun, apa artinya hal ini? Calvin mengingatkan kita bahwa ketika kita berkumpul bersama sebagai orang percaya untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, bukan hanya kita seharusnya mengingat kematian Kristus, tetapi kita juga seharusnya mengingat orang-orang yang untuknya Kristus telah mati, yaitu saudara-saudari kita di dalam Kristus. Apakah Yesus mengasihi kita? Ia juga mengasihi mereka. Apakah Ia mati untuk kita? Ia juga mati untuk mereka. Apakah kita adalah bagian dari satu tubuh Kristus? Mereka juga. Apakah kita adalah anak-anak adopsi Allah? Mereka juga. Jadi, bagaimana mungkin kita gagal mengasihi dan peduli kepada mereka yang juga merupakan bagian dari tubuh Kristus? Perjamuan Kudus menanamkan kebenaran ini pada hati dan pikiran kita.
Nasihat Calvin secara khusus diperlukan dalam budaya yang mengusung slogan “Usahakan jadi nomor satu!” Budaya kita adalah budaya di mana mentalitas tangga karier telah menyusup dalam segala sesuatu. Para pria dan wanita dalam budaya kita tidak ragu untuk menginjak kaki orang lain dalam pengejaran gila untuk mencapai puncak. Meski Paulus menyuruh kita untuk “menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp. 2:3), mengagungkan dan mempromosikan diri merupakan sesuatu yang tetap umum bahkan di antara orang Kristen. Siapa pun akan kita lukai atau singkirkan selama kita bisa lebih unggul. Ini seharusnya tidak terjadi di antara orang Kristen.
Mungkin lebih buruk lagi adalah sikap apatis yang menyebar luas terhadap mereka yang menderita di antara kita. Ketika kita datang berkumpul untuk beribadah, kita beribadah bersama orang-orang yang terluka. Beberapa darinya sedang sakit. Beberapa sedang berduka. Beberapa sedang bergumul untuk memberi makan keluarganya. Beberapa tidak memiliki keluarga. Namun, terlalu sering kita tidak memperhatikan hal-hal ini. Kita terlalu mengkhawatirkan masalah kita sendiri sehingga tidak peduli terhadap masalah orang lain. Namun, Calvin mengingatkan kita bahwa ketika satu anggota tubuh merasa sakit, itu memengaruhi seluruh tubuh. Maka, ketika kita datang bersama untuk merayakan Perjamuan Kudus, ini seharusnya mengingatkan kita tentang kesatuan tubuh dan menggugah belas kasihan kita sehingga kita akan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk ikut menanggung beban saudara-saudari kita di dalam Kristus.
1 John Calvin, Institutes, 4.17.38.


