Sang Penyembuh Surgawi

27 Oktober 2026

Sang Penyembuh Surgawi

27 Oktober 2026

Memercayai Allah

Seberapa sering Anda mendengar (atau mengucapkan) kata-kata ini: “Hal ini membutuhkan mukjizat”? Entah itu kasus yang sepele menyangkut tim olahraga favorit yang hampir kalah atau situasi lain yang jauh lebih mendesak dan berbahaya, orang sering kali memohon intervensi ilahi. Sebagai orang Kristen, kita mengerti bahwa kita membutuhkan kuasa Allah bahkan untuk bernapas. Namun, ada situasi-situasi tertentu di dalam kehidupan di mana kita memerlukan sesuatu yang luar biasa. Allah harus bekerja dengan cara yang ajaib, atau kita akan mengalami kesakitan atau kehilangan.

Seperti Maria dan Marta

Apa yang terjadi ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi tepat saat dibutuhkan? Maria dan Marta sangat membutuhkan Yesus untuk datang dan menyembuhkan saudara yang mereka kasihi, Lazarus (Yoh. 11:1-3). Ketika kita merenungkan kisah yang sudah akrab ini, pikiran kita cenderung langsung melompat ke akhirnya, yaitu ketika Yesus datang dan membangkitkan Lazarus dari kematian (ay. 43-44). Namun, sebelum kebangkitan yang luar biasa itu terjadi, Maria dan Marta mengalami kekecewaan tidak mendapatkan penyembuhan yang mereka dambakan pada waktu mereka memintanya. Ketika Yesus akhirnya tiba di desa mereka, Marta menjumpai-Nya di luar rumah dan berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ay. 21). Maria menggemakan perkataan tersebut ketika melihat Yesus (ay. 32). Perkataan mereka adalah teguran yang penuh rasa sakit terhadap Tuhan Yesus. Maria dan Marta percaya bahwa mereka bisa (dan mungkin seharusnya) menerima pelayanan penyembuhan, tetapi sekarang sudah terlambat. Mereka tidak tahu bahwa pelayanan yang lebih besar akan segera terjadi. Namun, pada waktu itu, mereka marah dan kecewa.

Karya supranatural yang dibutuhkan untuk kehidupan dan kesehatan orang-orang yang kita kasihi bukan satu-satunya hal yang sering kali tidak terjadi. Banyak pernikahan memerlukan karya penyembuhan relasional yang luar biasa pada salah satu atau kedua pasangan suami-istri untuk melihat adanya pertumbuhan dan kehidupan baru. Orang tua Kristen dapat merasakan kepedihan karena anak-anak yang hidup menyimpang, sedangkan iman dan keselamatan belum datang bahkan setelah bertahun-tahun berdoa. Penderitaan emosional, mental, dan relasional yang berkepanjangan juga dapat bergabung dengan kekecewaan karena karya Allah yang tidak diterima. Pada masa-masa demikian, respons yang ditunjukkan oleh Maria dan Marta menjadi masuk akal bagi kita. “Di manakah Engkau, Tuhan, ketika saya membutuhkan Engkau?” Orang Kristen yang membaca kisah-kisah Alkitab memahami bahwa Allah sepenuhnya sanggup mengerjakan permohonan yang penuh iman tersebut. Maka, kita bisa dengan mudah menjadi kecewa dan putus asa ketika sepertinya mendapat penolakan tegas dari Tuhan. Bagaimana kita akan merespons ketika kita tahu bahwa Allah dapat melakukan sesuatu yang ajaib tetapi tidak melakukannya? Bagaimana kita akan memuliakan Allah dan tetap menjadi anak-anak yang taat penuh iman ketika keajaiban itu tidak terjadi?

Teologi Kita Itu Penting

Respons yang benar dimulai dengan pemahaman yang kuat tentang teologi yang benar. Orang Kristen mencari mukjizat karena kita tahu bahwa Allah itu Mahakuasa dan sepenuhnya mampu melakukan segala sesuatu. Namun, keyakinan pada kemahakuasaan-Nya harus terikat erat dengan keyakinan akan kemahatahuan-Nya, yaitu fakta bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Tanpa sadar kita sering kali bertindak seolah-olah kitalah yang mahatahu dan entah bagaimana Allah melewatkan sesuatu ketika Ia tidak bertindak dengan penuh kuasa. Ini jelas sangat salah. Kenyataan yang harus kita yakini adalah bahwa Allah tahu persis apa yang dibutuhkan dalam segala situasi. Itu sebabnya kita bisa berkata bersama Paulus bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya (Flp. 4:19).

Kemudian kita menambahkan kebenaran teologis bahwa Allah itu baik secara sempurna. Allah yang dapat melakukan mukjizat dan tahu persis kapan mukjizat itu dibutuhkan tidak akan menjadi penghiburan bagi kita tanpa kenyataan bahwa Ia melakukan segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya. Meragukan kebaikan Allah sering kali mendasari respons kita yang penuh amarah terhadap mukjizat yang tidak terjadi. Kita bisa mulai berpikir tentang Allah dengan cara kita memandang orang-orang yang pernah mengecewakan kita. Ketika mengalami penderitaan, kita harus tetap meyakini bahwa Allah itu baik, dan mengasihi anak-anak-Nya yang terluka. Kebenaran-kebenaran pokok ini berada dalam kategori yang lebih luas, yaitu pemeliharaan Allah yang bijaksana dan berdaulat, kepedulian, pengawasan, dan pemerintahan-Nya yang terus-menerus atas segala sesuatu. Sebagai makhluk ciptaan yang terbatas, kita membutuhkan Allah yang tidak terbatas, yang mengawasi segala ciptaan. Ia bukan Pencipta yang menghilang setelah menciptakan dan menyerahkan pengaturan atas segala sesuatu kepada kita. Bila mukjizat tidak terjadi, bukan berarti Allah tidak memelihara atau gagal memperhatikan kita dengan baik. Ia mungkin tidak memberi sesuai dengan apa yang kita harapkan atau inginkan, tetapi Ia tetap memelihara. Menyadari dan meyakini siapa Allah sesungguhnya, sesuai dengan teologi yang benar berdasarkan Alkitab, akan mengarahkan cara kita menanggapi mukjizat yang kita dambakan.

Meski meyakini kebenaran-kebenaran mendasar tentang Allah adalah persis apa yang hati kita butuhkan ketika gagal mendapatkan mukjizat, kita tetap harus berurusan dengan emosi kita. Ada rasa sakit, kesedihan, dan duka yang nyata yang tidak hilang secara otomatis. Apa yang harus kita lakukan terhadap emosi-emosi yang kuat ini serta kenyataan yang harus kita hadapi ketika mukjizat tidak terjadi? Allah yang berdaulat dan memegang kendali adalah Allah yang sama yang menghibur kita dalam kedukaan kita.

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berasa dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. (2Kor. 1:3-4)

Sama seperti kita datang kepada Allah dengan permohonan-permohonan kita, kita juga berulang kali datang kembali kepada-Nya untuk mendapatkan penghiburan ketika penderitaan tetap ada dan kesedihan tidak kunjung hilang. Sekali lagi, teologi kita itu penting. 

Memercayai Allah Apa Pun yang Terjadi

Apakah Anda memerlukan kesembuhan jasmani, perbaikan relasi, atau pemulihan kondisi mental dan emosional, percayalah kepada pemeliharaan Allah apa pun yang terjadi. Namun, perhatikan juga pertolongan yang tidak pernah Anda duga atau Anda pikir Anda perlukan dari Tuhan: karya luar biasa yang mengubah hati. Mengubah hati adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah dengan kuasa ilahi-Nya. Hanya Ia yang dapat menghidupkan hati yang telah mati dan penuh dosa. Hanya Ia yang dapat melembutkan hati kita ketika hati kita telah menjadi keras. Hanya Ia yang dapat menghancurkan berhala-berhala yang kerap diciptakan oleh hati kita. Inilah intervensi ilahi yang sering kali tidak kita minta tetapi sesungguhnya kita butuhkan dalam segala situasi. Perhatikan bagaimana Allah secara mukjizat mengubah hati sekalipun hal-hal yang lain tidak terjadi. Allah tahu persis apa yang kita butuhkan—dan kita selalu memerlukan perubahan lebih lanjut dari hati, pikiran, dan jiwa.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

John Kwasny

John Kwasny

Dr. John C. Kwasny adalah direktur pelayanan eksekutif pada Pear Orchard Presbyterian Church di Ridgeland, Mississippi, direktur eksekutif dari One Story Ministries, dan dosen tamu bidang konseling pastoral di Reformed Theological Seminary di Jackson, Mississippi. Ia telah menulis beberapa buku, termasuk: Suffering in 3-D: Connecting the Church to Disease, Disability, and Disorder.