
Pujilah Tuhan dengan Seluruh Hidupmu
22 Oktober 2026Sang Penyembuh Surgawi
Ayat-ayat Alkitab tertentu mungkin telah sering Anda baca selama bertahun-tahun, tetapi rentetan situasi tertentu menyebabkan sebuah ayat muncul di pikiranmu dan menetap di sana sebagai salah satu ayat rujukan “favorit” mu. Begitulah yang saya alami dengan Mazmur 147:3: “Ia menyembuhkan orang yang hancur hatinya dan membalut luka-luka mereka.”
Saya baru saja mendapat berita tentang kepergian seseorang yang telah menjadi sahabat yang saya kasihi selama bertahun-tahun. Ia adalah salah satu pemain sepak bola saya di kampus sekitar empat puluh tahun lalu. Ia terus menjaga hubungan dengan saya selama bertahun-tahun, dan kami menikmati saling membagi berita tentang anak-anak kami saat mereka bertumbuh dewasa. Penyakit kanker merenggut nyawanya, tetapi saya tahu bahwa meski sahabat saya tidak lagi ada di dalam tubuhnya, ia ada bersama dengan Tuhan. Saya ingin membagikan kata-kata penghiburan dari Alkitab kepada istrinya. Allah mengingatkan saya akan ayat ini, dan sejak saat itu, ayat ini menjadi sangat istimewa bagi saya.
Siapakah yang hancur hati dan terluka di dalam ayat ini? Itu adalah kita. Kita emosional, rapuh, dan hidup di dunia yang telah rusak. Kita melihat sidik jari Allah di mana-mana dalam ciptaan-Nya yang indah ini, tetapi kita juga melihat dan mendengar rasa sakit dan kesedihan yang juga ada di mana-mana. Ada banyak penyebab hati yang hancur, dan ada banyak jenis luka yang kita alami, dan tidak semuanya kasat mata. Perkataan yang sering kali kita dengar, yaitu “waktu menyembuhkan semua luka”, ternyata tidak benar.
Di dalam Mazmur 147, sang Penyembuh surgawi disebutkan sebanyak tujuh kali sebagai Tuhan, yaitu Dia yang eksis pada diri-Nya sendiri, Allah kita yang memelihara perjanjian-Nya. Secara dramatis, mazmur ini menampilkan Dia sebagai Pencipta yang Mahakuasa. Ia menciptakan segala sesuatu, dari yang terbesar hingga yang terkecil. Diperkirakan ada dua ratus miliar triliun bintang di seluruh alam semesta. Ayat 4 menyatakan bahwa Ia tidak hanya menciptakan semuanya, tetapi juga “menyebut namanya satu per satu”. Ia menciptakan awan (ay. 8), begitu menakjubkan dalam variasi dan keagungannya. Betapa menariknya bahwa sang pemazmur juga mengarahkan perhatian kita kepada tetesan hujan dan kepingan salju yang kecil (ay. 8, 16). Hal-hal besar tidak terlalu besar bagi Penyembuh surgawi kita untuk ditangani; begitu juga hal-hal kecil tidak terlalu sepele bagi-Nya untuk diperhatikan. Ia adalah Tuhan yang lemah lembut bagi umat-Nya yang terluka. Tidak ada luka yang begitu hebat yang tidak bisa Ia sembuhkan. Yesaya 53:4 berkata, “Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul, dan disakiti Allah.” Ia membalut luka-luka yang kelihatan oleh semua orang, serta luka-luka yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Kebenaran yang indah ini mengajak kita untuk melakukan apa? Memuji Dia. Kata-kata pujian menjadi pembuka dan penutup dari mazmur ini, sebagaimana lima mazmur terakhir. Charles Spurgeon mengatakan, “Aliran sungai yang lebar dari Kitab Mazmur berakhir dengan air terjun pujian.” Mazmur 147 berkata bahwa memuji Tuhan itu “baik” dan “indah” (ay. 1). Seharusnya tidak pernah ada hari di dalam hidup kita yang tanpa pujian. Membaca Alkitab, terutama Mazmur, akan menstimulasi pujian yang konstan.


