Memercayai Allah

29 Oktober 2026

Memenuhi Kebutuhan di Gereja

05 November 2026

Memercayai Allah

29 Oktober 2026

Memenuhi Kebutuhan di Gereja

05 November 2026

Apa yang Mereka Takuti Janganlah Kamu Takuti

Di dalam Yesaya 8, ada sebuah frasa yang sangat mencolok bagi telinga kita di abad ke-21: “Jangan anggap persekongkolan segala yang disebut bangsa ini persekongkolan, apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar” (ay. 12). Perkataan ini terasa seperti baru ditulis kemarin.

Yesaya berkhotbah kepada umat Allah, yaitu Yehuda, pada masa pemerintahan Raja Ahas yang jahat. Bangsa-bangsa di sekitar mereka bersikap bermusuhan, dan Allah telah memanggil, menugaskan, dan mengutus nabi-Nya, Yesaya, tetapi umat-Nya tidak mau mendengar. Yehuda sedang menghadapi krisis internasional. Raja Ahas berada di bawah tekanan untuk bersekutu dengan Israel dan Aram untuk melawan Asyur. Ahas menolak aliansi tersebut; akibatnya, Yehuda diserang, lalu Allah mengutus Yesaya kepada Ahas untuk mengatakan, “Engkau tidak perlu takut; engkau hanya perlu percaya kepada-Ku.”

Di dalam Yesaya 8, nabi tersebut diberi tiga nubuat langsung dari Tuhan. Di akhir pasal itu, ia menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menanggapi Tuhan. Secara mengejutkan, ia berkata bahwa jawaban terhadap rasa takut adalah rasa takut. Allah meyakinkan kita bahwa rasa takut itu memang nyata bagi Yesaya dan umat tersebut, tetapi intinya bagi mereka dan kita adalah ini: Siapakah yang kita takuti?

Kita hidup dalam zaman penuh ketakutan, di mana media membuat segala sesuatu terasa seperti bencana; dari persoalan ekonomi, cuaca, perang, hingga pemilihan umum. Selain itu, selama lima tahun terakhir, para pendukung teori konspirasi telah mengemuka. Ketidakpercayaan dan keraguan sedang populer, dan otoritas sepenuhnya diremehkan. Teori ini memanfaatkan keinginan manusia untuk selalu tahu. Percaya pada teori konspirasi memberi makan kepada kesombongan kita bahwa kita tidak seperti orang lain karena kita benar-benar melihat kebenaran yang hanya dilihat oleh segelintir orang.

Di dalam Yesaya 8:10 kita diberitahu bahwa siasat bangsa-bangsa pada akhirnya akan mengalami kegagalan: “Susunlah siasat, pasti akan gagal! Ambillah keputusan, pasti tidak akan terlaksana! Sebab, Allah beserta kami!” Tantangannya adalah apakah kita akan terus-menerus memandang Allah sebagai sungai keselamatan yang memberi hidup?

Konteks dekat dari ayat 11 berbicara tentang tangan Tuhan yang kuat: “Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, siaplah berperang, dan kamu akan terkesiap!” (ay. 9). Ini adalah gambaran yang indah tentang kekuatan pribadi Tuhan. Ia tidak pernah bolos. Allah tahu dan terlibat secara pribadi dalam dunia ini demi mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya, maka umat Allah hendaknya hidup di dalam Firman-Nya.

Israel dikepung oleh bangsa-bangsa musuh, musuh-musuh dari dalam, dan ketakutan dari luar. Dalam situasi inilah Allah berfirman. Ia dengan jelas menyuruh umat untuk menjadikan diri-Nya sendiri objek dari rasa takut mereka. Para penulis himne di masa lalu memahami hal ini dengan cara yang tidak lagi dipahami oleh gereja zaman ini. Melalui lagu “Ajaib Benar Anugerah” kita berkata, “Demikianlah anugerah yang mengajar hatiku untuk takut, dan anugerah melepaskan rasa takutku.” Yesaya berbicara tentang paranoia yang dapat ditimbulkan oleh persekongkolan itu: “Jangan tunduk kepadanya; jangan percaya kepada Asyur sebagai negara adidaya; percayalah kepada Tuhan. Gantikan rasa takut terhadap musuhmu dengan rasa takut yang sejati kepada Allah. Rasa hormat terhadap Tuhan muncul dari tindakan memperlakukan Dia sebagai kudus dan terpisah, berbeda dari semua yang lain, dari segala ilah dan manusia. Ia berhak memerintah dan mengarahkan kita.”

Bagi mereka yang melakukan hal itu, Tuhan akan menjadi tempat kudus mereka (Ia akan melindungi mereka)—sebuah tempat berlindung di tengah badai. Hanya Tuhan yang mendatangkan keselamatan di tengah kekacauan, kehancuran, dan penganiayaan. Namun, bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, Ia menjadi seperti batu besar di jalan mereka, yang akan membuat mereka tersandung dan jatuh.

Intinya adalah Anda tidak dapat mengabaikan Tuhan. Entah Ia menjadi Juru Selamat Anda atau penghalang bagi Anda; tempat perlindungan atau batu sandungan.

Perjanjian Baru melanjutkan gambaran tersebut. Perkataan dalam 1 Petrus 3:14-15 adalah, “Janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar. Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Atau, menurut perkataan di dalam Yesaya 8, “Apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti.” Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita tidak boleh takut terhadap ilah-ilah palsu, kemungkinan penganiayaan, rasa sakit, atau bahkan kematian. Kita tidak perlu mengikuti konspirasi-konspirasi di zaman ini. Kita memandang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Allah, yaitu Dia yang telah menebus kita melalui kematian-Nya dan bangkit dari kematian untuk membagikan warisan kekal bagi kita.

Petrus melanjutkan dengan memerintahkan kita untuk percaya kepada firman Allah dengan hati nurani yang bersih (1Ptr. 3:15-16). Jadi, tidak ada konspirasi atau kebenaran tersembunyi di sini.

Yesus ini, yang melalui kematian-Nya menjadi Batu Penjuru, juga adalah Batu yang membuat banyak orang tersandung dan jatuh. Penghakiman yang dinubuatkan Yesaya bagi mereka yang akan menolak perlindungan Allah di dalam Yesaya 8 sekarang berlaku bagi mereka yang menolak Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan. Batu ini bermata dua: entah Yesus menjadi perlindungan Anda atau kehancuran Anda.

Ini bisa menjadi sumber keyakinan besar bagi kita orang Kristen. Kita bisa saja dikepung oleh ketakutan dan kecemasan, tetapi di dalam hati kita, kita bisa merasa tenang dan bersekutu dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hal ini dapat ditemukan di dalam kehidupan bersama Allah dan di dalam Allah. Umat Allah tidak lepas dari rasa takut dan gentar, tetapi rasa takut dan gentar itu tertuju kepada Tuhan. 

Hidup kita tidaklah pasti, dan budaya yang di dalamnya kita hidup sedang mengalami disintegrasi. Hati dan daging kita mudah sekali menyerah kepada ketakutan, tetapi umat Allah di setiap generasi harus takut kepada Allah dan menjadikan Allah pusat dalam pikiran, gaya hidup, dan pengabdian kita. Sementara kita melakukan itu, kita hendaknya percaya dan bergantung pada-Nya, melihat kedaulatan-Nya, tangan-Nya yang penuh anugerah di dalam dan atas hidup kita.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Paul Levy

Paul Levy

Pdt. Paul Levy adalah pendeta di International Presbyterian Church Ealing di West London.