
Menggembalakan Anak-Anak melalui Kesulitan dan Ujian
04 November 2025
5 Cara untuk Mengejar Kepuasan
11 November 2025Berduka atas Kehilangan Orang yang Dicintai
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan orang yang dicintai. Kita tidak diciptakan atau dirancang untuk mengalami perpisahan dengan orang-orang yang kita sayangi. Kematian adalah akibat dosa dan bukan bagian dari tatanan penciptaan semula (Rm. 5:12)—tak heran jika hal itu menyebabkan begitu banyak kepedihan ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Jiwa kita menjerit untuk mendengar suara dari orang-orang yang kita cintai, merasakan tangan mereka merangkul kita, menatap mata mereka dan kembali tenggelam dalam jiwa mereka. Rasa sakitnya begitu luas, menyesakkan, dan sering kali tak terlukiskan. Rasa sakit itu seperti badai topan dari luka, ketakutan, kesedihan, dan amarah. Dan jika kita tidak berhati-hati, rasa sakit itu bisa menguasai kita. Bagaimana seorang percaya dapat melewati kehilangan orang yang dicintai dengan baik?
Pertama, Anda harus menyadari apa yang mungkin akan Anda hadapi. Banyak upaya telah dilakukan untuk menggambarkan seperti apa proses berduka itu, tetapi saya menemukan bahwa analogi tentang badai tampaknya sangat membantu. Ini adalah gambaran alkitabiah—baik secara harfiah (Yun. 2:3) maupun kiasan (Mzm. 42:8; 88:8). Ketika kita secara alami berbicara tentang merasa kewalahan oleh kesedihan, kita sering menggambarkannya sebagai perasaan “tenggelam.” Maka ketahuilah bahwa menjalani kedukaan atas orang yang dicintai adalah seperti melewati lautan yang ditimpa badai. Ada saat-saat ketika ombak tampak terlalu besar, seolah-olah kita tidak akan pernah sampai ke pantai asing dari penerimaan.
Namun, inilah momen ketika nasihat Paulus kepada jemaat Tesalonika menjadi sangat menolong:
Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa dengan perantaraan Yesus, Allah akan mengumpulkan bersama-sama dengan Dia mereka yang telah meninggal. (1Tes. 4:13–14).
Seperti sekoci yang tak mungkin tenggelam, tak peduli seberapa tinggi gelombang dukacita—meski sepertinya setinggi gunung—Kristus tidak akan membiarkan Anda tenggelam. Ia telah mengalahkan maut (1Kor. 15:55). Dan meskipun rasa sakit karena rindu dan kehilangan seolah-olah tak berujung, Kristus menjamin kita melalui kematian-Nya sendiri bahwa hal itu hanya untuk sementara waktu, sebab akan datang hari ketika maut dan air mata tidak akan ada lagi (Why. 21:4).
Jika benar bahwa kematian hanyalah sementara dan Kristus telah mengklaim kemenangan, mengapa rasa sakitnya masih begitu mendalam? Mengapa badai itu begitu dahsyat dan mengerikan? Singkatnya, perpisahan dengan orang yang kita cintai oleh kematian bertentangan dengan sifat dari jiwa itu sendiri. Dukacita yang kita rasakan adalah tangisan jiwa kita ketika sebagian dari jiwa kita sendiri seakan terhilang. Bahkan Kristus sendiri menangis ketika kematian merenggut sahabat-Nya, Lazarus (Yoh. 11:35). Jika Kristus, meskipun Dia tahu bahwa Dia akan membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:23), menangis melihat kematian menimpa orang yang dicintai, bagaimana mungkin kita tidak menangis? Bagaimana mungkin jiwa kita tidak berteriak dalam kepedihan atas keadaan dunia yang jatuh ini, yang membuat kita akan terpisah untuk sementara waktu dengan orang-orang yang kita cintai?
Nah, badai mungkin memiliki ciri-ciri yang serupa (hujan, gelombang, angin, kilat, dan guntur), tetapi ketika kita melihat detailnya, setiap badai itu unik. Begitu pula cara setiap orang berduka akan unik bagi dirinya dan orang yang atasnya dia berduka. Misalnya, cara seseorang berduka atas kematian orang tua akan berbeda dengan cara dia berduka atas kematian kakek-neneknya. Dua saudara kandung, seberapa pun miripnya, juga akan berduka atas kehilangan tersebut dengan cara yang berbeda satu sama lain. Setiap orang harus mengarungi laut yang bergelora dengan kecepatannya sendiri. Namun arahnya sama: Kristus adalah kompas kita. Kita menavigasi menuju keyakinan yang lebih kuat akan kemampuan, belas kasihan, dan penghiburan Kristus. Semakin seseorang berpegang erat pada salib—bahkan jika hanya dengan kuku jari—semakin besar harapan yang akan dia miliki ketika badai akhirnya berlalu. Paulus mengingatkan jemaat Roma bahwa penderitaan adalah pabrik harapan (Rm. 5:3–5), dan tidak ada penderitaan yang sebanding dengan kehilangan orang yang dicintai.
Terakhir, meskipun jalan setiap seorang Kristen unik, orang percaya tidak pernah sendirian. Allah tahu bagaimana rasanya ketika orang yang dicintai menghadapi kematian. Seluruh alam seolah-olah menjerit bersama Bapa ketika Kristus menghadapi kematian di kayu salib. Lukas melaporkan bahwa selama tiga jam ketika Kristus disalibkan, bahkan matahari tidak bersinar (Luk. 23:44–45). Meskipun waktu yang dibutuhkan untuk melewati badai mungkin terasa selamanya, ada tangan yang kokoh yang memegang kemudi. Tangan dengan bekas paku akan membawa Anda ke sisi seberang (Yoh. 20:27). Sementara ini, Dia berjanji tidak akan pernah mengabaikan Anda atau meninggalkan Anda (Ibr. 13:5)—bahkan ketika Anda merasa sendirian dan ditinggalkan. Dia tidak asing dengan rasa sakit yang Anda rasakan. Dia pun pernah melewati badai ini, dan Dia tahu cara melewatinya.
Berduka atas kehilangan orang yang dicintai adalah proses menyakitkan yang membutuhkan waktu. Rasa sakit itu tak terhindarkan saat jiwa kita menyadari ketidakhadiran mereka. Kepedihan layaknya topan bisa terasa begitu dahsyat hingga seolah akan menghancurkan kita. Namun, Firman Allah memberitahu kita bahwa ketika kita berada di titik terendah, kita perlu berseru kepada-Nya dan Firman-Nya untuk kekuatan (Mzm. 119:28). Firman Allah memberitahu kita bahwa kematian adalah sementara, dan Kristus telah menang. Sementara ini, kita dapat menyerahkan diri kepada-Nya, dan Dia akan memimpin kita, menuntun kita, bahkan memberi kita istirahat (Mat. 11:28–30).


