Berduka atas Kehilangan Orang yang Dicintai
06 November 2025
Apakah Allah Selalu Berkenan pada Orang Kristen?
13 November 2025
Berduka atas Kehilangan Orang yang Dicintai
06 November 2025
Apakah Allah Selalu Berkenan pada Orang Kristen?
13 November 2025

5 Cara untuk Mengejar Kepuasan

Kapan terakhir kali Anda melihat diri Anda di cermin dan ingin mengubah apa yang Anda lihat? Dalam sebulan terakhir, tentang apa Anda berkata, “Saya ingin itu?” Ketika teman Anda mendapatkan promosi, produk, atau prestise yang menurut Anda seharusnya Anda dapatkan, apa reaksi Anda?

Kebanyakan orang merasa sangat sulit untuk merasa puas. Kepuasan sulit dicapai karena kita adalah manusia yang telah jatuh yang hidup dalam dunia yang telah jatuh. Kita tidak lagi hanya menyembah kepada Allah dan bekerja untuk kemuliaan-Nya. Hingga Yesus kembali, kita akan terus berjuang melawan keinginan untuk menginginkan Kristus plus seseorang atau sesuatu yang lain. Namun, bersemangatlah. Jika Anda disatukan dengan Kristus oleh iman, Anda dapat benar-benar, meskipun tidak sempurna, merasa puas. Alkitab mengajarkan setidaknya lima cara untuk mengejar kepuasan.

1. Bersukacitalah di dalam Tuhan.

Karena “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23), hati kita tidak lagi menyembah hanya Allah saja. Kita telah “menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya” (Rm. 1:25). Oleh karena itu, jika kita ingin mengejar kepuasan, kita harus kembali menyembah hanya Allah saja. Terlepas dari keadaan kita, kita harus bersukacita di dalam Tuhan:

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, . . .
aku akan bersukacita di dalam TUHAN,
bersorak-sorai di dalam Allah Penyelamatku. (Hab. 3:17–18)

2. Percayalah kepada Tuhan.

Salah satu alasan mengapa kita sulit merasa puas adalah karena kita tidak benar-benar percaya bahwa Allah mengasihi kita dan turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan kita (Rm. 8:28). Namun, ketika kita melihat “betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1) dan percaya bahwa “Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah” (Rm. 8:28), maka kita dapat bersandar dalam rencana-Nya bagi hidup kita. Karena Dia telah “menentukan musim-musim bagi [kita] dan batas-batas kediaman [kita]” (Kis. 17:26), kita dapat berhenti mencoba mengendalikan siapa kita dan apa yang kita miliki, dan sebaliknya, kita dapat merasa puas dengan kebenaran bahwa Tuhan adalah Raja atas segalanya, termasuk hidup kita:

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik . . .
Bersukalah dalam TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu hasrat hatimu. (Mzm. 37:3–4)

3. Peliharalah perspektif kekekalan.

Jika kita hidup untuk hal-hal dunia ini, kita tidak akan pernah puas. Yesus menasihati para pengikut-Nya, “kumpulkanlah bagimu harta di surga, yang tidak dirusak oleh ngengat dan karat, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat. 6:20–21). Paulus mengajarkan kepada Timotius, “Memang kesalehan itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab, kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar” (1Tim. 6:6–7). Alih-alih mengejar kesenangan dunia ini, kita seharusnya mengejar “keadilan, kesalehan, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan” dan “rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil” (1Tim. 6:11–12).

4. Biarkan kelemahanmu meninggikan kuasa Kristus.

Jika kita jujur, kita tidak suka menjadi lemah. Banyak dari kita telah dididik untuk menyembunyikan kelemahan kita dan memperlihatkan kekuatan kita. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa “jika aku lemah, aku kuat” (2Kor. 12:10). Hal ini karena kelemahan kita memperlihatkan kecukupan anugerah Kristus, dan kuasa Kristuslah yang “dalam kelemahan … menjadi sempurna” (2Kor. 12:9). Oleh karena itu, kita dapat “puas (LAI: senang dan rela) di dalam kelemahan” (2Kor. 12:10).

5. Jangan mengingini apa yang dimiliki orang lain.

Adalah sangat menggiurkan untuk melihat kepada anggota keluarga, teman, anggota gereja, tetangga, dan rekan kerja, lalu menginginkan apa yang mereka miliki. Kita sering bertanya-tanya mengapa Allah menahan dari kita persis hal-hal yang kita doakan, terutama ketika hal-hal itu tampak baik dan benar untuk dimiliki, seperti pasangan hidup atau anak-anak. Namun, Alkitab mengajar kita bahwa Allah telah menentukan musim hidup setiap orang, serta “batas-batas kediaman mereka” (Kis. 17:26). Apa yang terbaik dari semuanya adalah, dalam momen dan tempat yang telah ditentukan bagi kita, Allah ingin kita mencari-Nya karena “Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab, di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:27–28).

Kita juga dapat tergoda untuk melihat karunia-karunia orang lain dan menginginkannya, tetapi “kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus” dan Dialah yang “memberikan pemberian-pemberian kepada manusia . . . bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:7–8, 12). Oleh karena itu, kita dapat yakin bahwa kita telah memiliki pemberian-pemberian (karunia-karunia) yang Kristus maksudkan bagi kita dan tidak perlu mengingini karunia orang lain. Sebaliknya, kita dapat mendorong orang lain untuk mengelola dengan baik karunia-karunia yang telah mereka terima, sehingga “Allah dimuliakan … melalui Yesus Kristus” (1Ptr. 4:10–11).

Pada akhirnya, ketidakpuasan kita adalah terhadap Allah, yang telah menetapkan keadaan kita. Jika Anda sedang berjuang melawan dosa ini hari ini, ingatlah untuk bersukacita dan percaya kepada Tuhan, peliharalah perspektif kekekalan, biarkan kelemahan Anda meninggikan kuasa Kristus, dan jangan mengingini apa yang orang lain miliki. Kemudian, dengan anugerah Allah, kamu akan dapat bersaksi, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan . . . Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:11, 13).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Sarah Ivill
Sarah Ivill
Sarah Ivill (Th.M, Dallas Theological Seminary) adalah seorang pengajar Alkitab dan pembicara dalam konferensi, yang tinggal di Matthews, North Carolina, bersama dengan suami dan empat anaknya, dan merupakan anggota dari Christ Covenant Church (PCA). Ia adalah penulis berbagai buku dan bahan-bahan Pendalaman Alkitab, termasuk The God Who Hears dan Luke: That You May Have Certainty Concerning the Faith. Untuk mengetahui lebih banyak, kunjungi www.sarahivill.com.