Berdoa Mengikuti Mazmur 51
18 Juli 2023
Konteks-Konteks yang Penting untuk Memahami Teologi Reformed
25 Juli 2023
Berdoa Mengikuti Mazmur 51
18 Juli 2023
Konteks-Konteks yang Penting untuk Memahami Teologi Reformed
25 Juli 2023

Apakah Allah Menghukum Kita karena Dosa Orang Tua Kita?

Ada kalanya Alkitab sepertinya bertentangan dengan dirinya sendiri mengenai apakah kita dihukum karena dosa orang tua kita—terkadang bahkan dalam kitab yang sama. Sebagai contoh, perintah yang kedua melarang kita menyembah Allah melalui patung karena Ia adalah “Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya, sampai kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Tetapi, Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu keturunan, kepada mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Kel. 20:5-6; Ul. 5:9-10). Kita juga membaca di dalam Kitab Bilangan bahwa Allah “sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman; Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, sampai kepada keturunan ketiga dan keempat” (Bil. 14:18). Namun, di dalam Kitab Ulangan kita membaca “Ayah tidak boleh dihukum mati karena anaknya; juga anak tidak boleh dihukum mati karena ayahnya. Setiap orang dihukum mati hanya karena dosanya sendiri” (Ul. 24:16).

Berabad-abad kemudian, Yehezkiel memperingatkan, “Orang yang berbuat dosa, dialah yang harus mati. Anak tidak akan ikut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan ikut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima buah kebenarannya, dan orang fasik akan menanggung akibat kefasikannya” (Yeh. 18:20). Serupa dengan itu, Yeremia menubuatkan hari ketika “orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah yang mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu” (Yer. 31:29). Jadi, yang mana yang benar? Apakah Allah menghukum anak-anak karena dosa-dosa ayah mereka? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”. Mari kita menyelesaikan jawaban “ya” dahulu.

Adam, Kepala Federal, dan Dosa Asal

Allah memang menghukum kita karena dosa-dosa orang tua pertama kita (baca Rm. 5:12-14; 1 Kor. 15:22). Ini dikarenakan peran perjanjian yang dijalankan Adam sebagai kepala federal dalam perjanjian kerja prelapsarian. Adam secara unik mewakili semua keturunannya sedemikian rupa sehingga ketika orang tua pertama kita jatuh ke dalam dosa, mereka mengakibatkan hukuman tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi keturunan mereka—semua orang yang akan dilahirkan ke dalam dunia melalui garis keturunan yang umum (baca Westminster Shorter Catechism 13-17). Pengakuan Iman Westminster memberi penjelasan tentang orang tua pertama kita dan dosa asal, “Karena mereka adalah akar dari seluruh umat manusia, kesalahan atas dosa ini diperhitungkan, dan kematian yang sama dalam dosa, dan hakikat yang rusak, diteruskan ke semua keturunan mereka yang diturunkan dari mereka melalui garis keturunan yang umum” (PIW 6.3). Maka, satu-satunya cara agar kita dapat dilepaskan dari dosa dan penderitaan yang diakibatkan oleh orang tua pertama kita adalah kita dipersatukan dengan iman kepada sang Kepala yang setia, Tuhan Yesus Kristus. Jadi, menyangkut orang tua federal kita, Allah menangani kita sesuai dengan dosa atau ketaatan orang tua kita. Dengan cara ini, jawaban kita terhadap pertanyaan yang sedang dibahas bergantung pada bagaimana kita mengartikan “orang tua” di dalam konteksnya.

Setelah kita membahas tentang Adam dan perannya yang unik sebagai kepala federal di dalam perjanjian kerja, kita dapat memikirkan pertanyaan yang lebih relevan—ayah Anda dan saya, yang biasanya merupakan cara pertanyaan tersebut dibingkai.

Tanggung Jawab Individu vs Konsekuensi Bersama

Tidak seperti Adam, orang tua kita tidak berada dalam posisi kepemimpinan federal di dalam perjanjian kerja, di mana ketaatan atau ketidaktaatan mereka menentukan segala sesuatu yang terjadi setelahnya pada keturunan mereka. Karena itu, kita bisa dengan aman mengatakan bahwa Allah tidak secara langsung menghukum anak-anak karena dosa-dosa orang tua mereka. Namun, pada saat yang sama, konsekuensi dosa sering kali memengaruhi generasi-generasi berikutnya, dan dalam hal ini, ada semacam hukuman yang bersifat tidak langsung. Sebagai contoh, dosa penyembahan berhala dan ibadah yang palsu menjadi sangat tertanam dalam kehidupan agama setiap masyarakat atau keluarga. Itu sebabnya, misalnya, dalam catatan suksesi berbagai raja di Israel, kita kerap membaca tentang raja-raja yang mengikuti jejak ayah-ayah mereka, entah itu baik atau jahat. Raja Ahazia, misalnya, “melakukan yang jahat di mata TUHAN dan mengikuti langkah hidup ayah dan ibunya serta Yerobeam bin Nebat, yang telah mengakibatkan orang Israel berbuat dosa” (1 Raj. 22:53). Penyembahan berhala dan ibadah yang palsu tidak mudah dihapuskan setelah diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya. Dibutuhkan sebuah reformasi yang terencana dan disertai Roh Allah, seperti yang diadakan oleh Yosia, yang “melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan mengikuti semua cara hidup Daud, bapa leluhurnya. Ia tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri” (2 Raj. 22:2), dan yang menghancurkan bukit-bukit pengorbanan di mana berhala-berhala disembah (2 Raj. 23).

Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa seorang ayah yang benar akan melahirkan anak-anak yang benar atau ayah yang jahat melahirkan anak-anak yang jahat pula. Anak Yosia, Yoahas, “melakukan yang jahat di mata TUHAN sama seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya” (2 Raj. 23:32). Di sisi lain, Hizkia memiliki ayah yang jahat bernama Ahas (2 Raj. 16), tetapi ia “melakukan yang benar di mata TUHAN, sama seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya” (2 Raj. 18:3). Perhatikan bahwa penulis kitab Raja-raja menyebut Daud sebagai bapa leluhur Hizkia. Hizkia mengikuti cara hidup Daud yang saleh, bukan cara hidup Ahas yang jahat.

Pada contoh-contoh Perjanjian Lama ini kita melihat bahwa penyembahan berhala mudah diturunkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan Allah sering kali menghukum bangsa Israel akibat dosa penyembahan berhala mereka. Meskipun Tuhan tidak menghukum umat-Nya secara langsung karena dosa-dosa yang dilakukan ayah mereka (Tuhan menghukum mereka yang mengikuti dosa-dosa ayah mereka), dosa-dosa ayah mereka sering kali kembali bergema, dan konsekuensinya dapat dirasakan oleh generasi-generasi mendatang. Pula, meski seorang anak yang benar tidak secara langsung menderita akibat dosa ayahnya yang jahat, ia rentan mengikuti jalan hidup ayahnya yang jahat. Ia akan kerap menderita secara tidak langsung konsekuensi dari perilaku ayahnya yang jahat. Sebagai contoh, jika seorang ayah suka mabuk-mabukan, anaknya kemungkinan sering mengalami penganiayaan dan nantinya mengikuti jejak ayahnya. Meski demikian, setiap manusia menanggung hukuman atas kejahatannya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Matthew Henry, “Allah tidak menghukum anak-anak karena dosa-dosa ayah mereka kecuali mereka mengikuti jejak ayah mereka.”1 Karena itu, jawaban kita terhadap pertanyaan yang sedang kita bahas bergantung pada bagaimana kita mengartikan kata “menghukum” di dalam konteksnya.

Lantas Bagaimana?

Apa arti dari semua ini bagi kita? Kita bisa menarik beberapa penerapan, tetapi izinkan saya menulis beberapa saja. Pertama, kita harus cepat bertobat, dan secara khusus berhati-hati terhadap dosa-dosa yang mudah sekali menjerat anggota-anggota keluarga kita di masa lalu. Dosa-dosa kita, jika tidak dimatikan, akan memengaruhi anak-anak kita. Kedua, kita diingatkan akan pentingnya orang tua Kristen mendisiplin dengan tepat dan mendoakan anak-anaknya. Umumnya, Allah memberkati melalui garis keturunan keluarga. Ketiga, dosa memiliki konsekuensi langsung terhadap orang-orang yang melakukannya, tetapi juga memiliki konsekuensi tidak langsung terhadap orang-orang di sekitar kita dan generasi-generasi mendatang. Terakhir, kita bukanlah budak dari dosa-dosa orang tua kita. Kita adalah budak dosa atau budak kebenaran (Rm. 6:12-23). Allah dalam pemeliharaan-Nya telah menempatkan kita di dalam keluarga, budaya, dan masyarakat kita masing-masing, dengan segala hak istimewa, godaan, dan kekurangan-kekurangan yang menyertai konteks tersebut (baca Kis. 17:26). Garis keturunan yang benar-benar penting adalah apakah kita berada di bawah Adam atau Kristus sebagai kepala (Rm. 5:12-21). 

  1. Matthew Henry, Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible: Complete and Unabridged in One Volume (Peabody: Hendrickson, 1994), 1374.

Artikel ini awalnya diterbitkan dalam Blog Pelayanan Ligonier.
Aaron L. Garriott
Aaron L. Garriott
Rev. Aaron L. Garriott adalah managing editor majalah Tabletalk, resident adjunct professor di Reformation Bible College, di Sanford, Florida, dan penatua pengajar di Presbyterian Church in America.