Cara Mendukung Para Caregiver (Pengasuh/Pendamping) di Gereja Anda
20 November 2025
Bagaimana Seharusnya Saya Menghadapi Anak Saya yang Memberontak?
27 November 2025
Cara Mendukung Para Caregiver (Pengasuh/Pendamping) di Gereja Anda
20 November 2025
Bagaimana Seharusnya Saya Menghadapi Anak Saya yang Memberontak?
27 November 2025

Mengajarkan Anak-Anak Kita tentang Pengampunan

Orang tua adalah perumpamaan. Hidup kita menceritakan kisah kepada anak-anak kita. Kisah Injil yang agung yang kita harapkan akan diceritakan oleh hidup kita adalah kisah tentang pengampunan. Allah mengampuni kita di dalam Kristus, dan saksi hidup tentang pengampunan Allah adalah hati yang mengampuni di dalam diri kita—hati yang tidak hanya menerima, tetapi juga memberi. Kita harus mulai mengajarkan anak-anak kita tentang pengampunan dengan Injil, tetapi kita juga harus menjadi perumpamaan tentang pengampunan bagi mereka melalui hidup kita.

Salah satu perumpamaan paling mencolok tentang pengampunan disampaikan secara negatif: perumpamaan tentang hamba yang tidak mengampuni. Dalam perumpamaan itu, seorang hamba yang berhutang banyak diampuni banyak, tetapi kemudian berbalik dan menuntut dari orang lain jumlah yang relatif kecil yang dipinjam darinya (lihat Mat. 18:21–35). Perumpamaan ini menekankan betapa tidak pantasnya orang yang telah diampuni untuk tidak mengampuni, tetapi fakta bahwa Yesus menekankan ketidakpantasan tersebut secara tersirat mengajarkan kita bahwa kita pertama-tama menjadi orang yang mengampuni dengan diampuni. Itulah sebabnya kita mengajarkan pengampunan kepada anak-anak kita dengan memulai dari kabar baik bahwa kita diampuni karena inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus.

Katekismus Heidelberg dalam penjelasannya tentang Pengakuan Iman Rasuli membantu kita memahami sejauh mana pengampunan kita dalam Injil:

Q. Apa yang Anda percayai tentang “pengampunan dosa”?
A. Aku percaya bahwa Allah,
karena pelunasan Kristus,
tidak akan lagi mengingat
segala dosaku
atau naturku yang berdosa
yang harus kulawan sepanjang hidupku.
Sebaliknya, oleh anugerah-Nya
Allah mengaruniakan kebenaran Kristus kepadaku
agar aku tidak pernah menghadapi penghakiman. (T&J 56)

Sebagaimana diuraikan di sini, pengampunan kita sangat berlimpah—terjamin dalam Kristus dan untuk selamanya. Pelajaran berikutnya bagi anak-anak kita adalah bahwa jika ini adalah pengampunan kita dalam Injil, maka demikian pula seharusnya pengampunan kita terhadap orang lain.

Kita mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa pengampunan mereka terhadap orang lain seharusnya mencerminkan pengampunan mereka sendiri:

  • Pengampunan kita seharusnya karena Kristus, untuk memuliakan Dia, sama seperti Allah mengampuni kita “karena pelunasan Kristus.”
  • Pengampunan kita seharusnya melupakan, ketika kita berhenti mengingat dosa-dosa masa lalu, sama seperti Allah yang “tidak akan mengingat lagi” dosa-dosa kita.
  • Pengampunan kita seharusnya konsisten, sama seperti Allah mengampuni “naturku yang berdosa yang harus kulawan sepanjang hidupku.”
  • Pengampunan kita seharusnya penuh anugerah, ketika kita melepaskan tuntutan kita, sama seperti Allah “dalam anugerah-Nya” mengaruniakan kebenaran Kristus kepada kita.
  • Pengampunan kita seharusnya membebaskan orang lain dari ketakutan akan penghakiman kita, ketika kita tidak lagi menyimpan dosa-dosa masa lalu mereka, sama seperti kita “tidak pernah menghadapi penghakiman” lagi di hadapan Allah.

Inilah hal yang menakutkan sebagai orang tua: begitu anak-anak kita memahami Injil dan apa itu pengampunan, mereka akan mampu mengenali ketidakkonsistenan dalam diri kita ketika kita bertindak seperti hamba yang tidak mengampuni. Salah satu cara kita jatuh dalam hal ini sebagai orang tua adalah dengan mengungkit masa lalu kepada anak-anak kita. Kita mungkin mengatakan hal-hal seperti “Kamu selalu melakukan ini . . . ” untuk membuat mereka merasa bersalah, mengungkapkan rasa frustrasi kita, atau memanipulasi ketaatan dari mereka. Ketika kita berbicara seperti ini, kita secara tidak sengaja menjadi perumpamaan dari hamba yang tidak mengampuni.

Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan. Kita dapat menjadi perumpamaan yang positif tentang pengampunan. Orang tua yang menjadi perumpamaan tentang hamba yang mengampuni adalah orang-orang yang terbuka tentang pengampunan, dan anak-anak kita paling banyak belajar tentang pengampunan ketika kita saling mengampuni.

Orang tua, mintalah pengampunan dari anak-anak Anda secara teratur. Mereka memiliki hati yang bereaksi terhadap dosa dan ketidakadilan, sama seperti Anda. Jangan biarkan dosa yang tidak diakui menghalangi hubungan Anda, dan ketika anak-anak Anda berbuat dosa terhadap Anda, doronglah mereka juga untuk meminta pengampunan. Lakukan ini tanpa bersikap keras terhadap mereka sehingga mereka, pada gilirannya, merasa nyaman untuk membicarakan dosa-dosa mereka. Ketika mereka masih kecil, sebutkan dosa mereka dan ajarkan mereka cara meminta pengampunan melampaui sekadar mengatakan, “Aku minta maaf.” Ada sesuatu yang jauh lebih kuat yang disampaikan tentang dosa dan rekonsiliasi ketika kita mengajarkan mereka untuk bertanya, “Apakah kamu mau mengampuniku?”

Ketika anak-anak Anda bergumul untuk mengampuni seseorang, berdoalah bersama mereka tentang hal itu. Bahkan ketika anak-anak Anda masih kecil dan mungkin belum memiliki kesadaran akan perasaan dendam terhadap seseorang, berdoalah setiap hari bersama mereka agar mereka dapat mengembangkan hati yang penuh pengampunan. Doa adalah salah satu cara terbaik untuk berkomunikasi secara tidak langsung dengan hati mereka. Hal ini terutama bermanfaat ketika mereka cenderung tidak mendengarkan instruksi langsung Anda. Gunakan doa sebagai jalan tidak langsung agar hati mereka dapat dilembutkan oleh Roh.

Keluarga itu indah. Namun, terkadang juga bisa penuh gejolak. Bangunlah ritme doa bersama yang teratur sebagai sebuah keluarga. Hal ini bisa semudah seperti berdoa saat makan. Ritme teratur ini, meskipun hanya pada saat makan satu kali sehari, memberi kita kesempatan untuk menghadap Tuhan setiap kali ketegangan tak terhindarkan muncul. Ketika pertengkaran baru saja terjadi, Yesus memanggil kita untuk berdamai. Salah satu cara untuk mencairkan suasana adalah dengan meminta pertolongan dalam doa. Sesuatu tentang berdoa syukur saat makan yang biasa yang membuat permintaan semacam itu terdengar mengejutkan, tetapi yang terpenting, sesuatu yang biasa.

Kita harus terbuka tentang pengampunan kepada anak-anak kita, dan begitu ruang terbuka seperti itu tercipta di rumah kita, kita perlu dengan tekun menjaga kedamaian yang dibawa oleh rekonsiliasi dan tidak lagi berbuat dosa satu sama lain. Namun, ketika kita melakukannya, kita mengampuni.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Michael O'Steen
Michael O'Steen
Michael O’Steen adalah manajer produksi untuk Pelayanan Ligonier dan resident adjunct professor dalam bidang pemikiran Kristen di Reformation Bible College di Sanford, Florida.