Apa Itu Monoteisme?

29 Juni 2026

Yesus adalah Daud yang Baru

03 Juli 2026

Apa Itu Monoteisme?

29 Juni 2026

Yesus adalah Daud yang Baru

03 Juli 2026

Apa Itu Disiplin Diri?

Seberapa baik Anda melakukan disiplin diri? Anda mungkin membaca artikel ini melalui perangkat seluler, dan perangkat seluler bisa mengurangi disiplin diri lebih dari apa pun di dunia kita. Para ahli mengatakan bahwa menggulirkan layar tanpa henti mengubah kita menjadi pecandu dopamin, meningkatkan kebiasaan yang menghasilkan kemalasan dan penundaan kerja.

Akan tetapi, bila direnungkan sedikit, kita tidak bisa menyalahkan telepon pintar kita—atau benda fisik lain di dunia—atas kurangnya disiplin diri kita. Kita sendiri yang harus disalahkan. Petunjuknya ada pada kata “disiplin diri” itu sendiri, bukan?

Istilah disiplin diri tidak muncul di dalam Alkitab versi modern, tetapi kata yang terkait erat dengannya, yaitu penguasaan diri, memang ada. “Penguasaan diri”, yaitu pengaturan diri, adalah ciri orang saleh—bahkan, itu adalah ciri yang menyerupai Allah. Ketika Allah memulai menciptakan langit dan bumi, Ia bekerja mengikuti tujuan dan kerangka waktu yang Ia tetapkan (Kej. 1). Ia tidak melakukannya secara acak; tidak yakin dengan apa yang akan Ia lakukan dari hari ke hari, dan melakukan improvisasi seiring waktu berjalan. Saat ini Ia terus bekerja dengan cara yang sama (Yoh. 5:17).

Allah adalah Allah yang menyukai keteraturan, bukan kekacauan (1Kor. 14:33). Spontanitas sering kali sangat dihargai di dalam budaya kita, dan tentu ada tempatnya yang tepat untuk itu, tetapi hal itu dapat dengan mudah berubah menjadi perilaku impulsif yang gegabah, yang justru merupakan kebalikan total dari penguasaan diri. Jadi, ketika Anda atau saya menerapkan disiplin diri, kita sedang meniru Pencipta kita. Bahkan, meskipun hal ini mungkin tampak paradoks, kita bisa berkata bahwa orang yang paling menguasai diri adalah orang yang paling dikuasai oleh Allah.

Ada tiga perikop di dalam Perjanjian Baru yang secara khusus menegaskan pentingnya penguasaan diri.

1. 1 Korintus 9:24–27

Pertama adalah 1 Korintus 9:24-27. Di sini Paulus menyamakan kehidupan kristen dengan lari maraton dan pertandingan tinju. Ia menggambarkan penguasaan diri yang harus dilakukan oleh semua atlet ketika berlari. Karena banyak dari kita hidup dalam masyarakat yang terobsesi dengan olahraga, kita tahu bahwa para atlet papan atas harus mengikuti aturan ketat dalam hal makanan, olahraga, latihan, dan tidur, bukan hanya pada hari ketika mereka berlomba, tetapi setiap hari dalam hidupnya.

Paulus menerapkan hal ini pada seluruh kehidupan Kristen: “Aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:27). Seorang atlet yang berlari maraton tidak kekurangan tujuan atau motivasi. Begitu pula orang Kristen. Disiplin diri seumur hidup dimulai ketika kita mengajukan pertanyaan seperti: Siapakah saya? Mengapa saya ada di sini? Apakah tujuan hidup saya, dan bagaimana saya dapat mencapai tujuan itu? Jawaban pertama di dalam Katekismus Singkat Westminster membawa kita langsung ke intinya dengan mengingatkan bahwa “tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya”. Segala sesuatu di dalam hidup saya harus tunduk pada tujuan terbesar ini.

2. Galatia 5:22–23

Perikop kedua adalah Galatia 5:22-23, di mana Paulus mendaftarkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”. Perhatikan bahwa daftar ini dituliskan persis setelah sebuah daftar lain tentang “perbuatan daging” (Gal. 5:19-21). Pada hakikatnya, “perbuatan daging” ini adalah hasrat dan nafsu yang liar dan tak terkendali. Hasrat manusia yang normal dan alami telah menjadi tidak terkendalikan, meluap seperti sungai yang membanjiri tepiannya, mengakibatkan kerusakan dan kehancuran yang luas.

Perhatikan juga bahwa buah roh dimulai dengan “kasih” dan diakhiri dengan “penguasaan diri”. Kita tahu bahwa di dalam Perjanjian Baru, kasih sering kali dipandang sebagai kebajikan yang tertinggi—“yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1Kor. 13:13), tetapi bahkan kasih harus diarahkan dan disalurkan dengan tepat. Penguasaan diri, atau disiplin diri, mengakui adanya hasrat manusia akan makan, minum, beristirahat, seks, kesenangan, rekreasi, dan segala hal lainnya, tetapi dengan cermat merancang saluran-saluran untuk mengendalikan hasrat-hasrat tersebut supaya tidak meluap dan berubah menjadi gairah dan nafsu yang tidak terkendali. Bukan kebetulan bahwa ketika Paulus menulis surat kepada Titus, yang melayani di Kreta—sebuah pulau yang terkenal dengan ketidakdisiplinannya—ia beberapa kali menyebutkan kebutuhan untuk “menguasai diri” ketika berbicara kepada berbagai kelompok dalam masyarakat di sana: “orang tua”, “perempuan muda”, “orang muda”, bahkan “semua orang” (Tit. 2:1-12).

3. 2 Timotius 1:7

Akhirnya, renungkanlah 2 Timotius 1:7: “Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.” Menurut saya, ini adalah perkataan yang tepat bagi orang Kristen setia yang hidup pada abad ke-21. Budaya di sekeliling kita makin menunjukkan permusuhan, penuh amarah, dan tidak toleran, sehingga orang percaya dapat dengan mudah merasa terintimidasi oleh penentangan dan penindasan. Dari Perjanjian Baru, tampak jelas bahwa Timotius adalah sosok yang agak pendiam dan pemalu, yang perlu didorong untuk terus melayani “baik atau tidak baik waktunya” (2Tim. 4:2).

Satu penerapan yang bisa kita tarik dari perikop ini mungkin sedikit mengejutkan tetapi berharga. Penguasaan diri, atau disiplin diri, adalah obat penawar bagi rasa takut dan kecemasan yang dapat dengan mudah menyerang kita. Alasannya adalah karena rahasia sejati dari disiplin diri adalah kehadiran dan kuasa dari Allah yang menyertai kita umat-Nya. Disiplin diri sebenarnya adalah disiplin Allah—firman dan Roh Allah yang mengarahkan dan mengendalikan segala sesuatu yang saya katakan dan lakukan sebagai anak Allah yang telah disatukan dengan Yesus Kristus, bahkan ketika saya ikut memiliki pikiran Kristus itu sendiri (Flp. 2:5).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Paul Yeulett

Paul Yeulett

Pdt. Paul Yeulett adalah pendeta di Grove Chapel di London. Ia menulis beberapa buku, antara lain Time for Judgement.