Bagaimana Mengejar Kekudusan tanpa Menjadi Legalistik

26 Juni 2026

Bagaimana Mengejar Kekudusan tanpa Menjadi Legalistik

26 Juni 2026

Apa Itu Monoteisme?

Manusia pada dasarnya sangat religius. Di seluruh dunia, orang-orang mengikuti satu dari beberapa agama besar di dunia, sekte-sekte yang tak terhitung jumlahnya yang terus muncul dari agama-agama ini, atau bahkan sistem agama yang belum terdokumentasi. Setiap agama mengusahakan semacam rekonsiliasi dengan apa yang dapat kita sebut sebagai “realitas ultima”, yaitu sumber dari segala sesuatu. Realitas ultima ini dimengerti sebagai sesuatu yang non-personal, seperti pada beberapa agama dari Timur, atau sebagai sesuatu yang personal, seperti pada agama-agama yang menyembah Allah yang personal atau banyak individu ilah yang personal.

Dari semua agama yang menyembah realitas ultima yang personal, kita dapat mengelompokkannya menjadi monoteisme, henoteisme, atau politeisme.

Ragam Teisme

Untuk memahami monoteisme, kita perlu mengetahui definisinya serta definisi dari berbagai teisme lain. Istilah monoteisme berasal dari kata Yunani monos (“satu, tunggal, semata”) dan theos (“allah”), yang meyakini hanya ada satu Allah yang sejati dan harus disembah. Mungkin agama monoteistik yang paling terkenal adalah apa yang disebut agama-agama Abrahamik—Kristen, Yudaisme, dan Islam.

Politeisme diturunkan dari kata Yunani polis, yang berarti banyak, dan theos. Maka, agama yang menganut politeisme menyembah lebih dari satu ilah. Banyak orang akrab dengan agama-agama politeistik, seperti yang dikenal dalam peradaban Yunani dan Romawi kuno, yang menyembah banyak ilah, antara lain: Zeus, Atena, dan Mars. Kita menemukan politeisme diwakili pada zaman ini oleh beragam agama Hindu dan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, atau yang dikenal sebagai Mormon. Dalam praktiknya, agama politeistik acap kali menjadi henoteistik.

Penganut henoteisme menyembah satu ilah tertinggi tanpa menyangkali keberadaan ilah-ilah lain yang lebih rendah. Istilah ini berasal dari kata Yunani hen, atau satu, dan theos. Agama-agama politeistik sering kali menjadi henoteistik dengan menekankan salah satu dari ilah-ilah mereka di atas ilah- ilah lainnya. Sebagai contoh, beberapa penganut Hindu membaktikan diri kepada Brahma, Siwa, atau Wisnu di atas ilah-ilah yang lain.

Ragam Monoteisme

Meski semua penganut monoteisme percaya bahwa hanya ada satu Allah yang sejati, tidak semua penganut monoteis setuju tentang bagaimana keberadaan satu Allah yang personal ini, dan siapa Dia sesungguhnya. Pada dasarnya, ada dua variasi monoteisme: unitarianisme dan trinitarianisme.

Unitarianisme menegaskan bahwa ada satu esensi ilahi—yang menjadikan Allah siapa Dia sebagai Allah—dan satu pribadi ilahi dalam esensi itu. Yudaisme dan Islam adalah contoh agama yang menegaskan monoteisme unitarian. Pada setiap agama tersebut, Allah adalah pribadi tunggal yang ada sendirian sebelum segala sesuatu ada. Allah tidak ada dalam relasi dengan siapa pun sebelum penciptaan karena tidak ada keberadaan apa pun yang dengannya Ia bisa berelasi. Karena itu, berada dalam relasi kasih dan persekutuan dengan pribadi yang lain bukanlah hal mendasar dari siapa Allah itu. Akibatnya, agama seperti Islam tidak benar-benar mengajarkan bahwa manusia bisa mengalami relasi pribadi dengan Allah. Allah sering dianggap begitu transenden sehingga tidak akan pernah datang mendekat kepada ciptaan-Nya dengan cara apa pun yang berarti.

Di sisi lain, trinitarianisme mengatakan bahwa hanya ada satu esensi ilahi, tetapi terdapat tiga Pribadi yang secara kekal berbeda dalam esensi tersebut. Bentuk monoteisme ini secara unik dimiliki oleh Kekristenan sejati, yang mengakui satu Allah dalam tiga Pribadi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena ketiganya adalah satu Allah yang sejati, setiap Pribadi memiliki esensi ilahi secara total. Bukan berarti tiap pribadi terdiri dari sepertiga Allah, lalu jika ketiganya dijumlahkan, hasilnya adalah satu Allah. Sebaliknya, tiap Pribadi adalah Allah yang sejati dan sepenuhnya, dan setiap Pribadi identik dalam atribut-atribut-Nya dengan yang lain. Jadi, kuasa Bapa identik dengan kuasa Anak, identik dengan kuasa Roh Kudus. Pengetahuan Bapa identik dengan pengetahuan Anak, identik dengan pengetahuan Roh Kudus. Ini berlaku bagi semua atribut ilahi.

Meski ketiga Pribadi dari satu Allah itu memiliki esensi yang sama, mereka berbeda dalam apa yang disebut sifat-sifat pribadi atau relasi asal-usulnya. Hanya dalam hal inilah mereka berbeda. Bapa secara kekal tidak dilahirkan, tetapi Anak secara kekal lahir dari Bapa, dan Roh Kudus secara kekal keluar dari Bapa dan Anak. Sifat-sifat ini membedakan tiap Pribadi tanpa memisahkan esensi-Nya. Konsekuensinya, Allah, sejak kekekalan, telah ada sebagai tiga Pribadi dalam satu esensi, dan Bapa, Anak, serta Roh Kudus saling mengasihi satu sama lain secara kekal. Allah bersifat transenden dan karenanya sangat berbeda dari kita, namun Ia juga pada hakikatnya bersifat relasional dan dengan sukarela telah memilih untuk datang mendekat kepada kita. Ia paling dekat dengan kita ketika Bapa mengutus Anak-Nya yang tunggal dalam kuasa Roh Kudus untuk mengenakan hakikat manusia. Anak tersebut adalah Tuhan Yesus Kristus, satu Pribadi yang adalah Allah sejati dan manusia sejati.

Kesimpulan

Monoteisme menegaskan hanya ada satu Allah yang sejati, tetapi agama-agama monoteistik yang berbeda memiliki pemahaman yang berbeda tentang satu Allah yang sejati ini. Kita tahu bahwa satu-satunya Allah yang sejati adalah Tritunggal yang Kudus. Allah yang sejati adalah satu dalam esensi dan tiga dalam Pribadi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Orang Kristen dibaptis dalam ketiga nama dari satu Allah ini supaya mereka memuliakan dan menikmati-Nya selamanya (Mat. 28:18-20).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Robert Rothwell

Robert Rothwell

Rev. Robert Rothwell adalah associate editor majalah Tabletalk, penulis senior untuk Pelayanan Ligonier, dan resident adjunct professor di Reformation Bible College, di Sanford, Florida. Ia menulis studi harian 1 dan 2 Korintus di majalah Tabletalk pada tahun 2021.