Apa Itu Pertobatan?

14 Agustus 2026

Apa yang Terjadi pada Jiwa Anda Saat Anda Meninggal?

19 Agustus 2026

Apa Itu Pertobatan?

14 Agustus 2026

Apa yang Terjadi pada Jiwa Anda Saat Anda Meninggal?

19 Agustus 2026

Apa Artinya Hidup?

Menjadi manusia berarti bahwa cepat atau lambat kita semua akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang mendasar pada diri kita sendiri: Siapakah saya? Mengapa saya ada di sini? Apa tujuan saya? Mengapa hidup saya penting? Entah kita seorang remaja yang bertanya-tanya bagaimana cara menyesuaikan diri dengan teman sebaya, seorang mahasiswa yang bingung memilih jurusan dan karier masa depan, atau seorang dewasa paruh baya yang bertanya-tanya mengapa hidup kita ternyata begitu berbeda dari yang kita bayangkan, pertanyaan “Apa artinya hidup?” selalu relevan, sering kali menghampiri kita kembali dengan cara yang berbeda di berbagai musim dan fase kehidupan.

Coba bayangkan sejenak betapa tragisnya jika tidak ada jawaban atas pertanyaan ini. Jika memang demikian, maka hidup ini sama sekali tidak ada artinya. Kita tidak akan memiliki tujuan, pilihan-pilihan kita tidak akan ada artinya, dan pada akhirnya semuanya akan sia-sia. Ketiadaan dalam nihilisme akan memberikan bayangan gelap atas hidup kita dan dunia kita.

Namun, adalah sama tragisnya jika menjawab pertanyaan ini dengan keliru. Di sekeliling kita, kita melihat berbagai cara yang dilakukan individu dan masyarakat untuk menjawab pertanyaan ini. Meskipun kita mungkin bahkan tidak secara sadar menyadari motivasi dan keinginan yang menguasai hati kita, apa yang kita yakini sebagai arti hidup kita akan selalu tercermin dalam nilai-nilai, prioritas, dan hal-hal yang kita kejar. Orang menjawab pertanyaan tentang arti hidup ini dengan berbagai cara: cinta, kekuasaan, kesuksesan, kebahagiaan, pernikahan, anak-anak, karier, ketenaran, pencapaian, status, hubungan, popularitas, kecantikan, petualangan, kekayaan, kemudahan, atau bahkan apa yang terdengar mulia seperti “membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.”

Meskipun pada dasarnya tidak ada satu pun dari hal-hal ini adalah buruk, tidak satupun di antaranya merupakan jawaban yang tepat atas pertanyaan kita “Apa artinya hidup?”, karena tidak satupun di antaranya melampaui bidang horizontal keberadaan di bumi, dunia material di depan mata kita, serta esensi dari pikiran dan keinginan kita sendiri. Terlepas dari mereka yang berpendapat bahwa tidak ada Allah dan bahwa alam semesta beserta segala isinya entah bagaimana muncul dari ketiadaan menjadi segalanya, kebenarannya adalah bahwa manusia adalah makhluk ciptaan. Kita diciptakan oleh Allah, dan oleh karena itu bergantung pada pewahyuan (atau komunikasi) dari-Nya untuk mengetahui siapa diri kita, mengapa kita ada, mengapa dunia ini ada, dan apa artinya hidup ini.

Allah “berbicara” kepada semua orang melalui ciptaan dan hati nurani, tetapi Ia berbicara secara paling lengkap melalui Firman-Nya yang tertulis, yaitu Alkitab. Hanya di sinilah pertanyaan yang membingungkan, “Apa artinya hidup?” dapat dijawab dengan tepat. Misalnya, Roma 11:36 menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah sumber, sarana, dan tujuan akhir dari segala sesuatu, ketika dikatakan: “Sebab, segala sesuatu adalah dari [Allah], oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (penekanan ditambahkan). Karena kebenaran ini, secara logis dapat disimpulkan bahwa respons umat manusia seharusnya adalah memuliakan Allah. Rasul Paulus secara eksplisit berkata kepada orang percaya: “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor. 6:20). Di bagian selanjutnya dalam surat yang sama, ia membuat pernyataan yang menyeluruh, “Jadi, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Baik dalam bekerja maupun bersantai, dalam keadaan baik maupun buruk, di masa muda maupun di masa tua, pada hari kerja maupun akhir pekan, dalam pelayanan maupun dalam rutinitas kehidupan, arti hidup sebagai manusia adalah untuk memuliakan Pencipta kita, yang juga adalah Penebus dan Juru Selamat bagi mereka yang menaruh iman mereka hanya kepada Kristus untuk keselamatan.

Tujuan untuk memuliakan dan menikmati Allah yang Esa dan sejati ini bukan hanya terlihat dalam Perjanjian Baru, melainkan juga dalam Perjanjian Lama. Setelah dua belas pasal perenungan mengenai singkatnya hidup di bawah matahari, kitab Pengkhotbah menyimpulkan, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pkh. 12:13). Di sini, takut akan Allah dan memelihara perintah-perintah-Nya hanyalah cara lain untuk menyampaikan apa artinya memuliakan Allah dan hidup dalam persekutuan yang penuh sukacita bersama-Nya.

Kehidupan di bumi yang demikian merupakan perkenalan dan cicipan awal tentang apa yang akan umat Allah lakukan selama-lamanya di langit yang baru dan bumi yang baru. Dalam Wahyu 4:11, kita melihat dua puluh empat tua-tua menyembah Allah, sambil berkata,

Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak

menerima puji-pujian, hormat, dan kuasa.

Sebab, Engkau telah menciptakan segala sesuatu,

dan karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.

Mengingat begitu banyak bagian dalam Kitab Suci yang menekankan kemuliaan Allah sebagai tujuan manusia, tak heran jika pertanyaan pertama dalam Katekismus Singkat Westminster menanyakan, “Apa tujuan utama manusia?” dan dijawab, “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya.” Memuliakan Allah bukanlah beban yang menekan atau pelayanan yang dilakukan dengan terpaksa yang kita persembahkan kepada-Nya, bukan juga terlepas dari hubungan pribadi yang penuh kasih dengan-Nya. Sebaliknya, memuliakan Allah adalah keinginan tulus yang muncul dari hati yang telah dilahirbarukan untuk mendekat kepada Allah yang telah membuat perjanjian dengan kita dalam persekutuan, untuk menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya, untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya atas karakter dan karya-Nya yang mulia, untuk belajar lebih banyak tentang Dia melalui Firman-Nya, dan untuk memberitakan keagungan-Nya kepada dunia.

Di dunia modern yang serba cepat ini, kita bisa dengan mudah kehilangan tujuan kita untuk memuliakan dan menikmati Allah di tengah daftar tugas yang panjang, rapat kerja, kewajiban keluarga, mengurus keperluan sehari-hari, dan sejuta hal lainnya. Namun, memuliakan dan menikmati Allah bukanlah sekadar tugas “rohani” yang kita upayakan setelah menyelesaikan semua tanggung jawab kita di dunia pada hari ini. Sebaliknya, kita harus waspada terhadap godaan untuk kehilangan tujuan ini saat mengerjakan hal-hal biasa yang mengisi hari kita: janji temu dengan dokter, pertandingan sepak bola, makan siang, mengganti oli, rapat, mencuci pakaian, atau tugas sekolah.

Memuliakan dan menikmati Allah adalah tujuan kita diciptakan, dan ketika kita melakukannya, kita menggenapi tujuan tertinggi dalam hidup kita serta merasakan sukacita terbesar, karena hal itu mendekatkan kita kepada Allah Tritunggal, yang bagi-Nya kita dicipta.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Karrie Hahn

Karrie Hahn

Karrie Hahn adalah associate editor untuk Pelayanan Ligonier dan seorang biblical counselor tersertifikasi. Dia adalah kontributor dalam buku Women Counseling Women: Biblical Answers to Life's Difficult Problems.