Apa itu Penyembahan Berhala?

22 Juni 2026

Apa itu Penyembahan Berhala?

22 Juni 2026

Kuasa Persekutuan Doa

Di dalam 2 Korintus 1:11 terdapat sebuah klausa pendek yang indah: “Kamu juga turut membantu mendoakan kami.” Alkitab terjemahan NIV menerjemahkannya sebagai berikut: “You help us by your prayers” (Kamu membantu kami dengan doa-doamu).

Konteks dari ayat di dalam 2 Korintus 1 ini adalah tentang penderitaan dalam kehidupan dan pelayanan Kristen. Paulus membuka diri kepada para pembacanya dalam surat ini lebih daripada surat-suratnya yang lain. Ia berbicara tentang penghiburan yang telah ia terima dari “Bapa yang penuh kemurahan” dan “Allah sumber segala penghiburan” (2Kor. 1:3).

Di tengah-tengah tekanan besar yang jauh melampaui kemampuannya untuk bertahan, ia telah dikuatkan oleh Allah. Ia berada di ujung kekuatannya; ia telah mencapai batasannya. Ia mengungkapkan bahwa ia bahkan telah putus asa. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa orang Kristen tidak pantas berbicara seperti ini, tetapi Rasul ini jauh lebih realistis.

Ada banyak kesulitan dalam kehidupan orang Kristen yang dapat membuat kita berkata, “Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, dan saya tidak tahu lagi apakah saya masih bisa bertahan.” Pikirkan tentang perempuan dengan sakit pendarahan yang menemui Yesus. Selama bertahun-tahun ia telah berjuang, menghabiskan banyak uang untuk biaya tabib yang hanya membuat keadaannya memburuk. Tidakkah ia kadang-kadang merasa putus asa?

Renungkan pergumulan yang dialami oleh saudara-saudari Kristen kita: mereka yang berjuang mengatasi kesedihan yang luar biasa, mereka yang berharap menikah tetapi tak kunjung terwujud, mereka yang kerabatnya sakit tanpa tanda-tanda bisa sembuh, mereka yang berdoa supaya Allah mengaruniakan anak tetapi tiada hasil. Rasul Paulus merasakan kesusahan semacam itu sehingga di dalam hatinya ia merasakan hukuman mati.

Ketika merenungkan hidupnya dan kesukaran-kesukaran yang ia hadapi, Paulus berkata bahwa hal-hal ini tidak berada di luar kendali Allah yang berdaulat. Hal-hal ini bukan akibat dari kebetulan yang acak, tetapi terjadi supaya kita tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan bersandar pada Allah yang membangkitkan orang mati.

Bagi Paulus, adalah tekanan dan beban dalam pelayanan Kristen yang mendorongnya hingga ke ujung. Di ujung itulah ia menyadari bahwa ia tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasinya sendiri. Sebaliknya, ia hanya bisa mengatasi semua itu bila mengandalkan kekuatan Allah.

Saya tidak yakin kita sepenuhnya menyadari akan adanya godaan yang terus-menerus untuk mengandalkan diri sendiri. Dalam banyak hal, ini adalah peperangan besar dalam kehidupan orang Kristen. Ini adalah peperangan terus-menerus untuk mengingatkan kita hari demi hari agar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, dan tidak bersandar pada pengertian kita sendiri (Ams. 3:5). Saya mendapati bahwa saya memercayai kebohongan bahwa saya dapat melakukannya asalkan saya berusaha cukup keras atau memiliki tekad yang cukup besar.

Pembunuh besar dalam kehidupan orang Kristen bukanlah keraguan. Merasa ragu kadang adalah hal yang cukup sehat. Jika kita menangani keraguan dengan tepat, keraguan itu akan menguatkan iman kita. Hal yang dapat menghancurkan iman kita adalah sikap mengandalkan diri sendiri.

Salah satu tujuan dari ujian, godaan, dan pergumulan adalah mengingatkan kita untuk tidak mengandalkan diri sendiri. Ada Allah yang kuat, yang kekuatan dari kemahakuasaan-Nya dapat menjangkau ke dalam kubur dan membangkitkan orang mati. Ujian datang menghampiri hidup kita dan menusuk gelembung rasa percaya diri kita. Berulang kali dalam kehidupan Kristen kita, kita terlempar balik kepada Allah dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang dapat melakukannya.

Di dalam 2 Korintus 1, Paulus telah memperlihatkan tema besar suratnya, yaitu bahwa kekuatan Allah terlihat di dalam kelemahan, dan dalam tema ini ia memasukkan bahwa doa-doa jemaat di sana telah menolongnya. Dalam kedaulatan Allah, doa-doa orang percaya menyebabkannya dapat bertahan.

Sering kali kita berpikir tentang individu ketika berdoa, tetapi di sini Paulus berkata bahwa doa korporat umat Allah telah menolongnya. Ketika jemaat Korintus berdoa bersama—bahasa aslinya menunjukkan bahwa ini bersifat jamak bukan tunggal—doa mereka telah memberkatinya. Hasilnya, banyak orang akan berterima kasih kepada Paulus dan rekan-rekan pelayanannya.

Berdoa sebagai satu jemaat adalah sebuah penguatan yang luar biasa. Salah satu kegagalan terbesar saya adalah ketika saya merasa tidak berdaya menghadapi sebuah situasi, dan saya berpikir, “Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa”, seolah-olah doa entah bagaimana adalah hal kedua yang terbaik. Kita sering kali ingin membantu seseorang, dan ada banyak kesempatan kita dapat melakukannya. Namun, kerap saya mendapati diri saya sedang berpikir, “Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa.” Kita perlu menyadari bahwa doa-doa kita benar-benar menolong. Saudara-saudari kita terus bertahan dalam kedaulatan Allah karena doa-doa kita.

Jika kita sebagai suatu jemaat dapat menyaksikan kuasa dari doa-doa kita—bahwa doa-doa kita menopang satu sama lain, menolong satu sama lain, dan menjaga satu sama lain—itu akan mendorong kita berdoa bagi orang Kristen yang sedang bergumul dalam masalah. Pendeta dan penulis buku, Geoffrey Wilson, berkata tentang ayat ini, “Kita bukanlah penonton yang pasif dalam sebuah drama yang di dalamnya kita tidak memiliki peran apa pun.”

Ketika kita berkumpul dalam persekutuan doa, kita berpartisipasi dalam rencana-rencana Allah. Ada misteri yang luar biasa di sini, tetapi doa-doa kita benar-benar menolong saudara-saudari kita di dalam Kristus, dan dipakai untuk menggenapi rencana-rencana kekal Allah.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Paul Levy

Paul Levy

Pdt. Paul Levy adalah pendeta di International Presbyterian Church Ealing di West London.