
Kuasa Persekutuan Doa
24 Juni 2026Bagaimana Mengejar Kekudusan tanpa Menjadi Legalistik
Dalam buku The Whole Christ, Dr. Ferguson memberi definisi legalisme yang dapat menolong kita: “Secara sederhana, legalisme adalah memisahkan hukum Allah dari pribadi Allah… menjauhkan hukum-Nya terlepas dari pribadi-Nya yang penuh kasih dan murah hati.” Jika kita memisahkan hukum Allah dan tuntutannya dari Allah yang penuh kasih dan murah hati, yang empunya hukum itu, pada akhirnya kita akan mendapati bahwa pengejaran kita akan kekudusan condong ke arah yang tidak menolong dan bersifat legalistik. Maka, kita harus selalu mengejar kekudusan dengan mengingat siapa Allah itu dan mengapa Ia memanggil kita untuk menjadi kudus.
Di dalam 2 Korintus 1:3-4, Paulus memuji Allah dan memberi kita sebuah gambaran yang indah tentang siapa Dia: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami.” Bapa yang penuh kemurahan telah menghibur kita dalam penderitaan kita dengan mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Karena kasih-Nya yang agung, Bapa mengutus Yesus Kristus untuk menebus kita dari kecemaran, yang ke dalamnya kita telah menjerumuskan diri kita sendiri akibat dosa kita. Bapa mengutus kepada kita Juru Selamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus, untuk membuat kita benar di hadapan-Nya. Hanya karena anugerah, hanya oleh iman, hanya karena karya keselamatan Kristus semata, kita dapat berdamai dengan Allah (Rm. 5:1-2).
Akan tetapi, Bapa kita yang penuh kemurahan tidak puas hanya membenarkan dan menjadikan kita benar di hadapan-Nya. Ia juga ingin agar kita menjadi kudus sebagaimana Dia kudus (1Ptr. 1:15-16). Karena itu, Allah juga bekerja untuk memperbarui kita menjadi sesuai dengan gambar Tuhan kita, Yesus Kristus. Dengan demikian, kabar baik Injil adalah:
Kristus, setelah menebus kita dengan darah-Nya,
juga memperbarui kita menjadi serupa dengan gambar-Nya oleh Roh-Nya. (Katekismus Heidelberg 86)
Dengan demikian, kita dipanggil untuk mengejar kekudusan dalam pengetahuan yang pasti dan menenangkan bahwa kekudusan adalah tujuan Allah bagi kita, dan bahwa Kristus, oleh kuasa Roh Kudus, sedang bekerja untuk mewujudkan tujuan tersebut. Kita dipanggil untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengan pekerjaan itu. Namun, keberhasilan karya pembaruan Allah tidak bergantung pada kita, tetapi pada Allah Tritunggal yang empunya pekerjaan tersebut. Roh Kudus meyakinkan bagi kita kebenaran ini di dalam 1 Tesalonika 5:23-24: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna tanpa cacat pada kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” Allah ingin agar kita kudus, dan karenanya Ia berjanji akan bekerja supaya keinginan-Nya digenapi di dalam kita.
Allah sangat peduli dengan pengudusan dan pembaruan kita karena Ia ingin agar kita siap hidup bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Kita tahu bahwa Kerajaan Allah adalah soal “kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita” (Rm. 14:17). Allah tahu bahwa tanpa kebenaran, umat-Nya tidak mungkin mengalami damai sejahtera dan sukacita Kerajaan-Nya. Ingat lagi apa yang terjadi pada waktu manusia jatuh ke dalam dosa: kita berpaling dari kebenaran kepada dosa. Akibatnya, kita merusak damai sejahtera yang kita nikmati bersama Allah, dan sebagai gantinya menciptakan permusuhan dengan-Nya. Kita menukar sukacita persekutuan dengan-Nya dengan penderitaan akibat terasing dari-Nya. Namun, Ia adalah Allah yang memberi hidup, yang menciptakan kita untuk hidup bersama-Nya dalam kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Karena itu, Ia berencana untuk memulihkan hubungan itu dengan kita (Kej. 3:15).
Bapa surgawi kita yang penuh kemurahan menginginkan kita menjadi seperti orang di dalam Mazmur 1, yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Mengapa? Karena orang itu:
seperti pohon,
yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
tidak pernah layu daunnya;
apa saja yang dilakukannya berhasil. (Mzm. 1:3)
Kita bersuka dalam Taurat Allah bila kita memahaminya sebagai hukum yang memberkati hidup dari Allah kita yang memberi hidup. Ia ingin kita mengejar kekudusan karena Ia ingin agar kita tertanam, berbuah, bertahan, dan sejahtera sekarang dan selamanya. Kehendak Bapa bagi kita ialah:
Sukacita sepenuh hati di dalam Allah melalui Kristus
serta rasa cinta dan kegembiraan untuk hidup
sesuai dengan kehendak Allah
dengan melakukan segala macam perbuatan baik. (Katekismus Heidelberg 90)
Dalam mengejar kekudusan, rasa syukur kepada Kristus adalah obat penawar yang mujarab bagi legalisme. Kita tidak mengejar kekudusan untuk menjadikan diri kita diperkenan Allah. Kita mengejar kekudusan dalam rasa syukur atas penebusan yang menjadi milik kita oleh darah Kristus, dan pembaruan yang sedang diwujudkan di dalam diri kita oleh Roh Kristus. Kita mengejar kekudusan dengan sukacita karena itulah tujuan kita diciptakan dan diperbarui:
Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Ef. 2:8-10).
Kiranya Allah menjaga kita dari legalisme dan menuntun kita dengan anugerah-Nya dan Roh-Nya dalam usaha kita mengejar kekudusan.


