Yesus adalah Daud yang Baru

03 Juli 2026

Apakah Yesus Sempurna?

08 Juli 2026

Yesus adalah Daud yang Baru

03 Juli 2026

Apakah Yesus Sempurna?

08 Juli 2026

Apa Kata Alkitab tentang Pendeta Perempuan?

Pertanyaan tentang apakah perempuan dapat melayani sebagai pendeta atau penatua adalah pertanyaan yang relevan dengan banyak orang Kristen. Orang percaya telah menyaksikan bagaimana persoalan ini memanas dan bahkan memecah gereja mereka. Untuk membahas masalah yang kritis dan sensitif ini, penting bagi kita untuk melihat kepada Alkitab. Apa yang firman Allah katakan terhadap topik yang kontroversial ini?

Di dalam 1 Timotius 2:8-15, Rasul Paulus memberi arahan yang jelas bahwa jemaat perlu menata hidupnya dalam cara yang berkenan kepada Allah. Di dalam surat ini, Paulus menulis kepada Timotius, rekan pelayanannya yang lebih muda. Timotius melayani jemaat di Efesus pada masa yang sulit. Ia menghadapi masalah pengajaran yang lain (1Tim. 1:3-11; 6:2-10) dan kebingungan dalam ibadah (1Tim. 2:1-15). Jemaatnya juga membutuhkan panduan yang jelas tentang syarat dan tugas pejabat gereja, yaitu penatua dan diaken (1Tim. 3:1-5:25).

Setelah memberikan pengajaran tentang pelayanan doa dalam ibadah Kristen kepada Timotius (1Tim. 2:1-7), Paulus beralih untuk memberikan nasihat khusus kepada para laki-laki dan perempuan ketika mereka berpartisipasi dalam ibadah publik kepada Allah (1Tim. 2:8-15). Di dalam ayat-ayat ini, ia membahas dosa-dosa yang cenderung menjangkiti masing-masing gender. Para laki-laki harus berdoa “tanpa marah dan tanpa perselisihan” (1Tim. 2:8). Para perempuan harus mendahulukan kesalehan dan bukan penampilan yang glamor (1Tim. 2:9-10).

Paulus membahas kekhawatiran lain terkait partisipasi perempuan dalam ibadah publik. Ia pertama-tama memaparkan secara positif panggilan Allah kepada perempuan—“Seharusnyalah perempuan berdiam diri dalam menerima ajaran dengan patuh” (1Tim. 2:11). Sang rasul menegaskan hak para perempuan menghadiri ibadah gereja dan bersama para laki-laki mempelajari firman Allah sebagaimana dibacakan dan diberitakan. Dalam hal ini, para murid perempuan Yesus setara dalam segala aspek dengan para murid laki-laki Yesus.

Paulus kemudian melarang para perempuan “mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki” (1Tim. 2:12). Sebaliknya, mereka hendaklah “berdiam diri”. Para perempuan seharusnya menyibukkan diri dengan apa yang menjadi panggilan mereka—menerima ajaran dengan patuh. Mereka tidak boleh mengejar hal-hal yang dilarang dalam ayat 12.

Apakah hal-hal yang dikejar itu? Paulus menyebutkan dua hal. Hal yang pertama adalah mengajar. Di sini, konteks perikop ini penting. Paulus tidak melarang perempuan melakukan semua aktivitas mengajar, bahkan di dalam jemaat. Namun, ia melarang perempuan berkhotbah dan mengajar firman Allah secara publik ketika jemaat berkumpul dalam ibadah publik. Pelayanan ini adalah milik para penatua (lihat 1Tim. 3:2; 4:11-16). Hal yang kedua adalah memerintah/berotoritas atas laki-laki. Pada pasal berikutnya, Paulus memercayakan otoritas rohani kepada para penatua jemaat, yaitu para laki-laki yang memenuhi syarat, yang telah membuktikan dirinya adalah pengelola keluarga mereka sendiri yang kompeten (lihat 1Tim. 3:5). Kita dapat merangkum larangan Paulus di dalam ayat 12 sebagai berikut: perempuan tidak diizinkan memegang jabatan atau menjalankan fungsi penatua di dalam gereja.

Pada ayat 13-14 Paulus memberi alasan di balik pengajarannya di dalam ayat 11-12. Ia mengingatkan Timotius akan tatanan ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa: “Sebab, yang pertama dijadikan itu Adam, kemudian barulah Hawa” (1Tim. 2:13). Ia kemudian mengingatkan Timotius tentang bagaimana nenek moyang pertama kita jatuh ke dalam dosa: “Bukan Adam yang tertipu (LAI: tergoda), melainkan perempuan itulah yang tertipu (LAI: tergoda) dan jatuh ke dalam dosa” (1Tim. 2:14). Paulus tidak sedang melepaskan Adam dari tanggung jawab dalam kejatuhan ke dalam dosa. Sebaliknya, dosa Adam bertentangan dengan firman Allah yang jelas (lihat Kej. 2:15). Di sini Paulus juga tidak berkata bahwa Hawa adalah orang yang mudah ditipu. Ia sekadar mengamati ajaran Alkitab bahwa Hawa memakan buah terlarang setelah ditipu oleh si Ular.

Bagaimana perkataan Paulus di dalam 1 Timotius 2:13-14 mendukung perintahnya di dalam ayat 11-12? Dukungan ini terjadi dalam setidaknya dua cara. Pertama, larangan perempuan mengajar dan memerintah yang diuraikan di dalam ayat 12 berakar pada cara Allah menciptakan manusia pertama (1Tim. 2:13). Dengan kata lain, larangan ini berakar pada Penciptaan. Larangan Paulus tidak bersifat unik pada situasi jemaat Efesus ataupun terbatas pada abad pertama. Kita tentu tidak boleh mengaitkannya dengan pandangan terbatas dari seorang laki-laki Yahudi abad pertama. Larangan tersebut mencerminkan tatanan yang ditetapkan Allah terhadap laki-laki dan perempuan dalam Penciptaan.

Kedua, larangan Paulus di dalam ayat 12 dilanjutkan dengan kisah yang bertujuan memberikan peringatan pada ayat 14. Ketika Hawa mencoba “menjadi seperti Allah” dan melanggar perintah Allah, malapetaka terjadi (Kej. 3:5). Tidak ada hal baik yang pernah dihasilkan dari tindakan melanggar tatanan baik yang telah ditetapkan Allah bagi kesejahteraan kita. Karena itu, lanjut Paulus, perempuan tidak seharusnya mencoba mengejar apa yang dilarang Allah. Mereka hendaknya mengabdikan diri kepada panggilan Allah atas mereka. Allah memanggil sebagian besar perempuan (tidak semuanya) untuk menikah dan melahirkan anak (1Tim. 2:15). Ketika seorang perempuan percaya menghayati panggilan ini dengan “iman, kasih, dan pengudusan dengan kesederhanaan”, maka ia menemukan keyakinan akan keselamatan yang dikaruniakan Allah secara cuma-cuma kepadanya di dalam Kristus.

Kita membutuhkan perkataan Paulus di gereja hari ini. Perkataannya menunjukkan kepada kita tatanan atau pola yang ditetapkan Allah bagi laki-laki dan perempuan di dalam Gereja-Nya. Perkataan ini menekankan pada kita bahaya menyimpang dari tatanan tersebut. Namun, perkataannya tidak hanya memaparkan hal-hal negatif bagi jemaat. Perkataan Paulus juga memperlihatkan visi kemenangan Allah menyangkut panggilan-Nya bagi perempuan, yaitu mereka seharusnya menjadi seperti apa dan melakukan apa. Dalam era yang sering kali merendahkan perempuan sebagai kaum yang lebih rendah secara intelektual dan moral daripada laki-laki, Paulus berkata kepada Timotius bahwa perempuan, sama seperti laki-laki, berhak untuk belajar dalam sekolah Kristus (1Tim. 2:11). Mereka seharusnya menghiasi dirinya dengan kesalehan—bukan hanya ketika berkumpul tiap minggu dengan jemaat untuk beribadah (1Tim. 2:9), tetapi juga dalam keseharian membesarkan anak (1Tim. 2:15). Dalam aktivitas kehidupan yang tenang dan biasa inilah Allah berkenan mengerjakan rencana-rencana anugerah-Nya yang luar biasa. Inilah kabar baik bagi seluruh umat Allah di setiap zaman.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Guy Prentiss Waters

Guy Prentiss Waters

Dr. Guy M. Richard adalah Profesor James M. Baird Jr. bidang Perjanjian Baru di Reformed Theological Seminary di Jackson, Mississippi, dan penatua pengajar di Presbyterian Church in America. Ia adalah penulis dari beberapa buku, termasuk How Jesus Runs the Church dan Facing the Last Enemy.