Menelusuri Kisah Natal
18 September 2025
Pengejaran akan Kemuliaan
25 September 2025
Menelusuri Kisah Natal
18 September 2025
Pengejaran akan Kemuliaan
25 September 2025

Berperang dan Berdamai dengan Allah yang Kudus

Saya ingat pada musim panas yang gerah tahun 1945 ketika saya sibuk bermain stickball di jalanan kota Chicago. Waktu itu dunia saya terdiri dari sebidang tanah yang mencakup satu tutup lubang ke tutup lubang yang lain. Satu-satunya hal yang penting bagi saya adalah akhirnya tiba giliran saya memukul bola. Saya merasa sangat sebal ketika lemparan bola pertama tersebut terganggu oleh sebuah keributan dan suara di sekitar saya. Orang-orang mulai berlarian keluar apartemen, berteriak-teriak dan memukul-mukul panci dengan sendok kayu. Untuk sejenak saya mengira dunia akan berakhir. Yang pasti, permainan stickball saya berakhir. Dalam kebingungan penuh kegaduhan itu saya melihat ibu saya berlari ke arah saya dengan air mata berlinang di wajahnya. Ia mengangkat dan memeluk saya kuat-kuat sambil berulang kali menangis, “Sudah berakhir. Sudah berakhir. Sudah berakhir!”

Itu adalah Hari Kemenangan tahun 1945. Saya tidak yakin apa arti dari semua itu, tetapi satu hal sangat jelas: perang telah berakhir dan ayah saya akan segera pulang. Tidak ada lagi surat pos ke negara-negara yang amat jauh. Tidak perlu lagi mendengar siaran berita harian tentang jumlah korban perang. Tidak ada lagi bendera-bendera sutra berhias bintang-bintang digantungkan di jendela. Tidak perlu lagi meremukkan kaleng-kaleng sup yang tipis. Tidak perlu lagi kupon jatah makanan. Perang telah berakhir, dan kedamaian akhirnya datang.

Momen menggembirakan itu meninggalkan kenangan yang mendalam di kepala saya yang masih kanak-kanak. Saya belajar bahwa kedamaian adalah hal yang penting, sebuah alasan untuk mengadakan perayaan dengan bebas ketika itu terjadi dan penyesalan penuh kepahitan ketika itu lenyap. Kesan yang saya dapatkan dari jalanan Chicago hari itu adalah kedamaian telah tiba untuk selamanya. Saya tidak tahu betapa rapuhnya hal itu. Sepertinya waktu baru sebentar saja berlalu ketika reporter berita seperti Gabriel Heater memberi peringatan yang menakutkan tentang pasukan tentara yang berkumpul di Cina, ancaman nuklir Rusia, dan blokade di Berlin. Kedamaian bangsa Amerika hanya sebentar saja, dan sekali lagi harus menyerah kepada perang di Korea, dan lagi di Vietnam.

Rapuh. Labil. Lemah. Itulah kondisi normal dari segala kedamaian di bumi. Persepakatan damai, seperti halnya peraturan, tampaknya dibuat untuk dilanggar. Sejuta Neville Chamberlains, yang berdiri di balkon dengan tangan terentang sambil menyatakan, “Kita telah mencapai kedamaian di zaman kita”, tidak menjamin sejarah manusia tidak terus menerus mengulangi tragedi Munich.

Kita segera belajar untuk tidak terlalu memercayai perdamaian. Perang meletus terlalu cepat dan terlalu mudah. Namun, kita tetap merindukan kedamaian yang bertahan lama yang dapat diandalkan. Inilah persis jenis kedamaian yang dinyatakan Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Ketika perang suci kita dengan Allah berhenti; ketika kita, seperti Luther, berjalan melewati pintu firdaus; ketika kita dibenarkan oleh iman, perang berakhir untuk selamanya. Dengan penyucian dosa dan pernyataan pengampunan ilahi, kita masuk ke dalam perjanjian damai yang kekal dengan Allah. Buah sulung dari pembenaran kita adalah kedamaian dengan Allah. Ini adalah sebuah kedamaian yang suci, yaitu kedamaian yang tanpa noda dan bersifat transenden. Ini adalah kedamaian yang tidak dapat dihancurkan.

Ketika Allah menandatangani perjanjian damai, ini ditandatangani untuk berlaku selamanya. Perang telah berakhir untuk selama-lamanya. Kita memang masih melakukan dosa; kita masih memberontak; kita masih melakukan tindakan-tindakan permusuhan terhadap Allah. Namun, Allah bukanlah pihak yang suka berperang. Ia tidak akan terdorong untuk menyulut perang dengan kita. Kita memiliki seorang Pembela bersama Bapa. Kita memiliki seorang Mediator yang menjaga perdamaian. Ia berkuasa atas kedamaian karena Ia adalah Raja Damai dan Dialah kedamaian kita.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.