Ibadah yang Autentik

15 Oktober 2026

Ibadah yang Autentik

15 Oktober 2026

Mendefinisikan Kekristenan yang Autentik

Pembacaan sejarah gereja secara sepintas mungkin memberi kesan bahwa Kekristenan telah mengalami kemajuan terutama melalui usaha-usaha heroik dari para pemimpin besarnya. Namun kenyataannya, meski para pemimpin yang setia dan berbakat itu penting, penyebaran berita Injil terutama terjadi melalui orang-orang Kristen biasa. Tertulianus dari Kartago (meninggal 240 M.) mengabdikan dirinya untuk berkhotbah dan mengajar, tetapi menurut pengakuannya, kehidupan orang Kristenlah yang mengubah Kekaisaran Romawi. Ia menulis bahwa orang Kristen adalah “tubuh yang terajut bersama” melalui pengakuan iman mereka, hidup mereka yang disiplin, dan ibadah mereka yang dipenuhi doa. Di atas segalanya, ia mengamati bagaimana mereka yang berjumpa dengan orang-orang percaya merasa kagum “melihat bagaimana mereka saling mengasihi satu sama lain”.

Sejarah gereja menunjukkan bahwa orang Kristen biasa benar-benar bisa mengubah dunia, asalkan mereka menjalani hidup yang penuh iman dan kesalehan secara autentik. Kata “autentik” berarti sesuatu atau seseorang adalah sebagaimana yang ia klaim. Koin autentik adalah koin yang berharga seperti nilai yang tercetak di permukaannya. Kehidupan seorang Kristen yang autentik memberi kesaksian terhadap kebenaran yang ia nyatakan.

Keautentikan tidak menuntut kesempurnaan. Namun, jika kita mengharapkan orang lain mempertimbangkan berita Injil kita, harus ada hubungan yang autentik antara apa yang kita katakan dan bagaimana kita hidup. Namun, apa itu kehidupan Kristen yang autentik? Saya mengusulkan setidaknya tiga kategori: kehidupan Kristen yang autentik menunjukkan sikap orang berdosa yang telah diampuni, tujuan mengikut Yesus, dan ambisi menuntun orang lain ke dalam keselamatan-Nya.

Sikap yang Autentik: Orang Berdosa yang Telah Diampuni

Karena orang Kristen berkata bahwa masalah dunia ini adalah dosa, orang Kristen yang autentik mau mengakui bahwa mereka pun adalah orang berdosa. Beberapa orang percaya mengira bahwa mereka harus berpura-pura tidak lagi berdosa. Namun, jika demikian, mereka seharusnya menghindari pernikahan, mempunyai anak, dan memiliki teman, sebab semua ini akan segera menyingkapkan kenyataan bahwa orang Kristen adalah, sebenarnya, seorang berdosa. Ketika Paulus menulis, “Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23), ia juga mengacu pada orang percaya. Salomo tahu persis apa yang ia bicarakan ketika menyatakan, “tidak ada manusia yang tidak berdosa” (1Raj. 8:46).

Banyak orang datang kepada iman yang menyelamatkan melalui khotbah atau kesaksian yang memperhadapkan mereka dengan rasa bersalah akan dosa. Namun, kebanyakan orang akan sangat tertolong bila mengenal orang Kristen yang jujur terhadap dosanya sendiri. Mungkin seorang Kristen terlibat dalam konflik di tempat kerjanya. Orang Kristen yang autentik akan merespons tidak hanya dengan menuduh orang lain, tetapi juga dengan berkata: “Kenyataannya, saya telah berdosa terhadap Anda. Saya mendapati bahwa saya cenderung merasa bangga [atau bersikap agresif, cepat emosi, dll.]. Saya mengaku salah dan meminta pengampunan dari Anda.” Berdosa itu tidak pernah baik, tetapi adalah sangat baik bila kita bersikap autentik terhadap masalah dosa.

Ketika Yesus mengampuni seorang perempuan yang dituduh berzina di dalam Yohanes 8:11, pesan-Nya kepada perempuan itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah pesan pengampunan: “Aku pun tidak menghukum engkau.” Dengan demikian, orang Kristen adalah orang yang meyakini pengampunan dosa, yang dimulai dengan dirinya sendiri. Yesus telah mati untuk membayar utang dosa kita, maka kita bersukacita karena dosa kita telah diampuni. Namun, jawaban Yesus memiliki bagian kedua: “Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” Jadi, orang Kristen tidak berkanjang dalam dosa, tetapi berbalik darinya. Dengan Roh Kudus tinggal di dalam kita dan Kristus bersyafaat bagi kita di surga, kita menganggap serius nasihat Paulus: “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi” (Kol. 3:5). Menggantikan keberadaan dosa, kita berusaha mengenakan kualitas-kualitas Yesus yang penuh anugerah, yang telah mati menebus kita dari dosa (ay. 12).

Jika kehidupan Kristen adalah cermin yang autentik dari berita Injil kita, kita tidak hanya harus mengakui dosa kita dan berbalik darinya dengan kuasa Allah, tetapi kita juga harus siap dan cepat mengampuni dosa orang lain. Yesus mengisahkan perumpamaan tentang seorang hamba yang utangnya yang sangat besar diampuni, tetapi kemudian menolak mengampuni hutang orang lain kepadanya yang jauh lebih kecil. Karena ini bukan iman Kristen yang autentik, hamba tersebut dipaksa untuk membayar utangnya yang semula dan dijebloskan ke dalam penjara (Mat. 18:21-35). Masuk akalnya, jika kita percaya bahwa kita telah diampuni, rasa bersyukur kita kepada Kristus akan menggerakkan kita untuk mengampuni orang lain, sama seperti Ia mengajarkan kita untuk berdoa: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (6:12).

Tujuan yang Autentik: Mengikut Yesus

Selain menunjukkan sikap sebagai orang berdosa yang telah diampuni, orang Kristen yang autentik menunjukkan tujuan untuk mengikut Yesus sebagai murid-Nya.

Sebagian besar orang Kristen memiliki pandangan yang jelas tentang penciptaan, pernikahan, seks, dan masalah moral yang lain. Namun, kehidupan Kristen yang autentik berfokus pada Yesus sendiri. Orang yang mengamati kita akan melihat bahwa kita memercayai Yesus sebagai Tuhan yang hidup, bahwa kita berusaha mengenal-Nya dengan lebih baik, dan bahwa kita berusaha hidup dengan cara yang menyukakan dan melayani Dia. Betapa bedanya dengan orang Kristen yang (tentu saja) percaya kepada Yesus tetapi yang selalu berfokus pada topik-topik lain. Paulus mengungkapkan tujuan yang autentik ini: “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21).

Sebagai orang Kristen yang tujuannya adalah mengikut Yesus, kita percaya dan mengandalkan anugerah-Nya yang menyelamatkan. Untuk alasan ini, orang Kristen yang sejati sering berdoa kepada Bapa dalam nama Yesus karena tahu bahwa Ia memberi kekuatan bagi kita yang lemah. Kita tahu bahwa kita tidak mampu melakukan apa pun dengan kekuatan sendiri. Namun, dengan kuasa Roh Kudus, kita berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Para pengikut Kristus tidak runtuh ketika ujian, termasuk penganiayaan, datang. Lagi pula, Yesus telah memberitahu kita, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Sebaliknya, kita berusaha untuk bersukacita di tengah ujian karena menyadari bahwa kita mendapat hak istimewa “bukan hanya untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia” (Flp. 1:29).

Mereka yang mengikut Yesus telah menerima Dia sebagai Tuhan dengan iman. Artinya, orang Kristen yang autentik adalah orang Kristen yang alkitabiah. Kita mempelajari Kitab Suci dengan penuh semangat karena tahu bahwa itu adalah “firman Kristus” (Rm. 10:17). Kita mempelajari ajarannya, membela dan menyebarkan doktrinnya, dan berdiri teguh melawan tren budaya yang tidak saleh. Yesus menekankan semangat alkitabiah sebagai tanda autentisitas ketika berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku” (Yoh. 8:31).

Ambisi yang Autentik: Menuntun Orang Lain kepada Keselamatan

Siswa yang autentik dari sebuah sekolah akan menyemangati sekolahnya agar memenangkan kejuaraan olahraga, sama seperti patriot yang autentik berusaha memajukan kesejahteraan bangsanya. Orang yang percaya kepada Yesus telah masuk ke dalam Kerajaan Kristus sehingga tujuan-Nya menjadi tujuan kita. Yesus memberitahu kita bahwa penyebaran Injil-Nya dan pengumpulan jiwa untuk keselamatan adalah ambisi besar yang untuknya Ia telah mati, bangkit kembali, dan naik dengan dimuliakan ke surga. Orang Kristen yang autentik mengambil ambisi yang sama: kita ingin memberitahu orang lain tentang Yesus dan Injil-Nya, dan kita dengan berdoa bekerja untuk menyelamatkan orang lain.

Menurut Yesus, tujuan agung sejarah manusia adalah panen keselamatan jiwa-jiwa. Karena itu, Yesus mengutus kita untuk memastikan bahwa “Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus diberitakan kepada segala bangsa” (Luk. 24:47). Memberi kesaksian kepada orang yang kita kenal bisa terasa mengintimidasi, tetapi orang percaya yang autentik akan berdoa meminta keberanian dari surga untuk bercerita tentang Yesus kepada keluarga dan teman-temannya. Setelah dikasihi Allah di dalam Kristus, kita dapat mengasihi orang lain dengan cukup untuk menyampaikan kepada mereka kabar baik tentang keselamatan. Serupa dengan itu, karena gereja yang autentik berkobar untuk misi—usahanya untuk memberitakan Injil secara lokal dan global—orang Kristen yang autentik akan bergabung dalam usaha ini, hatinya bergembira untuk berperan dalam karya Amanat Agung yang mulia tersebut.

Bisakah Anda Menjadi Autentik?

Orang Kristen tidak harus menjadi sempurna untuk dapat membuat perbedaan bagi Yesus, tetapi kita perlu menjadi autentik. Saya telah menyatakan bagaimana kehidupan orang Kristen mula-mula mengubah dunia mereka—tetapi apakah kita sadar bahwa kita sekarang adalah Gereja di bumi, serta bahwa kehidupan dan kesaksian kitalah yang mewakili Yesus di dalam dunia? Karena itu, apakah permintaan ini terlalu berlebihan bila kita diminta mengejar kehidupan yang di dalamnya kebenaran-kebenaran yang kita percaya dapat diamati secara autentik? Renungkan sikap Anda terhadap dosa orang lain: apakah itu mencerminkan penebusan di dalam Kristus? Menyangkut tujuan hidup Anda, apakah Anda hidup untuk uang, ketenaran, atau ilah-ilah palsu zaman ini? Mengapa tidak bertujuan mengikut Yesus dengan cara yang autentik? Renungkan apakah Anda akan menunjukkan ambisi Kristus untuk menyelamatkan mereka yang terhilang. Jika Anda belum melakukannya, berdoalah agar Tuhan memampukan Anda memberitakan Injil kepada satu orang—dan ketika Anda telah melakukannya, perluas ambisi Anda supaya banyak orang dapat mengenal Juru Selamat kita melalui Anda.

Mungkin autentisitas tidak penting bagi kita, tapi pastinya itu penting bagi Yesus. Bahkan, Ia mendesak Anda untuk menyadari bahwa tidak ada yang lain yang lebih penting: “Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya” (Luk. 9:24).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Richard D. Phillips

Richard D. Phillips

Dr. Richard D. Phillips adalah pendeta senior di Second Presbyterian Church di Greenville, South Carolina. Ia adalah penulis dari beberapa buku, termasuk The Masculine Mandate dan What’s So Great about the Doctrines of Grace?