
Mendefinisikan Kekristenan yang Autentik
20 Oktober 2026Pujilah Tuhan dengan Seluruh Hidupmu
Ayat pertama dari Mazmur 150 mengajak orang percaya untuk memuji Allah “di tempat kudus-Nya… di cakrawala-Nya yang kokoh”. Ketika umat yang setia beribadah di tempat kudus Allah di Yerusalem, mereka masuk sebentar ke cakrawala-Nya yang kokoh. Ini juga terjadi dalam ibadah Perjanjian Baru. Bahkan ketika orang Kristen mula-mula bersekutu di rumah-rumah (Rm. 16:3-5), ibadah secara sementara mengubah tempat-tempat itu menjadi “Yerusalem surgawi” (Ibr. 12:22-24). Orang percaya berjumpa dengan Allah di tempat-tempat tertentu untuk terlibat dalam aktivitas ibadah—mereka berdoa, mendengar Firman Allah, dan menyanyikan pujian bagi-Nya.
Namun, sama pentingnya dengan ibadah bersama, seluruh hidup kita seharusnya memuji Tuhan. Tidak peduli di mana pun kita berada, kita dapat menyembah Dia “di tempat kudus-Nya” dan “di cakrawala-Nya yang kokoh”. Melalui iman, Allah telah memberikan kita “tempat bersama-sama dengan Dia [Kristus Yesus] di surga” (Ef. 2:6; lihat Kol. 3:1).
Umat tebusan tidak hanya sesekali membawa persembahan ke dalam kebaktian ibadah; kitalah persembahan itu (Rm. 12:1). Jadi, dalam seluruh hidup kita, kita harus menyerupai Kristus, yaitu “Nabi dan Guru utama kita…; satu-satunya Imam Besar kita…; dan Raja kita yang kekal” sebagaimana dikatakan oleh Katekismus Heidelberg (P&J 31). Ketika kita beriman kepada Kristus, kita berbagi dalam panggilan-Nya. Di dalam Dia, kita adalah nabi; ketika kita mengakui Yesus di hadapan orang lain, khususnya di bawah tekanan, kita memuji Allah (Mat. 10:32; Ibr. 13:15). Kita juga adalah imam. Kristus menggenapi keimaman Perjanjian Lama ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai satu-satunya kurban penebus. Namun, di dalam Dia, kita adalah imam yang mendoakan keselamatan orang berdosa dan menggunakan seluruh hidup kita untuk bersyukur kepada Allah (1Ptr. 2:5, 9; Why. 1:6). Serta, kita adalah raja. Sama seperti pemimpin yang baik mana pun, kita tidak boleh menjadi pasif. Kita harus bertanding “dengan benar dalam pertandingan iman” (1Tim. 6:12), menolak dosa dan Iblis, dan percaya bahwa mereka yang menang suatu hari nanti akan duduk bertakhta bersama Kristus (Why. 3:21).
Orang percaya seharusnya menerapkan panggilan utama ini—menjadi nabi, imam, dan raja—ke dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Untuk menjalankan hidup seperti ini, kita harus percaya kepada Kristus dan hidup dengan mengagungkan reputasi Allah. Kita bukan milik kita sendiri; kita telah dibeli dengan darah Yesus yang mahal (1Kor. 6:19-20). Semua yang kita lakukan haruslah “untuk kemuliaan Allah” (10:31). Kita harus menerapkan perspektif yang benar ini ke dalam usaha-usaha yang sah, yaitu proyek-proyek yang di dalamnya kita menatalayani dunia milik Allah dengan tunduk kepada-Nya dan dalam pelayanan penuh kasih kepada orang lain. Terakhir, kita harus bekerja dengan setia. Cara kita bekerja dalam berbagai peran kita hendaknya menunjukkan bahwa kita amat bersyukur kepada Allah. Kita hendaknya melakukan semua aktivitas kita “dalam nama Tuhan Yesus” (Kol. 3:17).
Untuk menyembah Allah dengan seluruh hidup kita, kita harus berjuang untuk hidup sesuai dengan doa yang digubah oleh penulis himne Horatius Bonar:
Ya Tuhan, isi hidupku dengan anugerah,
supaya dalam diriku citra-Mu nyatalah.
Janganlah hanya bibirku ataupun hatiku,
seluruh hidup jadilah pujian bagi-Mu.


