
Agustinus dari Hippo: Sebuah Kehidupan
06 Maret 2026
5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Perjuangan Melawan Dosa
11 Maret 2026Diskursus Bukit Zaitun
Matius 24, yang sering disebut “Diskursus Bukit Zaitun” atau “Apokalips Kecil”, adalah salah satu perikop Alkitab yang terpenting mengenai tanda-tanda zaman dan akhir zaman. Namun, ini juga adalah salah satu perikop yang paling sulit ditafsirkan di dalam Alkitab.
Pada periode modern, banyak ahli kritis berkata bahwa nubuat Yesus secara keliru mengaitkan kehancuran Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 M dengan kedatangan-Nya kembali dan akhir zaman. Kalangan dispensasionalis menafsirkan perikop ini terutama secara futuristik, mengatakan bahwa ini merujuk kepada hancurnya Bait Suci Yerusalem yang akan dibangun kembali pada masa tujuh tahun “tribulasi/kesusahan besar” setelah peristiwa “rapture/pengangkatan”. Beberapa teolog Reformed menafsirkan Matius 24:1-34 secara preteris dan meyakini bahwa Yesus secara eksklusif menubuatkan apa yang terjadi sebelum dan ketika Bait Suci dihancurkan. Hanya pada ayat 36 dan setelahnya Yesus berbicara tentang peristiwa-peristiwa setelah hancurnya Bait Suci. Para teolog Reformed yang lain menafsirkan Matius 24-25 untuk menggambarkan seluruh periode sejarah penebusan antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua. Menurut perkiraan mereka, diskursus yang disampaikan Yesus, bahkan dalam Matius 24:1-34, tidak hanya menggambarkan kehancuran Bait Suci pada tahun 70 M tetapi juga karakteristik dari zaman ini sampai kedatangan final Kristus untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Karena rumitnya Diskursus Bukit Zaitun, penafsiran yang ditawarkan di sini disajikan dengan kesadaran bahwa ini mungkin menyisakan beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Meski kita menegaskan kejelasan Alkitab, kita tidak perlu bersikeras bahwa setiap perikopnya “sama jelasnya” (Pengakuan Iman Westminster 1.7).
Sebuah Pertanyaan Dua Bagian: Kunci untuk Menafsirkan
Kunci untuk menafsirkan Matius 24-25 terdapat pada pertanyaan dua bagian yang diajukan para murid kepada Yesus setelah Ia menubuatkan bahwa Bait Suci Yerusalem akan dihancurkan. Setelah mendengar nubuat Yesus, para murid datang kepada Yesus secara pribadi dan bertanya, “Katakanlah kepada kami, kapankah semuanya itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda akhir zaman?” (24:3; baca juga Mrk. 13:4). Pertanyaan yang dialamatkan kepada Yesus tersebut berfokus pada dua persoalan yang berbeda: 1) waktu ketika Bait Suci Yerusalem dihancurkan; dan 2) peristiwa-peristiwa atau situasi-situasi yang menandai kedatangan-Nya kembali dan berakhirnya zaman ini.
Meski mungkin sekali pertanyaan para murid mengasumsikan bahwa kehancuran Bait Suci dan kedatangan Kristus pada akhir zaman merupakan dua peristiwa yang terjadi bersamaan, keduanya sesungguhnya berbeda. Ini adalah sesuatu yang teramat penting. Ketika membaca diskursus dalam Matius 24-25 tersebut, kita harus selalu bertanya: Apakah Yesus menjawab bagian pertama dari pertanyaan murid-murid-Nya menyangkut kehancuran Bait Suci? Atau, apakah Ia membahas bagian kedua dari pertanyaan mereka yang menyangkut kedatangan-Nya kembali dan berakhirnya zaman ini?
Diskursus Matius 24-25 dapat dibagi menjadi tiga bagian: Matius 24:4-14 menjelaskan tanda-tanda zaman yang akan mencirikan periode sejarah saat ini antara waktu kedatangan Kristus yang pertama dan kedua; Matius 24:15-25 menjelaskan periode “tribulasi besar” yang akan menimpa bangsa Israel dan mencakup kehancuran Bait Suci Yerusalem; dan Matius 24:26-25:46 berfokus secara khusus pada kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman dan mencakup panggilan untuk berjaga-jaga sampai Ia datang kembali.
Tanda-Tanda Zaman dan Periode Antar-Kedatangan
Bagian pertama dari diskursus ini (24:4-14) menjelaskan berbagai tanda yang akan mencirikan sejarah sebelum kedatangan Kristus yang kedua: mesias-mesias palsu (ay. 5), perang dan kabar-kabar tentang perang (ay. 6), kelaparan dan gempa bumi (ay. 7), penganiayaan (ay. 9), kemurtadan (ay. 10), nabi-nabi palsu (ay. 11), kedurhakaan (ay. 12), dan pemberitaan Injil kepada semua bangsa (ay. 14). Kalangan preteris berpendapat bahwa semua tanda ini mendahului kehancuran Bait Suci Yerusalem. Semua itu adalah peristiwa-peristiwa masa lalu dan tidak merujuk kepada situasi-situasi yang akan terjadi pada keseluruhan masa di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua. Kalangan futuris berpendapat bahwa meskipun beberapa situasi ini mungkin mencirikan periode antar-kedatangan Kristus, namun situasi-situasi ini secara khusus merujuk kepada peristiwa-peristiwa “akhir zaman” persis sebelum kedatangan Kristus yang kedua.
Tidak satu pun dari pandangan-pandangan itu benar. Dari keseluruhan ayat-ayat tersebut, tampak jelas bahwa Yesus sedang menjawab bagian kedua dari pertanyaan para murid mengenai kedatangan-Nya yang kedua dan akhir zaman. Salah satu tema yang berulang kali muncul pada bagian pembuka diskursus ini adalah bahwa para murid seharusnya mengharapkan waktu telah berjalan cukup lama sebelum “akhir” itu tiba. Situasi-situasi yang disebutkan Yesus itu adalah “permulaan penderitaan lahirnya zaman baru” (ay. 8; baca juga Rm. 8:20-25). Para murid seharusnya tidak “gelisah” bilamana semua ini terjadi (Mat. 24:6). Mereka juga seharusnya tidak cepat menyimpulkan bahwa saat “akhir” itu sudah dekat. “Barulah kesudahan tiba” bila Injil Kerajaan telah “diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa” (ay. 14). Maka, penafsiran paling mungkin atas bagian diskursus Yesus ini adalah bahwa Ia sedang memberi sebuah pemandangan panoramik tentang sejarah penebusan sebelum kedatangan-Nya pada akhir zaman.
Kehancuran Bait Suci
Pada bagian kedua dari diskursus tersebut (ay. 15-25), Yesus mengalihkan perhatian-Nya kepada bagian pertama dari pertanyaan para murid: Kapankah Bait Suci akan dihancurkan? Meski para penulis futuris (dispensasional) mempertahankan bahwa nubuat Yesus tentang kehancuran Bait Suci merujuk kepada sebuah peristiwa masa depan yang akan terjadi setelah kedatangan Kristus dan “rapture/pengangkatan” Gereja, konteks nubuat Yesus dan ayat yang paralel pada Lukas 21:20 secara meyakinkan menentang pandangan ini. Konteks yang jelas untuk bagian diskursus ini adalah pertanyaan para murid mengenai kapan Bait Suci dihancurkan. Bahasa yang digunakan Yesus, termasuk rujukan-Nya kepada nubuat dalam Daniel 9:17 (Mat. 24:15), terlalu spesifik dan grafis sehingga hanya dapat dipahami sebagai deskripsi nubuat tentang apa yang terjadi pada waktu kehancuran Bait Suci tahun 70 M. Selain itu, ketika Yesus berkata di ayat 34 bahwa “Generasi ini tidak akan berlalu sebelum semuanya itu terjadi” (penekanan ditambahkan), Ia mengatakannya tidak lama setelah memberikan deskripsi jelas tentang kehancuran bangunan Bait Suci. Karena itu, para penafsir Reformed secara seragam memahami bagian diskursus ini sebagai jawaban Yesus kepada pertanyaan para murid menyangkut waktu kehancuran Bait Suci.
Kedatangan Anak Manusia: Sebuah Pertanyaan tentang Waktu
Akan tetapi, bagian tersulit dari Diskursus Bukit Zaitun ditemukan pada apa yang saya sebut sebagai bagian ketiga. Di dalam bagian ini, Yesus kembali kepada bagian kedua dari pertanyaan para murid: “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda akhir zaman?”
Mengenai bagian diskursus ini dan kaitannya dengan apa yang disampaikan pada selebihnya dari Matius 24 dan 25, para penafsir Reformed memiliki dua pandangan yang cukup berbeda. Beberapa berpendapat bahwa “kedatangan Anak Manusia”, khususnya yang dijelaskan dalam 24:27-31, merujuk kepada kedatangan Yesus untuk menghakimi orang Israel yang tidak percaya pada waktu Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Menurut pandangan mereka, seluruh Matius 24:4-34 merupakan deskripsi nubuat tentang apa yang akan terjadi pada waktu itu. Hanya setelah ayat 34 Yesus mulai berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua. Yang lain berpendapat bahwa pada titik ini Yesus kembali kepada bagian kedua dari pertanyaan para murid. Menurut pendapat mereka, ada cukup alasan untuk melihat kedatangan Anak Manusia pada titik ini (sebagaimana pada selebihnya dari Matius 24-25) sebagai kedatangan Kristus yang kedua. Dengan mengambil risiko terlalu menyederhanakan persoalan, dua argumen mendukung penafsiran kedua.
Pertama, bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kedatangan Anak Manusia dalam 24:27-31 paralel dengan banyak perikop Alkitab yang merujuk kepada kedatangan Kristus yang kedua. Kedatangan Anak Manusia dalam ayat-ayat tersebut merupakan sebuah peristiwa publik, seperti kilat yang memancar dari timur ke barat (ay. 27). Kedatangan itu akan disaksikan oleh “semua bangsa di bumi” yang akan “melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan kuasa dan kemuliaan yang besar” (ay. 30). Yesus dengan jelas mengidentifikasikan kedatangan ini sebagai “tanda Anak Manusia”, jelas merupakan rujukan kepada bagian kedua dari pertanyaan para murid di ayat 3. Selain itu, peristiwa-peristiwa yang menyertai kedatangan ini—pengutusan para malaikat untuk mengumpulkan bangsa-bangsa, bunyi sangkakala yang dahsyat, tanda-tanda kosmis seperti matahari akan menjadi gelap dan guncangnya langit, ratapan bangsa-bangsa (ay. 29, 31)—paralel dengan deskripsi-deskripsi umum dalam Perjanjian Baru tentang kedatangan Kristus yang final dan penghakiman terhadap orang yang hidup dan yang mati (misalnya, Mat. 13:40-41; 16:27; 25:31; 1Kor. 11:26; 15:52; 16:22; 1Tes. 4:14-17; 2Tes. 2:1-8; 2Ptr. 3:10-12; Why. 1:7).
Kedua, kontras antara Matius 24:34 dan 24:36 menunjukkan perbedaan tajam antara waktu Bait Suci Yerusalem akan dihancurkan dan kedatangan Kristus yang kedua. Sejalan dengan dua fokus dari pertanyaan para murid, ayat 34 menegaskan bahwa kehancuran Bait Suci akan terjadi dalam masa hidup generasi yang dengannya Ia sedang berbicara, sementara ayat 36 mengajarkan bahwa tidak seorang pun mengetahui “hari” ketika Ia datang pada akhir zaman. Sebagaimana dikatakan oleh John Murray mengenai ayat-ayat ini:
Adalah sebuah kesalahan besar bila kita mengabaikan kelanjutan ayat 36 dan karenanya gagal menafsirkan ayat 34 sebagaimana mestinya. Ini akan membuat para murid memahami perbedaan antara kehancuran Yerusalem dan peristiwa-peristiwa terkait di lingkup yang lebih dekat, di satu sisi, dan hari kedatangan-Nya, di sisi yang lain.
Meski tetap ada pertanyaan-pertanyaan menyangkut tafsiran terbaik untuk Diskursus Bukit Zaitun, tetapi satu hal yang pasti: nubuat Yesus tentang kehancuran Bait Suci telah tergenapi, dan peringatan-Nya bahwa kita harus bersiap menyambut kedatangan-Nya kembali harus diperhatikan.


