
Apakah Yesus Sempurna?
08 Juli 2026Bagaimana Saya Bisa Bertumbuh dalam Hikmat?
Alkitab mengajarkan bahwa kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan hal-hal yang saling bertentangan; di antaranya adalah hikmat dan kebodohan. Dua hal ini mewakili dua jalan yang saling bertolak-belakang, yang membentuk kehidupan individu. Hikmat dikaitkan dengan jalan kehidupan, sedangkan kebodohan dengan jalan kematian.
Hikmat sering kali didefinisikan sebagai pengetahuan praktis atau kemampuan untuk menerapkan pengetahuan secara terampil. Sebagai orang Kristen, kita perlu membawa ini selangkah lebih jauh dengan mengingat perkataan Salomo: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Ams. 1:7). Menurut Kitab Suci, hikmat menerapkan pengenalan akan Allah ke dalam kehidupan. Dengan kata lain, hikmat adalah keterampilan untuk hidup saleh.
Keterampilan ini diperlukan dalam setiap area kehidupan. Kita seharusnya memiliki hikmat dalam perkataan, relasi, rumah tangga, pekerjaan, perasaan, seksualitas, kepemimpinan, kewarganegaraan, rencana, manajemen, dan penggunaan sumber daya. Tiada satu hal pun di dalam rutinitas harian kita yang tidak memerlukan hikmat, sebab tujuan kita adalah hidup dengan terampil dalam segala sesuatu untuk kehormatan dan kemuliaan Allah.
Akan tetapi, bagaimana kita bisa bertumbuh dalam hikmat? Mungkin akan menolong bila kita membayangkan bagaimana kita bisa bertumbuh dalam suatu keterampilan apa pun. Ketika kita ingin belajar melakukan sesuatu dengan baik, itu membutuhkan upaya yang disengaja, pengajaran, dan penerapan. Bertumbuh dalam keterampilan hikmat tidak ada bedanya.
Upaya yang Disengaja
Keterampilan hikmat adalah sesuatu yang kita minta dan sesuatu yang kita cari. Pada akhirnya, hikmat adalah manfaat yang diberikan kepada kita di dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata bahwa di dalam Yesus tersembunyi “segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:3). Tuhan kita memiliki hikmat tersebut demi kepentingan orang pilihan-Nya, sebagaimana kata Paulus di tempat lain, Ia “oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita” (1Kor. 1:30). Setelah diadopsi ke dalam keluarga Allah, kita telah dijanjikan hikmat di dalam Yesus, yang memberi kita keberanian untuk meminta, serta keyakinan bahwa Allah kita yang murah hati akan memberikannya (Yak. 1:5). Namun, pemberian hikmat tidak dapat dilepaskan dari sarananya.
Alkitab juga mengajarkan bahwa bertumbuh dalam hikmat terjadi melalui upaya yang disengaja. Hikmat bukanlah sifat bawaan; juga tidak otomatis kita dapatkan seiring pertambahan usia. Sekali lagi, sang raja bijaksana, mengarahkan bahwa kita harus mengejarnya.
Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak,
dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN
dan mendapat pengenalan akan Allah. (Ams. 2:4–5)
Kita bertumbuh dalam hikmat dengan meminta dan mencari: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat” (Mat. 7:7).
Diajarkan oleh Allah
Bertumbuh dalam sebuah keterampilan juga menuntut bimbingan; begitu pula dengan hikmat. Kita belajar tentang hikmat dari firman Allah dan dunia. Alkitab berkata,
Karena TUHANlah yang memberi hikmat,
dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. (Ams. 2:6)
Ajaran dari Kitab Suci datang dalam banyak cara, tetapi Alkitab secara konsisten menekankan pentingnya orang tua mengajar anak-anaknya dalam hikmat. Ini jelas dicontohkan oleh Salomo sebagaimana bagian pertama dari kitab Amsal mengambil bentuk seorang ayah yang sedang mengajar anak laki-lakinya. Ia berkata:
Dengarkanlah, hai Anak-Anak, didikan seorang ayah,
dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,
karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu;
janganlah meninggalkan petunjukku.
Ketika aku masih sebagai anak bagi ayahku,
lemah, dan sebagai anak tunggal bagi ibuku,
aku diajari ayahku, katanya kepadaku,
“Biarlah hatimu memegang perkataanku.” (Ams. 4:1–4)
Kita juga dikuatkan oleh teladan Timotius, yang sejak kecil telah mengenal Kitab Suci, yang dapat memberi hikmat yang menuntunnya kepada keselamatan (2Tim. 3:15). Ada alasan yang baik untuk meyakini bahwa ia menyimak ajaran ibu dan neneknya ketika mereka mengajarkan hikmat tersebut kepadanya (baca 2Tim. 1:5).
Ciptaan adalah sebuah kitab yang juga dapat mengajarkan hikmat Allah kepada kita. Alasannya adalah karena Hikmat mengambil bagian dalam penciptaan, dan karenanya sidik jari Hikmat ada di mana-mana (Ams. 8:22-31). Perkataan Agur di penghujung kitab Amsal berikut sangat berkesan:
Ada empat binatang yang kecil di bumi,
tetapi sangat cekatan. (Ams. 30:24–28)
Ia melanjutkan dengan menyebut hikmat dari semut, pelanduk, belalang, dan cecak. Bahkan bagian-bagian ciptaan yang kecil dan tidak signifikan mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip untuk menjalani kehidupan yang terampil dan saleh.
Menerapkan Hikmat
Kita tidak akan mendapatkan atau meningkatkan keterampilan apa pun kecuali kita berkomitmen untuk melakukannya. Salomo berkata,
Hai Anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku,
dan hendaklah hatimu memelihara perintahku. (Ams. 3:1)
Ini sebabnya hikmat dan kebodohan diumpamakan dengan jalan. Tujuan utama dari jalan adalah agar Anda menjejakkan kaki dan berjalan di atasnya. Jika kita ingin bertumbuh dalam hikmat, kita harus mempraktikkan hikmat—tidak hanya menjadi pendengar tetapi juga pelaku. Ketika kita melakukannya, kita mungkin maju secara perlahan, tetapi pertumbuhan kita dijanjikan:
Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
Jalan orang fasik itu seperti kegelapan;
mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung. (Ams. 4:18–19)
Bertumbuh dalam hikmat tidak ada bedanya dengan belajar dan bertumbuh dalam keterampilan apa pun. Dengan cara yang sangat biasa, kita mengejarnya dengan upaya yang disengaja, sambil terus-menerus menerima pengajaran dari firman Allah dan ciptaan, serta mempraktikkan perintah-perintahnya, menjalankan kehidupan dengan kesalehan yang terampil sampai, oleh anugerah Yesus, kita disempurnakan dalam dunia yang akan datang.


