
Pengungkapan Diri Allah
09 Desember 2025
Kasih yang Sabar dan Baik Hati
09 Januari 2026Obat Bagi Hati Kita yang Terbagi
Ketika orang tua atau teman yang sudah lanjut usia meninggal dunia, kita sering bertanya kepada keluarga apakah mereka sempat mengucapkan salam perpisahan. Kata-kata terakhir sangat berharga, bukan hanya sebagai ucapan perpisahan terakhir, tetapi juga karena kata-kata tersebut sering kali mengandung kebijaksanaan dan kasih sepanjang hidup.
Kitab Suci membuka jendela bagi kita untuk melihat salah satu perpisahan tersebut, momen-momen terakhir antara seorang raja yang mendekati ajal dan putranya yang akan naik tahta: Daud dan Salomo. Setelah memberikan nasihat praktis tentang pemerintahan kerajaan, Daud masuk ke ranah pribadi. Bayangkan Daud, sebagai seorang ayah yang sudah tua, mendekatkan diri dan menatap mata Salomo: “Anakku Salomo, kenallah Allah ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan segenap hati” (1Taw. 28:9).
Kata “segenap” berarti “total” atau “utuh,” sebagai lawan dari “sebagian”, yang menyiratkan sesuatu yang ditahan atau terbagi. Daud disebut sebagai orang yang sesuai dengan (LAI: berkenan di) hati Allah (lihat Kis. 13:22), tetapi Dia tahu kecenderungan hatinya untuk menyimpan bagian-bagian tertentu dalam hidupnya bagi dirinya sendiri dan tidak menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Dia memohon, “Bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu” (Mzm. 86:11).
Setiap kali kita percaya bahwa kita dapat mengasihi diri sendiri lebih baik daripada Allah, kita memisahkan sebagian dari hidup kita dengan sebutan “milikku” walau tidak kita ucapkan kepada Allah. Salomo menjadi raja yang perkasa, penuh hikmat dan kekuatan, tetapi ia mulai mencari hal-hal di luar janji-janji Allah untuk memuaskan hatinya. Hal itu dimulai dengan mencari pelarian pada para perempuan ketimbang pada Allah. Hal itu membawanya pada penyembahan berhala, membatasi pemancaran kemuliaan Allah, dan berbuah dalam perpecahan kerajaan yang menghancurkan.
Sungguh membuka mata bahwa kita dapat mengenakan ketopong keselamatan di kepala kita, memiliki jubah kebenaran Kristus yang menutupi kita, tetapi tetap hidup dalam bayang-bayang kompromi yang lahir dari hati yang terbagi. Meskipun keselamatan Kristus begitu sempurna dan pasti hingga bahkan neraka pun tidak dapat menggoncangkannya, hati yang terbagi merampas damai, buah yang dihasilkan, dan kebahagiaan yang terkandung dalam keselamatan-Nya. Hal itu meredupkan tujuan hidup kita, mengabaikan kemuliaan salib, dan menghambat kebaikan yang seharusnya mengalir dari hidup kita kepada orang lain.
Ada perbedaan yang jelas dalam jejak perjalanan hidup Daud dan Salomo. Sementara hidup Salomo semakin masuk ke dalam kompromi, Daud merespons dengan pertobatan yang tulus dan menemukan Allah siap untuk memulihkan: “Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia” (Mzm. 86:15). Kita pun memiliki pilihan—kita dapat mengabaikan atau menyembunyikan hati kita yang terbagi, atau kita dapat melepaskan, bertobat, dan memercayai lagi janji-janji-Nya.
Karena kasih Yesus yang sepenuh hati kepada kita, kita dapat datang kepada-Nya dengan hati yang terbagi dan dipulihkan sepenuhnya. Hati-Nya tidak pernah terbagi—ketika kita mati dalam dosa kita, Ia memberikan hidup-Nya kepada kita; ketika kita adalah musuh-Nya, Ia mendamaikan kita dan memanggil kita sebagai sahabat-Nya. Betapa anugerah yang luar biasa! Tujuan Allah bagi hidup kita melampaui segala kebesaran atau kebahagiaan yang dapat kita bayangkan atau ciptakan untuk diri kita sendiri. Dan ketika kita memandang kepada Allah dan percaya pada janji-janji-Nya, hidup kita akan bersinar terang dengan kemuliaan, tujuan, dan kasih-Nya.


