
Penghiburan dari Doa-Doa Yesus
02 Februari 2026
Mengapa Good Friday (Jumat Agung) disebut “Good” (Baik)?
06 Februari 2026Satu Tuhan
Delapan belas tahun yang lalu, saya sungguh terkejut ketika saya duduk dalam kelas Perjanjian Lama pertama dalam perjalanan karier akademis saya. Saya kuliah di sebuah universitas sekuler, jadi saya tidak berharap banyak akan pengajaran Alkitab yang benar. Namun, saya tadinya berharap Kitab Suci akan diperlakukan secara adil karena profesor saya adalah seorang Yahudi Ortodoks. Anda dapat bayangkan betapa terkejutnya saya ketika profesor saya mengatakan bahwa orang Israel kuno yang setia tidak menyangkal keberadaan ilah-ilah lain. Dia berkata bahwa mereka menyembah Yahweh di atas ilah-ilah lain, tetapi mereka percaya bahwa ilah-ilah itu nyata.
Kalangan liberal “kritik tinggi” menerima pandangan profesor saya sebagai dogma, yang adalah henoteisme. Monoteisme sejati—keyakinan bahwa hanya ada satu Allah—muncul belakangan dalam sejarah Israel, kata para kritikus itu. Dukungan terhadap henoteisme sebagian besar didasarkan pada referensi pembacaan tentang “ilah-ilah lain” dalam Pentateukh sebagai bukti bahwa Musa mengatribusikan keberadaan sebenarnya dari ilah-ilah dari bangsa-bangsa lain, tetapi percaya bahwa Israel harus menyembah Yahweh saja (sebagai contoh, Kel. 20:3).
Para ahli yang tidak percaya harus berfokus pada hal-hal kecil dan mengabaikan konteks yang lebih besar untuk “menemukan” henoteisme dalam Kitab Suci. Bahwa Musa menegaskan keberadaan dari hanya satu Allah sudah jelas dari pasal pertama Pentateukh. Tidak seperti kisah-kisah penciptaan di Timur Dekat kuno lainnya, kita tidak membaca bahwa peperangan antara ilah-ilah yang menghasilkan bumi. Kejadian 1 menyajikan Allah yang esa yang “menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Yahweh, satu-satunya aktor dalam narasi ini, membentuk alam semesta dengan Firman-Nya.
Mengingat maraknya politeisme di Timur Dekat kuno, para penulis Alkitab berulang kali menekankan bahwa hanya ada satu Allah. Tepat sebelum Shema dan penegasan monoteismenya, kita membaca bahwa “tidak ada [Tuhan] yang lain” (Ul. 4:39). Hanya Yahweh yang memberikan respons dalam pertarungan antara Elia dan para nabi Baal, karena Yahweh ada dan Baal tidak ada (1Raj. 18:20-40). Yesaya berkata, “Akulah TUHAN [Yahweh] dan tidak ada yang lain” dan menunjukkan kebodohan akan penyembahan ilah-ilah yang diwakili oleh berhala-berhala kayu (Yes. 44).
Para Rasul menyatakan monoteisme secara paling tegas ketika mereka berhadapan dengan paganisme Yunani. Paulus melanjutkan penyangkalan Perjanjian Lama terhadap keberadaan ilah-ilah lain dalam Roma 1 dengan menjelaskan bahwa politeisme muncul ketika manusia menekan pengetahuan mereka akan satu-satunya Allah yang sejati dan membentuk ilah-ilah yang dapat mereka manipulasi (Rm. 1:18-23). Rasul yang sama mengingatkan Timotius, yang melayani dalam konteks pagan, bahwa “Allah itu esa” (1Tim. 2:5). Di sepanjang kitab Wahyu, Yohanes menunjukkan kesia-siaan agama Romawi dengan menggambarkan kejatuhan pada akhirnya dari siapa pun yang mengklaim takhta Tuhan Yang Mahakuasa.
Kenyataan bahwa Allah yang esa mewahyukan diri-Nya kepada ciptaan-Nya merupakan dasar dari monoteisme alkitabiah. Apa gunanya mengetahui tentang keberadaan Allah yang esa tanpa mengetahui apa pun tentang Dia? Jika demikian, Allah ini secara fungsional tidak ada, membiarkan kita untuk menerka kehendak-Nya sendiri, itupun kalau Ia peduli apakah kita mengikutinya. Akan tetapi, Allah dalam Kitab Suci mewahyukan diri-Nya—sesungguhnya, Dia harus mewahyukan diri-Nya sendiri supaya kita bisa mengenal-Nya. Wahyu ini datang melalui ciptaan itu sendiri (Mzm. 19; Rm. 1:18-32), tetapi pengetahuan yang menyelamatkan akan Sang Pencipta hanya mungkin melalui wahyu khusus, yaitu Alkitab (Mat. 11:27; 2Tim. 3:16-17).
Jadi Kenapa?
Monoteisme alkitabiah bukanlah sekadar spekulasi abstrak, tetapi memiliki setidaknya empat konsekuensi praktis bagi kehidupan dan pelayanan:
Kepastian—Allah benar-benar mewahyukan diri-Nya dengan jelas, sehingga kita tidak perlu menebak-nebak apa yang Dia harapkan dari kita. Orang-orang modern sering kali memandang diri mereka sebagai “pencari” yang mengupayakan yang terbaik untuk mencari tahu tentang Allah. Namun, dugaan semata adalah fondasi yang goyah untuk tujuan kekal seseorang.
Keberanian— Orang Kristen Barat belum dilemparkan ke singa. Namun, jika suatu saat kami menghadapi penderitaan yang serius, kami tidak akan bertahan jika kami tidak yakin bahwa Allah Kitab Suci adalah satu-satunya Allah. Kita akan menyangkal Kristus saat tanda awal kesulitan muncul jika kita bimbang tentang fakta bahwa Allah yang esa berarti satu Juru Selamat bagi dunia. Tanpa fondasi ini, kita akan tunduk pada relativisme agama. Komitmen Daniel terhadap monoteisme menguatkannya untuk menentang paganisme. Dengan anugerah Allah, kita mengikuti teladannya. Kita tidak takut akan apa yang dapat dilakukan musuh-musuh kita terhadap harta benda, sanak saudara, atau nyawa kita yang fana, karena jika Allah itu esa dan kita ada di pihak-Nya, penganiayaan hanyalah “penderitaan ringan yang sementara ini” dibandingkan dengan “bobot kemuliaan kekal” yang telah disiapkan untuk kita (2Kor. 4:7-18).
Keyakinan— Keyakinan dan keberanian tidak dapat dipisahkan dan saling bergantung. Keberanian memampukan kita untuk bertekun dalam kasih kepada satu-satunya Allah yang sejati. Keyakinan memampukan kita untuk berdiri teguh bahkan sebelum kesulitan menghampiri kita. Jika iman kita didasarkan pada fakta bahwa hanya ada satu Allah dan oleh karena itu hanya ada satu kebenaran, maka khotbah, pengajaran, penginjilan, dan keterlibatan budaya kita akan menjadi kuat. Kita akan menantang benteng-benteng pertahanan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, dan Roh Kudus akan menggunakan kata-kata kita untuk melembutkan hati orang-orang berdosa. Gereja sangat membutuhkan pria dan wanita yang memiliki keyakinan yang saleh. Keyakinan seperti itu dimulai dengan komitmen yang teguh terhadap monoteisme alkitabiah.
Kejelasan—Memahami monoteisme alkitabiah menolong kita untuk melihat jelas tentang apa yang kita percayai dan harus kita ajarkan. Kita tidak percaya kepada Allah yang esa yang dikenal dengan banyak nama dan yang menawarkan banyak jalan keselamatan. Kita tidak setuju bahwa kita hanya perlu percaya tentang keberadaan Allah yang esa. Kita mengakui bahwa kita harus percaya kepada Allah Alkitab, yang tidak disembah bahkan oleh orang-orang Muslim, Mormon, Saksi-Saksi Yehuwa, animisme, atau orang-orang Yahudi modern, yang bermaksud baik sekalipun.
Bukan Unitarianisme
Lebih jelasnya, monoteisme alkitabiah bukanlah unitarianisme. Kepenuhan dari kesaksian Shema tentang keesaan Allah ada dalam pengajaran Alkitab, yaitu bahwa keesaan-Nya bukanlah kesatuan yang tidak dapat dibedakan. Keesaan-Nya berkaitan dengan esensi ilahi-Nya, tetapi esensi ilahi yang satu ini dimiliki secara penuh dan setara oleh tiga pribadi yang berbeda. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah ilahi secara penuh dan setara, tetapi Bapa bukanlah Anak dan Anak bukanlah Roh (Yoh. 1:1; Yoh. 14:16-17; 2Kor. 13:14).
Keselamatan adalah karya Allah Tritunggal. Bapa mengutus Anak; Anak menebus dosa; dan Roh Kudus menerapkan penebusan ini kepada kita. Roh Kudus melahirbarukan umat-Nya; dengan demikian, mereka percaya hanya kepada Anak; dan Anak mempersembahkan kerajaan orang-orang pilihan Tuhan kepada Bapa agar “Allah menjadi semua di dalam semua” (Yoh. 3:5, 16; 1Kor. 15:20-28; Ibr. 1:1-4).
Kita tidak perlu sepenuhnya memahami Tritunggal untuk dapat diselamatkan. Pemahaman seperti itu mustahil bagi makhluk ciptaan. Namun, seperti yang dinyatakan dalam Pengakuan Iman Athanasius, tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan jika menyangkal bahwa kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal, dan Tritunggal dalam Kesatuan.


