Kebenaran yang Tak Berubah dalam Dunia yang Berubah
28 Januari 2026
Penghiburan dari Doa-Doa Yesus
02 Februari 2026
Kebenaran yang Tak Berubah dalam Dunia yang Berubah
28 Januari 2026
Penghiburan dari Doa-Doa Yesus
02 Februari 2026

Belajar dari Periode Hakim-Hakim

Periode sejarah tertentu menarik perhatian saya sebagai periode sejarah yang sangat instruktif bagi seluruh perjalanan sejarah. Artinya, terkadang kita dapat memusatkan perhatian pada satu periode waktu di masa lalu, mengamati bagaimana seluruh rentang sejarah manusia mengulang periode tertentu tersebut, dan kemudian belajar dari periode tersebut apa yang harus kita lakukan saat ini. Salah satu periode yang instruktif ini adalah periode hakim-hakim Israel. Periode ini, yang diceritakan kepada kita dalam kitab Hakim-hakim dan Rut serta pasal-pasal awal dari kitab 1 Samuel, mencakup periode sekitar 350 tahun. Jika Anda ingin membayangkan seberapa panjang rentang waktu periode ini, ingat kembali ke pertengahan abad ketujuh belas di Amerika. Ingatlah semua sejarah yang telah terjadi di Amerika dari periode 125 tahun sebelum Perang Revolusi hingga hari ini. Itu adalah rentang waktu yang sama dengan periode yang dicakup oleh hakim-hakim.

Selama periode sekitar tiga setengah abad ini, tidak ada raja di Israel, tidak ada pemimpin tunggal di bangsa itu. Israel hidup di tanah Kanaan sebagai sebuah federasi suku, dipimpin oleh suksesi orang demi orang yang dibangkitkan oleh Allah pada masa krisis dan diberi kuasa untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Di bawah kuasa Roh Kudus, Simson mengerahkan kekuatan fisik yang luar biasa untuk melawan orang Filistin. Debora dan Barak diurapi untuk mengalahkan Raja Yabin yang jahat. Dan seterusnya.

Nah, alasan saya percaya bahwa periode hakim-hakim adalah periode yang instruktif untuk aliran seluruh sejarah adalah pola yang kita lihat selama 350 tahun tersebut. Berulang kali selama periode ini, kitab Hakim-hakim memberi tahu kita, bangsa Israel akan menemukan diri mereka dalam suatu siklus yang dimulai seperti ini: “Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” Dan setiap kali kita membaca frasa tersebut dalam kitab Hakim-hakim, kita melihat bahwa Allah akan membangkitkan musuh-musuh Israel—orang Midian, orang Filistin, orang Moab, dan lainnya—sebagai alat penghukuman terhadap umat-Nya. Bangsa-bangsa pagan itu akan menindas bangsa Israel, yang kemudian berteriak meminta kelegaan dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Kemudian, Allah akan membangkitkan salah satu hakim yang, di bawah kuasa Roh Kudus, akan mengalahkan musuh-musuh Israel dan membawa pembebasan. Seorang ahli menyebut hal ini sebagai siklus kejatuhan kembali, penghukuman, pertobatan, dan penyelamatan. Setiap kejatuhan kembali dalam dosa yang menjijikkan yang dicatat dalam kitab Hakim-hakim diikuti dengan keadilan retributif Allah di mana Dia mencurahkan penghakiman dan murka-Nya terhadap umat-Nya sendiri. Di bawah beban keadilan retributif Allah itu, umat itu kemudian dibawa kepada pertobatan, dan mereka meratapi keadaan mereka serta menantikan penyelamatan mereka dari Allah, yang menebus mereka.

Sejarah kelam dari dosa Israel pada masa hakim-hakim bertentangan dengan apa yang disumpahkan oleh bangsa itu. Ketika Yosua mengumpulkan umat bersama-sama untuk memperbarui perjanjian mereka dengan Tuhan tepat sebelum kematiannya, bangsa Israel menjanjikan dua hal, satu secara positif dan satu secara negatif. Secara positif, mereka berjanji untuk menaati Allah. Secara negatif, mereka berjanji untuk tidak meninggalkan-Nya demi berhala-berhala.

Hal ini sangat penting mengingat janji yang Allah buat berulang kali kepada para bapa leluhur. Misalnya, ketika Ia mengikatkan diri-Nya kepada Yakub, Ia berkata, “Aku tidak akan meninggalkan engkau” (Kej. 28:15). Sumpah perjanjian Allah kepada mereka yang memiliki relasi dengan-Nya adalah tema utama dalam Kitab Suci. Kitab Hakim-hakim menjadi bukti akan hal itu, bahwa meskipun Allah menghukum umat-Nya, Dia sedang menghukum anak-anak-Nya yang Dia kasihi. Meskipun mereka merasa ditinggalkan untuk sementara waktu, Allah tidak sepenuhnya meninggalkan mereka.

Namun, yang menjadi catatan adalah bahwa umat meninggalkan-Nya. Itulah perbedaan besar antara Allah Israel—Allah perjanjian—dan umat-Nya. Allah tidak meninggalkan kita, tetapi kita condong untuk meninggalkan-Nya. Apa yang memicu orang Israel meninggalkan Allah pada masa hakim-hakim adalah keinginan besar orang Israel untuk menjadi seperti bangsa-bangsa di sekitar mereka. Allah telah memanggil mereka untuk menjadi tidak sama dengan mereka. Allah telah memanggil mereka untuk menjadi bangsa yang kudus. Allah telah memanggil mereka untuk menjadi saleh dan menjauhi penyembahan berhala, tetapi hal itu tidak populer pada masa itu. Hal itu sering tidak populer dalam sejarah gereja. Tidak diragukan lagi, hal itu juga tidak populer saat ini.

Umat Allah menghidupi kembali siklus kejatuhan kembali, penghukuman, pertobatan, dan penyelamatan berulang kali di sepanjang sejarah Alkitab. Dan saya berani mengatakan, gereja juga mengalami siklus yang sama selama dua ribu tahun terakhir ini. Namun, kita memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa hal-hal seperti itu tidak mungkin terjadi dalam kehidupan gereja saat ini. Kita menolak untuk memperhatikan pola tindakan Allah yang berulang ini, karena kita percaya bahwa Allah tidak akan mendatangkan malapetaka kepada umat yang meninggalkan-Nya. Akan tetapi, Allah Israel adalah Allah yang menjanjikan baik berkat maupun kutuk, baik kemakmuran maupun malapetaka. Kita tidak perlu heran melihat gereja mengalami masalah ketika gereja menjadi duniawi, ketika gereja tidak setia kepada Tuhan. Kadang-kadang, tentu saja, gereja menderita karena kesetiaannya, karena kuasa kegelapan merespons dengan permusuhan terhadap kemajuan transformasi Injil. Namun, di saat yang lain, gereja menderita karena ketidaksetiaan yang meluas dan terus-menerus. Hal itu terjadi pada zaman hakim-hakim, dan hal itu juga dapat terjadi pada zaman sekarang.

Meskipun demikian, kita membaca dalam kitab Hakim-hakim bahwa ketika bangsa Israel bertobat, Allah menyelamatkan mereka. Tidak peduli seberapa parah umat perjanjian Allah gagal, Tuhan kita dengan segera menyelamatkan gereja-Nya ketika gereja bertobat. Umat-Nya meninggalkan Dia, tetapi Dia tidak pernah meninggalkan mereka. Penghakiman dimulai dari rumah Allah (1Ptr. 4:17), tetapi penghakiman itu adalah penghakiman yang bersifat mendisiplinkan, bukan menghancurkan. Penghakiman itu dirancang untuk menggerakkan kita kepada pertobatan dan kesetiaan. Zaman hakim-hakim menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan pasti tidak akan gagal menyelamatkan dan memelihara gereja-Nya ketika gereja-Nya bertobat dan berseru kepada-Nya.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.