3 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Surat Ibrani
20 Maret 2026
Menemukan Pengharapan di Tengah Penyakit Berat
25 Maret 2026
3 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Surat Ibrani
20 Maret 2026
Menemukan Pengharapan di Tengah Penyakit Berat
25 Maret 2026

Apakah Allah Sungguh Peduli?

Pada titik terendah dalam keputusasaan atau dalam kecemasan yang ekstrem, orang percaya sering bertanya-tanya—meski mungkin hanya dalam hati mereka sendiri—apakah Allah benar-benar peduli pada mereka. Jika itu adalah Anda, saya punya kabar baik.

Sebuah Pertanyaan Umum

Pertama, Anda tidak sendirian. Orang-orang percaya telah mengajukan pertanyaan ini di sepanjang sejarah. Nabi Habakuk melihat keadaan umat Allah—diinjak-injak dan ditindas oleh orang fasik—dan berseru,

Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak,

tetapi tidak Kaudengar? (Hab. 1:2; lihat juga 1:3, 13).

Para pemazmur sering kali memohon kepada Allah untuk “membangunkan” diri-Nya, mempertanyakan kepedulian-Nya ketika kepedihan tampaknya tidak dijawab (Mzm. 35:23; 44:24). Meskipun mereka tahu bahwa Allah tidak pernah tidur (Mzm. 121:4), sikap-Nya yang terlihat diam di tengah-tengah penderitaan mereka membuat mereka bertanya-tanya apakah Dia benar-benar peduli.

Pergumulan ini tidak terbatas pada Perjanjian Lama. Pada saat terdesak, para murid berseru kepada Yesus, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38). Bahkan dalam hal-hal biasa, orang-orang percaya bergumul dengan pertanyaan ini. Marta, yang kewalahan dengan pekerjaannya, mempertanyakan apakah Yesus peduli bahwa ia dibiarkan melayani seorang diri (Luk. 10:40). Di sepanjang waktu dan keadaan, ketika Allah tidak mengintervensi penderitaan kita secepat yang kita harapkan (atau mencegah penderitaan itu sejak awal), orang-orang percaya dari segala zaman mempertanyakan kepedulian-Nya.

Jawaban yang Spektakuler

Kedua, Allah tidak membiarkan Anda sendirian untuk bertanya-tanya apakah Dia peduli. Dia telah menyatakan kepedulian-Nya kepada Anda dengan cara yang paling mendalam yang bisa dibayangkan: dengan mengutus Anak-Nya yang terkasih. Yohanes memberi tahu kita hal ini ketika ia menulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Ini berarti bahwa Kristus sepenuhnya memahami rasa frustrasi, kesakitan, dan ketakutan yang dialami oleh mereka yang hidup dalam dunia yang penuh dosa dan kesakitan, dan turut merasakan dengan Anda (Ibr. 4:15).

Terlebih lagi, pemeliharaan Allah menjadi nyata melalui aktivitas Roh Kudus. Ketika Yesus menjanjikan Roh Kudus, Ia menggambarkan-Nya sebagai “Penolong yang lain” yang tidak akan pernah meninggalkan kita (Yoh. 14:16). Tidak seperti teman manusia, yang mungkin menjadi lelah atau terdistraksi, Roh Kudus selalu menyertai Anda. Dia tidak pernah beristirahat, tidak pernah menyelinap pergi, dan tidak pernah meninggalkan Anda. Ini adalah penerapan dari janji yang fundamental dalam perjanjian Allah kepada Anda: “Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ul. 31:8; Ibr. 13:5). Hal ini benar bahkan ketika emosi Anda mengatakan bahwa Anda sendirian, ditinggalkan, dan berada di luar jangkauan pemeliharaan Allah.

Penderitaan Menunjuk pada Pemeliharaan Allah

Terakhir, Anda harus menyadari bahwa pemeliharaan Allah bukan berarti Anda akan terhindar dari penderitaan dan kefrustrasian. Sebaliknya, pemeliharaan-Nya berarti bahwa Anda akan menanggungnya dan bahkan bertumbuh melaluinya. Hal ini mungkin tampak kontra-intuitif. Namun, Allah berkata bahwa penderitaan, alih-alih menghancurkan kita, justru menghasilkan ketabahan, karakter, dan pengharapan (Rm. 5:3-5).

Beberapa penderitaan datang sebagai disiplin yang penuh kasih dari Bapa kita, yang dimaksudkan untuk kebaikan kita (Ibr. 12:7-11), yang berarti penderitaan kita—bahkan ketika penderitaan itu bersifat pendisiplinan—bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan, melainkan sebagai tanda kepedulian-Nya.

Penderitaan lain memungkinkan kita untuk berbagi dalam kehidupan Kristus. Paulus dengan berani menyatakan bahwa kita adalah “ahli waris … bersama Kristus, yaitu jika kita menderita bersama Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama Dia” (Rm. 8:17). Bahkan Kristus sendiri belajar taat melalui penderitaan (Ibr. 5:8). Jika kita ingin menjadi seperti Dia, kita harus belajar dengan cara yang sama. Alih-alih menjadi beban, penderitaan merupakan sebuah karunia—hak istimewa untuk berbagi dalam pengalaman Juru Selamat kita.

Kesimpulan

Ketika Anda tergoda untuk meragukan apakah Allah peduli, lihatlah pada salib. Di sana, kasih Allah dinyatakan sepenuhnya. Dia tidak akan—bahkan, tidak bisa—meninggalkan umat-Nya setelah membayar harga yang begitu mahal. Dia tidak akan membayar harga yang begitu mahal jika Dia tidak sungguh-sungguh peduli dengan umat-Nya—dengan Anda—sejak awal. Penderitaan Anda tidak lantas menjadi tanda bahwa Allah telah menarik kemurahan-Nya; sebaliknya, penderitaan Anda bisa jadi merupakan bukti dari karya-Nya yang sedang berlangsung di dalam diri Anda.

Teguhkanlah hatimu. Ketika keraguan datang dan iman Anda terasa rapuh, Dia tidak akan melepaskan Anda. Suatu hari, ketika Anda melihat kembali ujian ini dari tempat yang damai, Anda akan melihat bahwa bukan kekuatan cengkeraman Anda pada salib yang menopang Anda, tetapi kekuatan tangan-Nya dengan bekas luka paku yang menopang Anda, menjaga Anda, menguatkan Anda, tidak pernah mengabaikan maupun meninggalkan Anda.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Josh Squires
Josh Squires
Pdt. Joshua A. Squires adalah associate minister bidang konseling di First Presbyterian Church di Columbia, South Carolina.