
Pertobatan Sejati Menuju Kehidupan
23 Januari 2026
Kebenaran yang Tak Berubah dalam Dunia yang Berubah
28 Januari 2026Umat Peziarah
Ada sesuatu yang istimewa tentang berada di rumah, tidakkah begitu? Saya diingatkan akan hal ini setiap kali saya bepergian. Saat menulis kolom ini, hanya beberapa minggu sejak kami kembali dari perjalanan studi Ligonier di Karibia. Kami menghabiskan waktu yang indah untuk belajar dan bersekutu dengan teman-teman dan pendukung Ligonier, dan banyak dari mereka mungkin sedang membaca kolom ini saat ini. Namun, terlepas dari kenikmatan saya selama perjalanan, saya senang bisa kembali ke rumah. Saya merasa sama setiap kali bepergian. Saya mencintai tanah air saya dan senang kembali ke Amerika Serikat bahkan setelah perjalanan yang penuh berkat.
Meskipun saya senang kembali ke Amerika, saya harus mengakui bahwa ketika saya pulang ke negara saya, saya rindu berada di tempat lain. Pada akhirnya, Amerika Serikat hanyalah sebuah penginapan, tempat untuk beristirahat dalam perjalanan menuju rumah sejati saya—kota di surga. Sebagai seorang Kristen, saya menyadari bahwa saya tidak akan pernah benar-benar di rumah hingga saya bersama Juru Selamat saya di surga. Sebuah lagu rohani lama mengungkapkannya dengan baik: “Dunia ini bukanlah rumahku . . . Aku hanya berjalan melewati.”
Umat Allah selalu merupakan apa yang kita sebut sebagai “umat peziarah.” Konstitusi gereja perjanjian lama pada masa Keluaran memberikan nama “peziarah” atau “pendatang” kepada bangsa Israel kuno. Hidup dalam keberadaan semi-nomaden di padang gurun, mereka tidak memiliki tempat permanen yang dapat disebut sebagai tempat milik mereka. Bahkan tempat ibadah mereka adalah sebuah tenda—Kemah Suci—yang harus dibongkar ketika Tuhan memanggil Israel untuk berpindah dan dipasang kembali ketika mereka mendirikan perkemahan baru. Belakangan, deskripsi Yohanes tentang inkarnasi melanjutkan tema ini. Firman Allah yang “telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh. 1:14) menerjemahkan istilah Yunani dengan akar kata yang sama yang berarti “kemah” atau “tabernakel” menjadi kata “tinggal”. Kristus secara harfiah “mendirikan kemahnya” atau “bertabernakel” di antara kita.
Karena itu, Kristus adalah Peziarah ultimat yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci. Ia menjadi Pendatang tingkat tertinggi dalam inkarnasi-Nya, meninggalkan rumah-Nya di surga demi kita. Ia datang ke dunia ini untuk berjalan bersama anak-anak Abraham, Ishak, dan Yakub dalam perjalanan mereka menuju rumah surgawi mereka.
Ibrani 11:13 menyatakannya demikian: Para orang kudus Perjanjian Lama, setelah melihat janji-janji itu dari jauh, “mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.” Musa, Abraham, dan yang lainnya berangkat dari rumah mereka di bumi dalam iman, mencari rumah surgawi yang Tuhan janjikan kepada mereka. Mereka menginginkan “tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi,” dan karena itu “Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (Ibr. 11:16).
Meskipun galeri iman dalam Ibrani 11 berfokus pada orang-orang percaya dalam perjanjian lama, perjalanan ziarah umat Allah tidak berakhir ketika mereka menetap di Kanaan, menaklukkan Yerusalem untuk pertama kalinya, atau bahkan ketika mereka kembali ke Tanah Perjanjian setelah pembuangan. Jemaat Kristen adalah umat peziarah. Rasul Petrus menyatakan dengan jelas: “Saudara-saudara yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1Ptr. 2:11). Kita masih menantikan kota suci dan Yerusalem surgawi. Itulah rumah yang untuknya kita dicipta. “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Allah sendiri akan menyertai mereka sebagai Allah mereka” (Why. 21:3).
Di sisi ini dari surga, Tuhan memberi kita kilasan tentang rumah surgawi kita dengan berbagai cara, khususnya ketika kita berkumpul untuk ibadah bersama. Saya telah mengalami hal ini di gereja asal saya, Saint Andrew’s Chapel, di mana setiap hari Tuhan kami berkumpul dan melintasi ambang pintu dari yang sekuler menuju yang sakral. Namun, saya juga telah melihatnya ketika saya beribadah di negeri-negeri asing.
Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saya melakukan perjalanan melintasi Eropa Timur untuk berkhotbah dan mengajar di beberapa negara yang sebelumnya tertutup bagi misionaris Kristen selama pemerintahan Komunis, yang baru saja berakhir beberapa tahun sebelumnya. Di salah satu gereja di Transylvania, saya berkesempatan berkhotbah pada suatu Minggu pagi, dan ketika saya memandang jemaat, saya melihat banyak wanita lansia, wajah mereka dipenuhi kerutan yang terbentuk dari tahun-tahun bekerja keras di ladang dengan alat primitif. Meskipun mereka berpakaian serba hitam—rok hitam, blus hitam, dan kerudung hitam—namun tetap ada ketenangan yang terpancar dari mereka. Mereka terlihat hampir seperti malaikat. Para wanita ini mendengarkan khotbah saya dengan saksama, dan kadang-kadang saya bahkan melihat air mata mengalir di salah satu pipi mereka.
Berdiri di sana, saya mendengar khotbah saya diterjemahkan ke dalam bahasa ibu mereka yaitu bahasa Rumania, dan saya takjub dengan apa yang sedang terjadi. Saya merasa ada ikatan kekeluargaan yang nyata dengan mereka, ikatan yang terbentuk dari sesuatu yang bukan dari dunia ini. Kami tidak memiliki kesamaan apa pun. Kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, berasal dari budaya yang berbeda, mengikuti adat istiadat yang berbeda, dan selain ini tidak ada yang mengikat kami bersama. Akan tetapi, kami sungguh memiliki ikatan penuh berkat yang mengikat—kasih yang sama terhadap Firman Allah. Kami semua adalah warga kerajaan surga, melintasi dunia ini di berbagai wilayah geografis, tetapi dengan kesatuan yang mendalam yang berasal dari kesatuan bersama kami dengan Kristus. Saya dan para wanita petani itu sama-sama peziarah yang sedang menuju negeri surgawi.
Allah memberikan banyak berkat kepada kita di dunia ini dan di rumah kita di bumi. Namun demikian, “dunia ini bukanlah rumah [kita] . . . “[kita] hanya berjalan melewati.”


