5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Perjuangan Melawan Dosa

11 Maret 2026

5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Musa

16 Maret 2026

5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Perjuangan Melawan Dosa

11 Maret 2026

5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Musa

16 Maret 2026

5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Kekudusan

1. Kekudusan Allah itu penting.

“Kudus, kudus, kuduslah TUHAN Semesta Alam” (Yes. 6:3; lihat juga Why. 4:8). Ini adalah kata-kata yang dideklarasikan di surga ketika Yesaya dibawa ke hadapan Tuhan yang duduk di atas takhta-Nya. Makhluk-makhluk surgawi berdiri dengan takjub akan natur ilahi dan kemurnian Allah yang tak tertandingi. Ketika kita bertemu dengan Yang Maha Kuasa dan melihat Dia sebagaimana adanya Dia, kita merespons dengan cara yang sama. Kerusakan kita disingkapkan oleh cahaya yang paling terang (Yes. 6:5) dan kita diyakinkan akan penghakiman yang mengerikan dan pasti atas dosa. Namun, secara ajaib, dan pasti, keselamatan yang mulia juga keluar dari kekudusan-Nya (Yes. 6:6-7).

Namun, terlalu sering kekudusan Allah tampak tidak berdampak, sebuah topik yang kurang atau bahkan tidak diminati. Ketika kita dibutakan oleh dosa, kekudusan-Nya tampak tidak penting. Meskipun demikian, Allah tetap kudus, dan semua karya-Nya selaras dengan kekudusan-Nya, termasuk penciptaan, keselamatan, dan penghakiman. Diakui atau tidak, kekudusan-Nya penting bagi semua karena kekudusan-Nya akan memengaruhi semua, baik dalam pembayaran untuk dosa ketika Allah mendatangkan penghakiman, ataupun dalam anugerah keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus, “Yang Kudus dan Benar” (Kis. 3:14).

 

2. Kekudusan itu penting untuk keselamatan.

Kita membutuhkan kekudusan untuk berjalan bersama Allah dan untuk mempersiapkan diri menghadapi penghakiman-Nya. Keberdosaan kita berarti kita tidak dapat mendapatkan kekudusan dengan kekuatan kita sendiri. Namun, ada kabar baik karena Allah berkehendak untuk membagikannya dan mengerjakannya di dalam diri kita melalui Roh Kudus-Nya (Rm. 15:16). Pada saat yang sama, kita harus “berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14). Ini berarti kita harus meningkatkan kekudusan kita. Allah juga menyediakan hal ini, tetapi kita harus secara aktif mencari Allah untuk melakukan pekerjaan ini di dalam diri kita. Kita harus bertujuan untuk menyenangkan hati-Nya, sementara Dia sendiri yang menyediakan kehendak dan kuasa untuk melakukannya (Flp. 2:12-13). Hal ini melibatkan mengakui dosa kita, berbalik dari dosa, dan mengikuti jalan kebenaran Allah. Dalam pemeliharaan-Nya sebagai Bapa bagi kita, Allah menghendaki agar umat-Nya memiliki hubungan pribadi dengan-Nya, di mana kita dapat dengan bebas datang kepada-Nya untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan. Meskipun kita sering mengecewakan-Nya, kita dapat bersukacita karena Dia akan menyelesaikan pekerjaan yang telah Dia mulai (Flp. 1:6).

 

3. Kekudusan adalah inti dari keselamatan.

Kekudusan Allah memiliki peran sentral dalam keselamatan, meskipun hal ini sering terabaikan. Di dalam Kristus, kekudusan Allah berarti penyingkapan dosa kita sekaligus keselamatan dari dosa. Penting untuk dicatat, Firman Allah sering kali meyakinkan kita bahwa kekudusan-Nya menjamin keselamatan orang Kristen (Yes. 6:1-7; Za. 3; Rm. 5:10).

Kita diyakinkan lebih lanjut bahwa kekudusan Allah adalah inti dari keselamatan Kristen melalui kisah-kisah dalam Kitab Suci tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, serta kelahiran baru. Mazmur 16:10 merujuk kepada kekudusan-Nya dalam kehidupan dan kematian: “Engkau … tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.” Kebangkitan-Nya adalah “menurut Roh kekudusan” (Rm. 1:4). Kita dilahirkan kembali oleh pemberian Roh Kudus dari Allah (Yoh. 3:5-8). Kekudusan Allah berperan dalam setiap poin penting ini —sesungguhnya di setiap poin—dari keselamatan kita. Melalui anugerah Allah kepada kita di dalam Yesus Kristus, kita dapat menganggap kekudusan-Nya sebagai keselamatan kita.

 

4. Kekudusan bukanlah menjadi “lebih suci daripada yang lain.”

Ungkapan dalam bahasa Inggris “holier than thou” digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berperilaku dengan sikap lebih superior secara moral terhadap sesamanya. Ini bukanlah kekudusan, tetapi berlawanan dengan kekudusan. Kekudusan dalam diri manusia adalah soal mencerminkan Allah, yang, seperti yang dinyatakan oleh Yesus, “lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29). Kristus, yang sempurna dalam kekudusan, dengan sukarela mengambil tempat yang paling rendah, dijadikan kutuk di kayu salib. Demi kita, Dia menanggung malu dari dosa-dosa kita. Mengikuti ajaran-Nya dengan setia berarti mengambil tempat yang rendah, bukan tempat yang tinggi, dalam hubungan dengan orang lain (Luk. 14:10-11; 22:24-30; Yoh. 13:14-17; 1Ptr. 5:6).

Sikap “lebih suci daripada yang lain” adalah tipikal dari sikap merasa diri benar. Dalam perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14), orang Farisi yang merasa diri benar itu percaya bahwa ia dekat dengan Allah, tetapi ia menganggap dirinya lebih superior secara moral dibanding sesamanya. Ia bersyukur kepada Allah karena ia tidak seperti pemungut cukai, tetapi pemungut cukailah yang pulang ke rumah dengan dibenarkan, setelah memohon belas kasihan dari Allah. Kekudusan memang terwujud melalui kualitas moral, tetapi seperti yang Kristus teladankan dan ajarkan, selalu dengan kerendahan hati dan tidak pernah dengan kesombongan rohani.

 

5. Pemeliharaan dirancang untuk membuat orang Kristen bertumbuh dalam kekudusan.

Karena kehendak Allah yang dinyatakan adalah agar anak-anak-Nya mencerminkan Dia dalam kekudusan, pemeliharaan-Nya dirancang untuk menyediakan hal ini bagi kita dan memampukan kita untuk bertumbuh di dalamnya. Dalam pemeliharaan-Nya, Dia membawa kita kepada iman dalam Yesus Kristus. Dalam pemeliharaan-Nya, Dia menegur kita atas dosa-dosa kita sehingga kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Meskipun menyakitkan pada saat itu, hal ini akan menghasilkan tuaian kebenaran (Ibr. 12:10-11). Dia menyediakan Roh Kudus-Nya, Kitab Suci-Nya, dan Gereja, yang Dia sebut kudus, untuk menyediakan dan mengajarkan jalan kekudusan. Allah bahkan telah merancang siklus mingguan bagi pertumbuhan kita dalam kekudusan: “Ingat dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8). Itu adalah hari yang dikuduskan-Nya (Kel. 20:11). Dengan mengamati apa yang Allah katakan tentang Hari Tuhan (hari Minggu), kita akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi seminggu ke depan dan pertolongan saat kita bergeser semakin dekat untuk bertemu dengan Juru Selamat kita di kota kudus yang dipersiapkan oleh Bapa surgawi kita dengan penuh anugerah bagi kita.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
John Ferguson

John Ferguson

Dr. John C.A. Ferguson adalah pendeta di Inverness Associated Presbyterian Church di Inverness, Skotlandia.