
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Kitab 1 & 2 Samuel
20 Mei 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Kitab Mazmur
24 Mei 20243 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Kitab 1 & 2 Raja-Raja
1. Kitab Raja-raja ditulis dalam masa pembuangan untuk menjelaskan mengapa Israel dan Yehuda berada dalam pembuangan
Di dalam Alkitab Ibrani, kitab Raja-raja—dimengerti sebagai 1 dan 2 Raja-raja bersama-sama—merupakan kitab terakhir dalam kumpulan Nabi-nabi Terdahulu (Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja). Kitab-kitab ini menarasikan sejarah Israel sejak mereka tiba di negeri yang dijanjikan Allah sampai mereka disingkirkan dari negeri itu dalam masa pembuangan oleh bangsa Asyur dan Babel. Dugaan waktu penulisan kitab Raja-raja dalam bentuk finalnya yang paling awal adalah setelah pembebasan Raja Yoyakhin dari penjara pada tahun 561 SM (2Raj. 25:27). Karena kitab ini tidak menyebutkan peristiwa kembalinya mereka dari pembuangan, kemungkinan kitab ini ditulis pada suatu masa dalam paruh kedua pembuangan ke Babel.
Kitab Raja-raja adalah sebuah sejarah teologis, yang menjelaskan mengapa Allah menyerahkan umat-Nya kepada bangsa-bangsa asing. Jawabannya kerap diulangi: sejak pecahnya kerajaan tersebut setelah pemerintahan Salomo, umat Allah dan raja-rajanya “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Mereka menimbulkan kecemburuan-Nya dengan dosa yang mereka lakukan” (1Raj. 14:22). Bahkan ketika seorang raja yang saleh sesekali muncul, keturunannya melanjutkan kemerosotan rohani Israel/Yehuda. Komentari teologis yang panjang di dalam 2Raja-raja 17:7-23 merangkum pesan dari seluruh kitab tersebut: “Hal itu terjadi karena orang Israel telah berdosa kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah menuntun mereka keluar dari tanah Mesir, dari kekuasaan Firaun, raja Mesir. Mereka telah menyembah ilah-ilah lain, dan hidup menurut kebiasaan bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari hadapan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel” (ay. 7-8).
Tidak ada janji atau nubuat yang jelas tentang kembalinya bangsa itu dari pembuangan di dalam kitab Raja-raja, tetapi pembebasan Yoyakhin di akhir kitab tersebut menjadi bayang-bayang untuk akhir yang bahagia. Seperti yang kita baca dalam Ulangan 4:25-31 dan sepanjang kitab para nabi, akhir tersebut akan benar-benar tiba, secara ultimat dalam kedatangan Anak Daud yang lebih besar yang agung, yaitu Yesus Kristus, yang akan duduk di atas takhta Daud selama-lamanya.
2. Kitab Raja-raja bukan hanya tentang raja-raja, tetapi juga nabi-nabi
Munculnya kerajaan Israel memicu berkembangnya jabatan kenabian, dan dengan alasan yang baik: raja-raja yang memberontak perlu mendengar kata-kata peringatan dari Allah, dan raja-raja yang setia perlu mendengar kata-kata penghiburan dari Allah. Di sepanjang kitab Raja-raja, berbagai nabi memberikan nasihat, instruksi, peringatan, dan nubuat masa depan untuk mengingatkan para raja Israel (dan pembacanya) bahwa Firman Allah adalah otoritas dan kuasa tertinggi di Israel.
Banyak nabi, baik yang namanya disebutkan maupun tidak, berperan penting di dalam narasi tersebut, namun Elia dan Elisa mendapatkan panggung utama. Mereka dibangkitkan Allah dalam masa pemerintahan dinasti Ahab—periode kemurtadan Israel yang terpuruk—untuk memanggil khusunya Kerajaan Utara agar kembali kepada Allah dan firman-Nya. Dua nabi yang saleh dan berani ini adalah pemimpin dari “rombongan nabi” yang pertama kali berkumpul dalam pelayanan kenabian Samuel. Pernyataan dan mukjizat yang dilakukan Elia dan Elisa merupakan bayang-bayang pelayanan firman dan karya Yesus sebagai Nabi yang lebih besar dari Musa yang dinubuatkan dalam Ulangan 18.
3. Elia bukanlah nabi yang ketakutan dan mengasihani diri sendiri di dalam 1 Raja-raja 19
Banyak penafsir melihat Elia di dalam pasal ini sebagai seorang pengecut yang mengeluh, yang dengan rasa takut dan tidak beriman melarikan diri dari Izebel, untuk mencurahkan kisah “celakalah aku” yang keluar dari keegoisannya kepada Tuhan. Namun, penjelasan Paulus atas perkataan Elia tersebut menyingkapkan arti yang berbeda: “ia mengadukan Israel kepada Allah” (Rm. 11:2). Pandangan bahwa Elia melarikan diri karena tidak beriman harus ditolak untuk beberapa alasan menurut penafsir Dr. Dale Ralph Davis.1
- Meskipun bahasa Ibrani di dalam 1 Raja-raja 19:3 dapat dibaca “Elia pun ketakutan”, teks tradisional Ibrani membaca “Elia pun melihat”. Pembacaan yang terakhir ini dengan paling baik menjelaskan yang sebelumnya. Elia melihat—artinya, ia menyadari—bahwa kekalahan nabi-nabi Baal di Gunung Karmel (1Raj. 18:17-40) tidak menghasilkan apa pun: Izebel yang menyembah Baal masih berkuasa di Israel. Jadi, Elia memutuskan untuk menyerahkan dirinya dan situasi bangsa Israel kepada Allah.
- Peta geografis menunjukkan bahwa perjalanan Elia bukanlah karena kepanikan atau pengabaian tugas, melainkan memiliki tujuan dan rencana. Ia pasti sudah selamat ketika berada dalam kerajaan Yehuda, tetapi ia melanjutkan perjalanan sampai ke Bersyeba, sekitar seratus enam puluh kilometer sebelah selatan Yizrel, dan dari sana ia melanjutkan perjalanan satu hari lamanya masuk ke padang gurun (1Raj. 19:3-4). Malaikat Allah mendesaknya untuk makan agar ia mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan yang bahkan lebih jauh (1Raj. 19:7). Tujuannya adalah Horeb, di mana Allah ingin mendengarkan darinya.
- Paralel dengan Musa juga mengarahkan kita untuk memikirkan perkataan Elia seperti yang Paulus lakukan. Musa pertama kali menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Horeb/Sinai. Sementara ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, Israel melanggar perintah kedua dan baru diampuni setelah Allah mendengarkan doa sya’faat perjanjian Musa. Pada masa Elia, Israel bahkan dengan mengerikan lebih tidak setia kepada perjanjian Allah, dengan benar-benar menyembah ilah-ilah lain. Elia berbicara kepada Allah bukan sebagai pendoa sya’faat, melainkan sebagai pengacara perjanjian, yang menjabarkan bukti-bukti yang memberatkan.
Alih-alih gemetar karena takut atau tenggelam dalam keegoisan diri, Elia berjalan ke Gunung Horeb sebagai seorang nabi yang patah hati, yang mengeluh dalam kekecewaan atas Israel yang tidak bertobat dan mengeraskan hati. Allah tidak menegurnya karena berada di Horeb, tetapi dengan penuh belas kasihan dan kebenaran datang mendekat kepada hamba-Nya yang frustrasi ini untuk mendengarkannya melayangkan tuduhan perjanjian terhadap Israel. Tuhan menghibur nabi-Nya dengan kata-kata penghakiman dan harapan, serta memberinya arah pelayanan yang baru. Hal ini menjadi latar bagi narasi selanjutnya.
- Baca Dale Ralph Davis, 1 Kings: The Wisdom and the Folly (Fearn, Scotland: Christian Focus Publications, 2008) dan 2 Kings: The Power and the Fury (Fearn, Scotland: Christian Focus Publications, 2011).↩


