
Bagaimana Yesus Adalah “Gembala yang Baik”?
08 Juli 2025
Bagaimana Yesus Adalah “Jalan, Kebenaran, dan Hidup”?
15 Juli 2025Bagaimana Yesus Adalah “Kebangkitan dan Hidup”?

Guru bijak di dalam kitab Pengkhotbah berbicara tentang sebuah tempat yang menumbuhkan kesalehan, dan lokasinya mungkin akan mengejutkan Anda. Katanya,
Pergi ke rumah duka lebih baik
daripada pergi ke tempat pesta. (Pkh. 7:2)
Kembali, ia mengingatkan, “Hati orang berhikmat ada di rumah duka” (Pkh. 7:4).
Anda mungkin tahu apa yang ia maksudkan. Menghadiri acara pemakaman atau berziarah ke kuburan baik bagi jiwa karena realitas kekal menjadi semakin dekat.
Yohanes 11 membawa pembaca ke sebuah rumah duka. Roh Kudus membawa kita ke sini supaya kita dapat belajar sesuatu tentang keputusasaan dan kekalahan dari maut. Pasal kesebelas dari Injil Yohanes “adalah salah satu pasal yang paling menakjubkan di dalam Perjanjian Baru,” tulis J. C. Ryle, “karena keagungan dan kesederhanaannya, kesedihan dan khidmatnya, tidak ada yang pernah ditulis seperti itu.”1
Situasinya
Pasal tersebut dibuka dengan Yesus menerima laporan bahwa sahabat-Nya, Lazarus, jatuh sakit (Yoh. 11:3). Maria dan Marta pastinya pernah mendengar, mungkin juga pernah melihat, kuasa Yesus atas penyakit. Mereka percaya bahwa jika Yesus bergegas datang, Ia dapat menyelamatkan Lazarus.
Respons Yesus bukan sesuatu yang dapat diperkirakan oleh siapa pun.
Yohanes melaporkan: “Yesus mengasihi Marta dan saudaranya serta Lazarus. Jadi (LAI: namun) setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada” (Yoh. 11:5-6). Kata “jadi” adalah kata yang biasanya diterjemahkan sebagai “karena itu”. Maka, ayat tersebut secara lebih harfiah berkata, “Yesus mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus, karena itu… Ia tinggal dua hari lagi.” Menariknya, kasih-Nya menuntun Dia untuk menunggu. Sukacita-Nya atas murid-murid-Nya membuat Dia menunda. Ia tinggal lebih lama supaya penderitaan dan penyakit tersebut sampai pada akhir perjalanannya.
Kita selalu mendapatkan pelajaran agung ini di “sekolah” Kristus. Berapa kali Anda pernah meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu tetapi Ia tidak segera menjawab? Atau, Ia tidak menjawab pada waktunya? Perhatikan bahwa ketidakadaan tindakan-Nya mungkin sebenarnya adalah kasih-Nya yang sedang bekerja, yaitu rencana dan tujuan-Nya untuk melakukan jauh melampaui apa yang Anda dapat minta atau bayangkan.
Pernyataan-Nya
Empat hari setelah Lazarus meninggal, Yesus akhirnya tiba di rumah yang berduka tersebut. Marta bergegas menyambut Yesus, dan berkata sewaktu berjumpa dengan-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Namun, sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (Yoh. 11:21-22). Benih iman jelas ada pada Marta. Yesus meyakinkan dia bahwa “Saudaramu akan bangkit” (Yoh. 11:23).
“Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman,” jawab Marta (Yoh. 11:24). Sebuah perdebatan besar tentang kebangkitan terjadi antara orang-orang Farisi dan Saduki pada zaman Yesus. Pertanyaannya adalah apakah akan ada kebangkitan pada akhir sejarah manusia. Secara teologis, Marta berdiri di kubu Farisi dalam hal kebangkitan. Ia percaya bahwa Lazarus akan bangkit kembali—pada waktu itu, di akhir zaman. Namun, Yesus sedang berbicara tentang saat ini. Karena itu, Ia berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:25-26).
Ini adalah perkataan “Akulah” yang kelima di dalam Injil Yohanes—dan ini mencengangkan. Yesus pada dasarnya berkata, “Aku tidak hanya mengajar tentang kebangkitan; Akulah kebangkitan itu. Aku tidak hanya berkhotbah tentang kuasa Allah yang memberi hidup; Akulah kuasa Allah yang memberi hidup. Jangan sekadar memercayai hal itu; percayalah kepada-Ku.” Iman yang sejati bukan sekadar percaya kepada informasi dan fakta tentang Yesus. Sebaliknya, iman adalah percaya kepada Dia, yang di dalam-Nya berdiam segala kebenaran.
Kepastiannya
Ketika Yesus berseru dengan suara nyaring, “Lazarus, marilah keluar!,” orang mati yang hidup kembali itu menjadi perumpamaan yang berjalan tentang keselamatan. Ia adalah monumen hidup bagi Yesus, yang adalah kebangkitan dan hidup. Setelah Lazarus bangkit, Yesus memberi perintah, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yoh. 11:43-44).
Sungguh sebuah potret Injil yang menakjubkan! Alkitab berkata bahwa kita telah mati dalam dosa-dosa kita. Potongan kain dari ketidakpercayaan menjebak kita dan baju dosa membungkus kita. Seperti Lazarus, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghidupkan diri kita kembali. Namun, Allah menghidupkan orang-orang berdosa yang telah mati ketika mereka percaya kepada Yesus. Sang Juru Selamat mati menggantikan posisi orang-orang berdosa, bangkit kembali, dan dengan demikian memegang kunci atas kematian dan neraka. Ia memanggil kita, “Marilah keluar! Berbaliklah dari dosa-dosamu dan percayalah kepada-Ku. Aku akan melepaskan engkau dari belenggu dosa dan membebaskan engkau.”
Kiranya kita melihat tanda ini, mendengar pernyataan ini, dan menanggapi perkataan “Akulah” yang kelima seperti Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah” (Yoh. 11:27).
Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The “I Am” Sayings of Jesus.
- J.C. Ryle, Expository Thoughts on John (Edinburgh: Banner of Truth, 2012), 2:256.