Ketakutan dan Ketidakpastian
21 Januari 2026
Ketakutan dan Ketidakpastian
21 Januari 2026

Pertobatan Sejati Menuju Kehidupan

Konsep pertobatan tersebar di seluruh Kitab Suci, tetapi bisa jadi sulit untuk didefinisikan. Di satu sisi, pertobatan adalah hal yang paling wajar yang dapat dilakukan oleh orang-orang berdosa; di sisi lain, pertobatan adalah hal yang paling spiritual. Di satu sisi, pertobatan adalah tindakan pada satu titik waktu; di sisi lain, seperti yang ditulis oleh Martin Luther dalam dalil pertama dari Sembilan Puluh Lima Dalilnya, pertobatan adalah aktivitas seumur hidup. Di satu sisi, pertobatan tidaklah menghasilkan upah; di sisi lain, pertobatan adalah pintu gerbang yang unik yang melaluinya kerajaan Allah dan manfaat-manfaatnya terbuka bagi kita, dan oleh karena itu “tidak seorang pun yang dapat mengharapkan pengampunan dosa tanpanya” (Pengakuan Iman Westminster 15.3). Di satu sisi, pertobatan adalah sebuah undangan sederhana; di sisi lain, pertobatan mencakup keseluruhan diri seseorang—akal budi, hati, kehendak, jiwa, dan tubuhnya.

Paradoks-paradoks ini menyoroti manfaat dari definisi-definisi yang sistematis yang menunjukkan kekayaan pengajaran Alkitab. Katekismus Singkat Westminster dengan baik mendefinisikan pertobatan sebagai salah satu dari dua anugerah yang tak terpisahkan yang membentuk pertobatan sejati:

Pertobatan menuju kehidupan adalah anugerah yang menyelamatkan, yang karenanya, seorang yang berdosa, karena kesadaran yang benar akan dosanya, dan pemahaman akan belas kasihan Allah di dalam Kristus, dengan kesedihan dan kebencian akan dosanya, berbalik dari dosa tersebut kepada Allah, dengan tujuan bulat dan usaha yang sungguh-sungguh untuk ketaatan yang baru. (T&J 87)

Kita dapat memperhatikan beberapa hal dari pengajaran katekismus ini tentang apa yang bukan pertobatan sejati dan apa itu pertobatan sejati.

Apa yang Bukan Pertobatan Menuju Kehidupan

Para penulis Standar Westminster berbicara tentang pertobatan sebagai “pertobatan menuju kehidupan.” Ungkapan ini diambil dari Kitab Suci. Sebagai contoh, dalam Kisah Para Rasul 11:18 kita membaca bahwa “kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Hal ini mengasumsikan bahwa ada pertobatan yang tidak memimpin kepada hidup, yang Paulus bicarakan ketika ia berkata, “Kesedihan menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan, tetapi kesedihan yang dari dunia menghasilkan kematian” (2Kor. 7:10). Kain (Kej. 4:12), Esau (Ibr. 12:17), dan Yudas (Mat. 27:3) adalah contoh-contoh kesedihan lahiriah yang demikian; kisah-kisah sedih mereka menunjukkan bahwa pertobatan sejati lebih dari sekadar penyesalan. Ini bukan sekadar perasaan bersalah yang kuat, seperti yang terjadi pada kebangkitan pietisme. Kita dapat bersedih atas konsekuensi dosa tanpa berduka atas dosa kita dan berbalik dari dosa kepada Allah.

Terlebih lagi, pertobatan sejati bukanlah penitensi, di mana kita menerima pengampunan dosa sesuai dengan tingkat penyesalan kita dan kewajiban-kewajiban kita selanjutnya. Jangan berpikir bahwa penitensi semata-mata merupakan fenomena Katolik Roma; orang-orang Injili pun tidak kebal terhadap godaan untuk memercayai intensitas kesedihan kita atau tekad kita untuk mengkompensasi kelemahan spiritual kita. Pertobatan juga bukan sekadar respons intelektual di mana akal budi mengakui ketidaksempurnaan tanpa harus berjuang untuk mendapatkan ketaatan yang baru. Di sisi ekstrem yang lain, kita mungkin berpikir seperti seorang perfeksionis, mengira bahwa pertobatan yang sejati berarti kita tidak akan pernah berbuat dosa lagi, setidaknya tidak dengan cara yang sama. Namun, mematikan dosa yang mendarah-daging bisa merupakan sebuah proses yang panjang.

Apa yang Adalah Pertobatan Menuju Kehidupan

Katekismus berbicara tentang pertobatan menuju kehidupan sebagai anugerah yang menyelamatkan. Ini menyelamatkan karena apa yang diarahkan olehnya—keselamatan (yaitu, hidup baru). Ini adalah anugerah karena diberikan oleh Allah sendiri (lihat 2Tim. 2:25). Dalam kelahiran kembali, Allah mengaruniakan iman dan pertobatan kepada manusia baru. Secara sederhana, pertobatan ini adalah berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah dalam iman. Iman ini adalah sebuah pemahaman akan anugerah Allah yang ditawarkan dalam injil yang disertai dengan pertobatan yang melibatkan kebencian terhadap dosa yang darinya kita berpaling. Iman yang menyelamatkan adalah iman yang bertobat, dan pertobatan yang menuntun kepada hidup adalah pertobatan dengan iman. Keduanya tidak dapat dipisahkan, meskipun secara logika iman mendahului pertobatan. Herman Bavinck menyatakan:

Kita tidak akan berani berbalik kepada Allah jika kita tidak percaya di dalam jiwa kita melalui Roh Kudus bahwa sebagai Bapa, Dia akan menerima pengakuan dosa kita dan mengampuni kita. Pertobatan yang sejati berada dalam hubungan yang tak terpisahkan dengan iman yang sejati dan menyelamatkan.

Kita berbalik dari dosa kepada Allah yang telah kita lawan hanya jika kita pertama-tama telah diyakinkan bahwa Dia akan mengampuni. Walaupun Allah mengaruniakan iman dan pertobatan secara bersamaan di dalam jiwa yang dilahirkan kembali, “iman telah ada dan bekerja di dalam pertobatan,” seperti yang dikatakan oleh Geerhardus Vos.

Maka, pertobatan yang sejati dimulai di dalam hati, tetapi tidak pernah tetap terkurung di dalam hati. Pada waktunya, pertobatan itu akan terwujud secara eksternal dalam perilaku seseorang sebagai buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat. 3:8). Paket iman dan pertobatan yang diberikan oleh Roh Kudus adalah kemunculan yang tak terelakkan dari natur yang baru di mana orang yang telah dilahirkan kembali menjadi aktif dalam pekerjaan mematikan dosa dan menghidupkan kebenaran. Oleh karena itu, orang Kristen sejati tidak bisa tidak bertobat. Hubungan kita dengan dosa telah berubah. Orang Kristen sangat sadar akan dosanya dan telah menyerahkan dirinya pada belas kasihan Allah di dalam Kristus. Orang Kristen memerangi dosa yang tinggal di dalam dirinya, tetapi kita berduka atas dosa itu, dan kita terus berbalik dari dosa itu kepada Allah, seperti Anak yang Hilang yang berlari pulang ke bapanya. Luther benar bahwa pertobatan memulai kehidupan Kristen (yang dapat kita sebut sebagai pertobatan dalam konversi) dan menjadi ciri dari seluruh kehidupan Kristen (yang dapat kita sebut sebagai pertobatan dalam pengudusan).

Meskipun esensi pertobatan adalah sama bagi setiap orang, pengalaman pertobatan kita dapat berbeda-beda. Oleh karena itu, kita mungkin bertanya, Bagaimana saya tahu apakah pertobatan saya sungguh-sungguh? Definisi katekismus ini membantu kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penyelidikan: Apakah saya memiliki kesadaran akan dan kebencian terhadap dosa saya? Apakah saya mencari belas kasihan Allah di dalam Kristus? Apakah saya berusaha, betapapun tidak sempurnanya, untuk hidup di dalam ketaatan yang baru? Jika ya, wahai orang Kristen yang terkasih, bersukacitalah, karena Anda telah diberikan anugerah keselamatan berupa iman kepada Yesus Kristus dan pertobatan menuju kehidupan.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Aaron L. Garriott
Aaron L. Garriott
Rev. Aaron L. Garriott adalah managing editor majalah Tabletalk, resident adjunct professor di Reformation Bible College, di Sanford, Florida, dan penatua pengajar di Presbyterian Church in America.