
Karya Roh Kudus dalam Penebusan
25 Februari 2026Buah Roh
Kedengarannya bagus. “Buah Roh.” Begitu hidup, begitu positif. Kita mungkin membicarakannya, mengharapkannya, bahkan mendoakannya. Namun, tragisnya, kita bisa pula tidak memperhatikan atau mengabaikannya, mungkin tertipu oleh kekristenan yang dangkal sehingga membiarkan buah rohani sejati layu dalam bayang-bayang sementara kita terpesona oleh “karunia-karunia rohani” yang sepertinya lebih spektakuler yang didorong menjadi sorotan.
Untuk menjawab pertanyaan, “Apakah buah Roh itu?”, kita harus mulai dengan sebuah pertanyaan lain: “Siapakah Roh itu?” Dialah Roh kekudusan yang olehnya Kristus dibangkitkan dari kematian, yang bekerja di dalam kita sepanjang jalur yang sama dan dengan kuasa yang sama (Rm. 1:4; Ef. 1:15-21). Ia menjadikan kita makin serupa dengan Allah sebagaimana Ia dilihat dan dikenal di dalam Kristus. Panggilan Injil adalah agar kita menjadi kudus karena Allah sendiri itu kudus, dan sekarang kita adalah milik-Nya: “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1Ptr. 1:15). Sesungguhnya, jika kita memahami Tuhan Yesus dalam inkarnasi-Nya yang tanpa dosa sebagai gambar yang sempurna dari Allah yang tidak kelihatan, kita akan terkejut melihat bagaimana buah Roh mengikuti pola Juru Selamat sebagai Penyingkap Allah. Lihatlah Dia, maka Anda akan melihat Dia yang benar-benar penuh dengan Roh Kudus (Yoh. 1:32-33).
Ini membawa kita kepada sebuah daftar yang indah dan kudus di dalam Galatia 5. Perhatikan pertama-tama bahwa buah Roh sepenuhnya bertentangan dengan perbuatan daging. Dua katalog yang disediakan Paulus di dalam Galatia 5 bukanlah sebuah pertentangan yang sejajar. Namun, kedua produk tersebut tumbuh secara nyata pada tanah yang berbeda, ditumbuhkan dalam udara yang berbeda, dan berasal dari akar yang berbeda. Hal ini tampak bahkan ketika orang-orang yang belum bertobat menunjukkan moralitas lahiriah yang dalam beberapa hal mirip dengan buah Roh.
Perhatikan juga bahwa buah Roh bersifat tunggal, bukan jamak. Buah ini seharusnya tidak dilihat sebagai sebuah mangkuk yang terdiri dari berbagai buah yang telah dipetik, yang bisa dipilih sesuai dengan warna atau rasa yang kita inginkan, tetapi lebih menyerupai setandan buah anggur yang melekat pada pokok anggur surgawi yang sama—setiap butirnya lezat dan memiliki rasa dan warna surgawi yang sama. Sesungguhnya, sulit untuk menjelaskan satu bagiannya tanpa menggunakan bagian yang lain; semuanya saling terjalin erat—terjemahan dalam bahasa Inggris bahkan harus mengubah kata yang sama menjadi kebajikan-kebajikan yang berbeda untuk menangkap nuansanya. Sebagaimana yang sering terjadi dalam urusan Kitab Suci, kita harus membedakan, dan kita bahkan dapat mengatur dan memusatkan perhatian pada salah satunya (mungkin kita dapat mengelompokkan buah tersebut menjadi tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga anggota). Namun, kita tidak dapat memisahkan, dan tidak boleh melihat setiap buah secara terisolasi.
Karena bentuk tunggal dari buah ini, bagian-bagian dari buah tersebut saling melengkapi. Semua ini paling terasa manis ketika digabungkan, bukan dipisah-pisah. Anda tidak akan menemukan satu di mana yang lain tidak ditemukan, meski beberapa mungkin terbentuk lebih menonjol dan matang. Anda tidak dapat mengklaim memiliki buah Roh jika Anda sesekali menunjukkan satu dari beberapa bukti ini, tetapi semuanya harus hadir secara konsisten (dalam ukuran tertentu) untuk menunjukkan kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Jika buah ini tidak ditemukan di dalam kita—sambil mengingat berbagai pengalaman dan tingkat kedewasaan orang-orang Kristen yang berbeda—maka kita tidak memiliki Roh Kudus. Jika kita memiliki Roh Kudus, kita seharusnya menghasilkan buah Roh. Kebajikan-kebajikan ini berasal dari-Nya dan mencerminkan pribadi dan kesenangan-Nya. Semua ini adalah kebiasaan-kebiasaan kudus dari orang-orang yang didiami Roh Allah, yang dituntun oleh-Nya di jalan kebenaran (ay. 18). Anak-anak Allah tidak hanya dicirikan oleh ketiadaan keburukan tetapi juga hadirnya kebajikan, yaitu kekudusan yang disukai Allah dan yang dikejar dengan penuh semangat oleh anak-anak-Nya: “Tidak ada yang tumbuh kudus tanpa menyetujui, mendambakan, dan menderita untuk hidup kudus. Dosa tumbuh sendiri tanpa perlu ditabur, tetapi kekudusan perlu diusahakan” (C. H. Spurgeon). Roh Kudus memberi kita rasa lapar akan kesalehan ini serta kemampuan untuk mengembangkannya, dalam kebergantungan kepada-Nya (Flp. 2:12-13). Tanpa Roh Kudus, kita hanya akan menghasilkan perbuatan-perbuatan daging, sekalipun kita telah berusaha menutupi keburukan-keburukan kita dengan warna moralitas atau agama.
Jadi, apakah buah ini? “Buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal. 5:22-23). Sekali lagi, marilah kita membedakan tetapi tidak memisahkan.
“Kasih” memulai, memperkenalkan, dan mendasari seluruh daftar tersebut dan trio yang pertama, yang menggambarkan anugerah yang merupakan kekhasan kekristenan sejati. Ini melibatkan kasih kepada Allah yang adalah kasih itu sendiri; sebuah kasih yang muncul karena dikasihi oleh Allah ini, sebuah kasih yang meluap kepada orang lain demi Allah, terutama kepada orang-orang yang menyandang gambar Allah di dalam Kristus.
“Sukacita” mengikuti setelahnya, yaitu kesenangan yang dimiliki orang percaya di dalam Allah, karena telah diperdamaikan di dalam Kristus, demi Dia itu sendiri dalam diri-Nya, dan bagi kita umat-Nya. Sukacita ini menelan keputusasaan dan kelesuan roh kita, memberi energi dan mengangkatnya. Ini adalah benar-benar sebuah sukacita rohani yang berlandaskan kebenaran (1Kor. 13:6), yang melampaui dan mengubah kesesakan orang Kristen (1Tes. 1:6). Ini adalah kebahagiaan dari orang-orang yang menjadi warga Kerajaan Allah, yang tidak ditemukan di dalam kenikmatan duniawi melainkan dalam “kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm. 14:17).
Dengan sukacita, datanglah “damai sejahtera”—pertama-tama, damai sejahtera dengan Allah sendiri (Rm. 5:1), yaitu damai sejahtera yang disalin ke dalam hati nurani kita, jiwa yang dibasuh dengan darah Anak Domba. Ini bersifat objektif dan subjektif. Dari damai sejahtera ini, ketika kita menjaga hati dan pikiran kita (Flp. 4:7), mengalir sebuah niat damai terhadap orang lain, sebuah kerelaan yang rendah hati untuk membuat orang lain diberkati dan dipuji (Flp. 2:1-4), “berusaha memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera” (Ef. 4:3).
Setelah semua itu adalah kesabaran, kemurahan, dan kebaikan. Ketiga ini secara khas bersifat relasional dan sosial; tidak hanya menunjukkan kasih kita kepada Allah, tetapi juga kasih kepada sesama kita seperti diri sendiri. Pertama adalah lambat untuk marah seperti Allah, bukan cepat marah (Yak. 1:19), hati yang sabar dan bukannya mendendam, yang siap menanggung diperlakukan secara tidak benar, bukan menyerang balik (1Kor. 13:4), cepat untuk mengampuni dan menutupi dosa (1Ptr. 4:8).
“Kemurahan” adalah sifat manis dari roh yang meniru Allah sendiri (Rm. 11:22; Tit. 3:4) dan Kristus-Nya (2Kor. 10:1), ketenangan dan kestabilan emosi yang dihasilkan Roh Kudus (6:6). Ini tidak angkuh dan kasar, tetapi rendah hati dan sopan. Ini adalah anugerah mengayomi yang membuat kita disukai orang, cepat memberi jawaban yang lemah lembut (Ams. 15:1), bersimpati kepada yang membutuhkan, dan berguna bagi mereka yang membutuhkan dukungan.
Selanjutnya adalah “kebaikan”, yaitu kesiapan praktis untuk memberkati, bukan mengutuk, tahan terhadap rasa sakit, berupaya berbuat baik kepada semua orang selama Allah memberi kesempatan; sebuah semangat berbuat baik yang tidak hanya puas dengan kesiapan tetapi juga gigih melakukannya.
Trio terakhir mungkin terdiri dari berbagai kebajikan yang secara khusus menonjol pada jemaat Galatia, karena jelas bertentangan dengan keburukan-keburukan yang dominan pada waktu itu. Ini mengingatkan bahwa kekudusan yang dikerjakan Roh Kudus di dalam kita tidak sekadar kontra budaya—seolah-olah sekadar mengayun ke ekstrem yang berlawanan dari semangat zaman pada dasarnya adalah kebajikan—tetapi benar-benar supranatural, membedakan kita dari kegelapan dosa di sekitar kita. Jadi kita memiliki kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Pertama adalah “kesetiaan”, khususnya kepada apa yang kita akui dan janjikan kepada orang lain, baik Allah maupun manusia. Ini berbicara tentang sifat dapat dipercaya dan berintegritas dalam perkataan dan perbuatan kita, dalam cara kita berinteraksi dengan sesama ciptaan, bukan sifat licik dan tidak dapat diandalkan. Lalu terdapat “kelemahlembutan”, yaitu suatu anugerah di mana kita tidak mudah diprovokasi tetapi mudah ditenangkan, mengatur tanggapan-tanggapan kita (dan potensi kebencian) terhadap cara Allah dan manusia memperlakukan kita.
Terakhir adalah “penguasaan diri”, yaitu sikap wajar dalam menghadapi setiap hal baik dalam hidup, menerimanya dengan penuh syukur dan tidak tamak, menikmatinya secara wajar dan tidak berlebihan, terlibat secara moderat dan tidak berlebihan.
Perhatikan bahwa, menyangkut hal-hal ini, tidak ada hukum yang menentangnya. Jika kita dituntun oleh Roh Kudus kepada hal-hal ini, kita tidak akan menemukan hal-hal ini dikecam atau mendapatkan hukuman. Kekudusan seperti ini adalah transkrip perintah-perintah Allah di dalam hati. “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka” (Ibr. 10:16). Karena dituntun oleh Roh Kudus untuk memuliakan Allah, kita bisa yakin bahwa inilah ketaatan yang atasnya Bapa surgawi kita tersenyum.
Inilah hasil dari perintah Allah dengan konsekuensi ilahinya yang telah ditetapkan: “Hiduplah oleh Roh, dan kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal. 5:16). Inilah artinya menjadi makin serupa dengan Kristus yang dihasilkan Roh Kudus, yang dikejar oleh setiap orang yang telah lahir baru, yang mengenal kuasa Roh di hatinya: “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus, dan jangan pedulikan lagi keinginan-keinginan daging” (Rm. 13:14).
Pada waktu yang sama, kita harus mengakui setidaknya dua hal. Pertama, bahwa buah ini bersifat mewakili tetapi tidak lengkap. Daftar dari Paulus ini, yang berisi keburukan dan kebajikan, karunia dan anugerah, dosa dan kebodohan, tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa tidak ada kualitas-kualitas lain yang termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Kita tidak boleh mengira bahwa bila kita berhasil menghindari dosa-dosa dalam daftar tersebut, berarti kita bukan orang berdosa. Kita juga tidak boleh membayangkan bahwa mempraktikkan satu atau dua kebajikan dari daftar tersebut entah bagaimana akan menjamin pengakuan iman kita. Sekali lagi, ingat bahwa daftar ini menunjukkan karakter yang menyerupai Kristus secara keseluruhan, dan mungkin juga mengindikasikan beberapa kualitas tertentu yang telah menonjol pada jemaat Galatia. Dengan cara yang sama, mungkin ada beberapa aspek keserupaan dengan Kristus yang dapat diidentifikasikan seorang rasul dalam konteks hidup Anda, yang akan secara khusus menandai Anda sebagai pengikut sang Anak Domba.
Kedua, ada perbedaan antara identitas dan kematangan orang Kristen. Seseorang mungkin membaca tentang buah ini dan gemetar karena ia tidak menunjukkan kebajikan-kebajikan tersebut dalam tingkat yang tertinggi, dalam setiap hal, di setiap waktu. Tanpa mengatakan bahwa kita boleh puas dengan pencapaian kita di masa lalu, penting untuk diingat bahwa kita bertumbuh dalam kesalehan dan membuat kemajuan dalam kekudusan. Bahkan dalam kematangan jasmani, Anda tidak akan berharap semua anugerah ini muncul dan berfungsi dalam seorang anak berusia sepuluh tahun sebagaimana pada seorang perempuan berumur enam puluh tahun. Anugerah yang sama, benar, tetapi dengan ekspresi yang sesuai. Begitu pula, seorang anak Allah yang kerohaniannya masih “bayi” tidak mungkin menghasilkan buah Roh dalam tingkat dan derajat yang sama dengan seseorang yang telah hidup di jalan Allah selama puluhan tahun. Beberapa orang percaya, karena kondisi fisik dan karakternya, mungkin bergumul dalam aspek-aspek tertentu sementara lebih berhasil dalam aspek lain. Mungkin ada musim-musim di mana kita mengalami penurunan secara relatif. Namun, dalam segala kondisi, dalam keadaan kuncup jika belum mekar, buah rohani adalah petunjuk adanya akar yang hidup. Kita tidak akan pernah menjadi serupa dengan Kristus secara sempurna di dalam hidup ini. Namun, bila seorang tidak memiliki keserupaan dengan Kristus secara nyata dan meningkat, kita terpaksa menyimpulkan bahwa kemungkinan sekali ia tidak memiliki kehidupan rohani, dan tentu saja kerohanian yang kurang sehat.
Jadi, marilah kita meminta Allah, melalui Roh-Nya, untuk mengerjakan kebajikan-kebajikan tersebut di dalam hati kita, memberi kita akar kehidupan dan buah kesalehan, lalu—demi janji-janji-Nya yang kaya dan pasti—menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah (2Kor. 7:1).


