Berbagai Kesalahpahaman tentang Kekristenan

08 Oktober 2026

Berbagai Kesalahpahaman tentang Kekristenan

08 Oktober 2026

Bahaya Kemunafikan

Pernahkah Anda mengalami dampak transformatif dari pintu gereja? Saya menduga Anda pernah mengalaminya sekalipun mungkin tidak menyadarinya. Izinkan saya menjelaskan maksud saya dengan memberi beberapa contoh.

Bayangkan sepasang suami-istri. Pernikahan mereka tidak bahagia. Mereka kerap bertengkar dan mudah kesal satu sama lain. Sering kali terjadi bahwa mereka pergi ke gereja lebih telat daripada waktu yang direncanakan oleh suami karena sang istri membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membersihkan meja makan yang berantakan setelah suaminya selesai sarapan pagi ketika bersiap berangkat ke gereja. Sang suami sudah duduk di dalam mobil, menyalakan mesin, dan segera setelah istrinya menutup pintu mobil, ia segera tancap gas. Sang istri memberitahukannya dengan suara yang tidak ramah untuk menaati aturan batas kecepatan. Sang suami menjawab dengan suara yang juga tidak ramah bahwa ia akan melakukannya andai istrinya masuk ke mobil pada waktu yang telah disepakati. Lagi pula, piring-piring kotor bisa dibersihkan sepulang gereja. Kemudian, tibalah mereka di gereja. Ketika berjalan memasuki pintu gereja, mereka bergandengan tangan dan tersenyum.

Atau, bayangkan seorang pria lajang. Ia sebenarnya tidak suka berstatus lajang. Namun, kehidupannya tidak berjalan dengan baik. Ia tidak mendapatkan pekerjaan yang ia harapkan setelah selesai kuliah. Ia pada dasarnya tidak bahagia dan cepat marah; seperti yang bisa Anda lihat jika melihat dia. Namun, ketika ia berjalan melewati pintu gereja, ekspresi wajahnya berubah. Saya dapat memberi contoh-contoh lain kepada Anda, atau, Anda dapat menambahkan cerita Anda sendiri. 

Kenyataannya, pintu gereja sering kali memiliki dampak transformatif. Ini bisa jadi merupakan hal yang benar-benar baik. Mungkin ketika berjalan melewati pintu gereja, kita diingatkan tentang Allah yang mengasihi kita, yang sangat sabar dan mengampuni terhadap semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Ketika melewati pintu gereja, kita mungkin kembali disadarkan bahwa Allah telah berjanji bahwa Ia akan bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil menurut rencana-Nya (Rm. 8:28). Jelas, kadang Allah mengubah pola pikir dan sikap kita ketika datang ke gereja. Ini luar biasa.

Namun, terlalu sering, perubahan yang terjadi di pintu gereja itu hanyalah kemunafikan. Ini mungkin terdengar agak keras, tetapi coba renungkan—ketika kita memperlihatkan senyum kudus kita, kita berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kita berpura-pura pernikahan kita kuat dan bahagia. Kita berpura-pura tidak sedang bergumul dengan kehidupan di dunia yang telah jatuh dalam dosa. Ketika mengamati jemaat, Anda mungkin bertanya-tanya apakah ada yang membutuhkan Juru Selamat. Lalu kita menyanyikan lagu-lagu bahagia, yang di dalamnya kita mengatakan kepada Allah bahwa kita mengasihi Dia, dan hanya Dia, dan kita senantiasa menyembah-Nya dengan seluruh hidup kita. Puji Tuhan bahwa kita tidak sama seperti orang-orang yang tidak bahagia, disfungsional, dan pemarah yang hanya bisa ditemukan di luar pintu gereja.

Terkadang ada orang-orang yang masuk ke dalam gereja-gereja yang penuh kebahagiaan seperti itu tanpa menyadari dampak transformatif dari pintu gereja. Mereka datang sebagai orang yang membutuhkan sesuatu, tidak tersenyum, tidak bahagia, tetapi merindukan tempat di mana mereka bisa datang sebagai orang berdosa yang begitu membutuhkan pengampunan. Orang-orang seperti itu membutuhkan orang-orang yang tidak akan menghakimi mereka tetapi yang akan mengarahkan mereka kepada Sahabat orang berdosa, dan Bapa yang penuh kemurahan, dan Allah sumber segala penghiburan (2Kor. 1:3). Orang-orang seperti itu membutuhkan orang-orang yang menyanyikan kepada dan bersama mereka lagu-lagu seperti himne gubahan Martin Luther dari Mazmur 130, “From Depths of Woe (Dari Lembah Sengsaraku)”. Apakah Anda mengenal orang-orang seperti itu? Apakah Anda salah satunya?

Jangan salah paham: Saya tidak sedang mendorong agar gereja-gereja bermuka muram. Saya mendukung sepenuhnya sukacita Injil yang sejati. Namun, sukacita Injil yang sejati tumbuh paling baik dari kesadaran akan kenyataan hidup sebagai orang berdosa di dunia yang telah jatuh dalam dosa, serta menyadari betapa bergantungnya kita pada pengampunan dan transformasi sejati yang ditawarkan Injil. Gereja-gereja yang menampilkan sukacita yang agak superfisial sering kali mengusir orang-orang yang sedang hancur hatinya; atau mereka akan belajar menyesuaikan diri. Lalu, mereka juga akan menunjukkan senyum bahagia ketika melewati pintu gereja, tetapi mereka menderita di dalam batinnya. Mereka bertanya-tanya apakah mereka satu-satunya orang yang hancur hatinya dan yang bergumul di tengah semua orang Kristen yang bahagia yang kelihatannya semuanya terkendali. Mereka menjadi korban jenis kemunafikan yang terlalu sering ditemukan di banyak gereja.

Ingatlah perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai di Bait Suci:

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa tentang dirinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan penzina, dan bukan juga pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu. Aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Namun, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul-mukul dadanya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab, siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk. 18:11-14).

Mari kita pastikan bahwa gereja kita ditandai dengan kejujuran dan kerendahan hati si pemungut cukai itu. Kita melakukannya ketika kita membagikan pergumulan kita dan mengakui dosa kita secara terbuka. Kita meratapi dosa-dosa kita dan menghibur orang lain yang meratapi dosa-dosanya. Kita bergandengan tangan dengan mereka yang sangat lemah, miskin, dan berbeban berat. Kita saling mencari bantuan satu sama lain untuk saling mengingatkan dalam perjuangan melawan dosa. Kita saling mencari bantuan dan nasihat alkitabiah satu sama lain, dengan berharap dan percaya bahwa melalui kuasa Allah di dalam kita, perubahan yang sejati itu mungkin terjadi. Sebagai orang berdosa dengan hati yang hancur, kita merindukan berita Injil tentang Juru Selamat kita yang agung. Lagi pula, Yesus tidak datang untuk mereka yang sehat dan benar. Ia datang untuk orang-orang berdosa (Mrk. 2:17). Yang jelas, tidak ada orang benar (Rm. 3:10). Yang ada hanya orang yang berpura-pura dan merasa diri benar. Mari kita pastikan bahwa gereja kita bukanlah kumpulan orang-orang yang melalui kepura-puraannya mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memerlukan Yesus.

Jika bukan di gereja, di mana lagi kita bisa jujur mengenai pergumulan dan dosa kita? Lagi pula, gereja adalah kumpulan orang-orang yang menyadari bahwa mereka membutuhkan Juru Selamat dan yang bersukacita bahwa Juru Selamat itu telah datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang dulunya benar-benar terhilang. Dunia ini penuh dengan senyum palsu, asap, cermin, dan kepura-puraan. Namun, gereja tidak boleh menjadi seperti dunia di sekitarnya. Sebagai orang Kristen, kita berkumpul sebagai umat yang bersukacita di dalam anugerah Allah yang tidak layak kita dapatkan, dan yang percaya bahwa Allah dan Juru Selamat kita yang agung suatu hari nanti akan mengakhiri segala dosa, penderitaan, dan kesedihan.

Gereja-gereja yang menunjukkan kejujuran dan sukacita seperti ini memiliki pintu yang akan memperlihatkan dampak transformatif yang sangat berbeda. Perubahan tidak lagi terjadi ketika kita berjalan memasukinya, mengenakan senyum palsu, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tidak; gereja-gereja demikian memiliki pintu yang menampilkan dampak transformatif ketika orang-orang keluar darinya. Mereka yang datang dengan merasa diri benar, marah, sedih, dan putus asa, akan keluar dengan rendah hati namun penuh dengan harapan dan sukacita baru. Mereka tahu bahwa karena Kristus, semua pada akhirnya akan menjadi baik. Lalu, pasangan suami-istri yang datang dalam amarah terhadap satu sama lain akan saling mencari pengampunan ketika mereka telah diyakinkan akan pengampunan Kristus yang jauh lebih besar bagi mereka. Pria lajang yang merasa kecewa dan sedih itu akan keluar dari gereja dikuatkan untuk mencari apa yang belum terlihat dengan harapan baru akan masa depan yang mulia. Tambahkan kisah hidup Anda pada daftar ini.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Matthias Lohmann

Matthias Lohmann

Pdt. Matthias Lohmann adalah gembala Free Evangelical Church di Munich, Jerman, dan chairman serta pendiri dari German gospel partnership Evangelium21.