
Budaya Kita yang Artifisial
01 Oktober 2026Mendukung Gereja-Gereja Lain
Seorang sahabat saya dan gereja yang ia gembalakan baru-baru ini mengadakan sebuah program tentang bangunan yang sangat kreatif. Karena fasilitas mereka tidak muat lagi dan tidak ada cara untuk memperluas, mereka kemudian bertukar gedung dengan sebuah gereja lain di kota yang memiliki fasilitas yang terlalu besar bagi jemaat mereka yang semakin sedikit. Meski memiliki latar belakang teologi dan denominasi yang berbeda, kedua jemaat tersebut bekerja sama untuk saling mendukung satu sama lain dan saling memberkati dalam pekerjaan yang kepadanya Tuhan memanggil mereka. Serupa dengan itu, di negara saya pernah terjadi penggabungan antara dua jemaat. Yang satu memiliki gedung tetapi tidak memiliki gembala; yang lain memiliki gembala tetapi tidak memiliki gedung. Untuk menyatu, jemaat yang satu harus bergabung dengan jemaat lainnya. Namun, kekuatan yang mereka dapatkan jauh melampaui pengorbanan apa pun yang telah mereka lakukan.
Contoh gereja individu yang melihat melampaui kebutuhan pelayanannya sendiri untuk mendukung gereja lain secara khusus layak mendapat perhatian di dalam budaya kita yang hiper-individualistis. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh memusatkan perhatian hanya pada diri sendiri, sebab Tuhan memberi perintah kepada kita, “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Perintah ini seharusnya dimulai dengan gereja lokal dan seharusnya ditunjukkan melalui komitmen kita satu sama lain. Namun, meski kasih kita kepada gereja lokal adalah yang utama, itu tidak boleh bersifat eksklusif. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa Kerajaan Allah jauh lebih besar dan luas daripada gereja lokal kita.
Ketika menceritakan kepada jemaat di Korintus semua penderitaan yang telah ia alami sebagai rasul—dipenjara, dipukul, mengalami kapal karam—Rasul Paulus memperlihatkan bahwa perhatiannya selalu tertuju pada semua jemaat (2Kor. 11:23-28). Ini mungkin tampak aneh di tengah serangan-serangan pribadi yang ia alami, tetapi fokusnya yang utama bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang lain, khususnya kesejahteraan jemaat-jemaat lain. Serupa dengan itu, Paulus memuji jemaat Filipi karena peran serta mereka dalam pengabaran Injil (Flp. 1:5) dan karena mereka mengirim bantuan lebih dari sekali untuk memenuhi kebutuhannya ketika ia merintis gereja di berbagai daerah (4:16). Pola mendukung gereja-gereja lain ini patut dipuji, tetapi memantik pertanyaan: Bagaimana kita dapat melakukan hal serupa? Berikut ini adalah lima cara yang dengannya kita dapat memiliki perspektif kerajaan dalam mendukung gereja-gereja lain.
Doa. Salah satu cara paling sederhana tetapi paling berdampak yang dengannya kita dapat mendukung gereja-gereja lain adalah melalui doa. Ini dapat dilakukan secara terencana dan sistematis terhadap gereja-gereja yang kita kenal dan memiliki kaitan dengannya, atau secara spontan ketika kita menjumpai mereka sepanjang hari. Jika gereja Anda memiliki buku pedoman doa, pertimbangkan menghubungi beberapa gereja lokal dan menanyakan kepada mereka tiga atau lima hal yang jemaat Anda dapat doakan untuk mereka pada bulan tersebut. Cara lain, ketika Anda melihat sebuah gereja ketika berkendara melintasi kota, berdoalah agar kebenaran firman Allah dijunjung tinggi, Injil diberitakan, dan jemaat Tuhan Yesus Kristus dikuatkan di sana. Sebagaimana dikatakan oleh Thomas Watson, “Buah dari pohon janji Allah tidak akan jatuh kecuali diguncangkan dengan tangan doa.” Kiranya doa-doa kita mengguncang pohon janji itu sehingga buah berkat Allah berlimpah bagi gereja-gereja ini.
Merintis Gereja. Salah satu sukacita besar dalam melayani adalah menjadi bagian dari perintisan gereja baru di tempat-tempat di mana belum ada gereja sebelumnya. Perintisan gereja, entah bersifat lokal maupun internasional, adalah sebuah pekerjaan menantang yang membutuhkan dukungan dan dorongan yang besar dari orang lain. Bermitra dengan para perintis gereja yang membawa berita Injil ke daerah-daerah yang sukar tetapi penting adalah sebuah pelayanan indah yang baginya kita dapat berkontribusi. Jika Tuhan menghendaki, hasil dari pendekatan kolaboratif dan berbasis tim terhadap perintisan gereja akan menjadi sebuah pelayanan yang menghasilkan murid selama beberapa generasi mendatang. Berpartisipasi dalam pekerjaan demikian adalah salah satu warisan berarti yang dapat kita tinggalkan dengan dukungan nyata terhadap gereja-gereja lain dan berwawasan Kerajaan Allah.
Partisipasi. Salah satu berkat yang saya alami sebagai gembala adalah menyambut orang-orang yang sedang bepergian melewati kota untuk tujuan bisnis atau liburan lalu memutuskan beribadah bersama kami. Mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun—tidak ada teman atau keluarga di dalam gereja kami—tetapi mereka tetap datang, tertarik oleh hubungan mereka dengan tubuh Kristus yang lebih besar. Tindakan partisipasi yang sederhana ini adalah penghiburan yang besar bagi gereja lokal (dan gembalanya). Sebuah relasi mungkin mulai terbentuk jika gereja tersebut adalah tujuan rutin bagi perjalanan mereka. Serupa dengan itu, hubungan semacam ini bisa dilakukan secara lokal dengan bergabung dengan gereja-gereja lain yang ada di sekitar untuk mengadakan kebaktian atau acara khusus. Partisipasi semacam itu membuktikan kesatuan kita dengan jemaat Kristus secara keseluruhan, bukan hanya dengan jemaat kita.
Bermitra. Pelayanan adalah jauh lebih besar daripada apa yang bisa dicapai oleh satu gereja sendirian. Bermitra dengan gereja atau bahkan individu Kristen lain dalam mengerjakan sebuah pelayanan bersama bisa memperluas cakupan dan dampak dari pelayanan kita. Pusat krisis lokal untuk ibu hamil, dapur umum, program rehabilitasi pecandu, pelayanan penjara, pelayanan orang tua asuh, pelayanan bagi para janda, dan panti asuhan, adalah beberapa contoh pelayanan yang bisa didukung oleh orang Kristen secara bersama-sama. Tindakan kasih dan kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan dan rentan ini memberi kesempatan yang amat baik untuk mendukung komunitas-komunitas lokal di luar gereja.
Pemerintahan. Terakhir, saling mendukung seharusnya juga tercermin dalam sistem pemerintahan gereja. Pada masa ketika skandal pada gereja-gereja inklusif terlalu sering terjadi, mengembangkan hubungan di antara gereja-gereja adalah hal penting untuk memastikan akuntabilitas. Model yang serupa dengan Konsili di Yerusalem sebagaimana tercatat di dalam Kisah Para Rasul 15—di mana beberapa jemaat bekerja sama untuk membahas persoalan-persoalan tertentu—dapat menolong mencegah ajaran bidah, mengoreksi gereja yang menyimpang, dan mendisiplin pendeta yang bersikap tidak pantas. Selain mendorong akuntabilitas, struktur tersebut secara alami akan mendorong praktik-praktik dukungan dan kemitraan yang sebelumnya telah disebutkan, yang memampukan gereja-gereja untuk saling menguatkan satu sama lain secara berarti dan bertahan lama.
Suatu hari nanti kita akan bersatu secara sempurna sebagai gereja Tuhan Yesus Kristus yang berkumpul dan dimuliakan. Saat ini, mendukung gereja-gereja lain akan memperluas visi kita tentang gereja melampaui gereja yang kita hadiri setiap Minggu. Sampai Tuhan menyatukan kita, semoga kita tetap berdiri teguh, tidak goyah, dan giat selalu dalam pekerjaan Tuhan (1Kor. 15:58) baik di dalam gereja lokal maupun di luar.


