Kekristenan yang Sejati

29 September 2026

Kekristenan yang Sejati

29 September 2026

Budaya Kita yang Artifisial

Kata artifisial diartikan sebagai sesuatu yang tidak alami atau nyata. Namun, ironi dari definisi tersebut adalah bahwa di dunia di mana orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus hidup sebagai pendatang dan perantau (1Ptr. 2:11), kita setiap hari dihadapkan dengan cobaan dan godaan yang sebenarnya sangat nyata dan dapat dirasakan. Kenyataan ini diungkapkan dengan serius di dalam sebuah doa di kalangan Puritan yang berjudul “Iman dan Dunia”, yang dikutip dari Lembah Penglihatan [judul asli: The Valley of Vision]:

Ya Tuhan, dunia penuh tipu daya untuk menjebak,
mendekat dengan wujud menarik,
menawarkan banyak umpan emas,
menampilkan banyak wajah menawan.

Perkataan serius tersebut harus menjadi pengingat bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus bahwa budaya di mana kita hidup tidaklah statis, melainkan dinamis. Dunia berdosa ini, yang berada di bawah kuasa si jahat (1Yoh. 5:19), memiliki identitas atau boleh dikatakan, kepribadian, yang “wujud menarik” dan “wajah menawan”nya tercermin pada ajaran, kebiasaan, dan peraturan tidak bermoral yang menjadi dasarnya beroperasi. Pada akhirnya, tujuan dari perangkat palsu dan dibuat-buat itu (Pkh. 7:29) adalah untuk menggoda orang Kristen agar menukar Kekristenan yang sejati dengan Kekristenan palsu yang artifisial.

Secara menyedihkan, banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus tunduk kepada godaan-godaan dangkal demikian, dengan memilih memuaskan kedagingannya daripada menaati Allah. Satu contohnya dari Alkitab adalah Demas, yang menjadi sangat tergoda oleh dunia sehingga meninggalkan Rasul Paulus dalam menjalankan pelayanan Injil (2Tim. 4:10). Terlepas dari perubahan sikap Demas yang mengecewakan, pertanyaan yang harus kita renungkan adalah ini: Bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih baik daripada Demas? Tidak juga. Kenyataannya, meski Alkitab tidak merinci apa yang secara khusus membuat Demas meninggalkan Paulus, satu hal yang pasti: keputusannya meninggalkan Paulus muncul dari dalam hatinya (Ams. 4:23). 

Di dalam hatilah afeksi kita, entah untuk kebaikan atau keburukan, baik atau jahat, terbentuk dan menetap. Mengingat kenyataan ini, tokoh Puritan abad ke-17, Christopher Love, memberi nasihat:

Marilah kita, yang harus berperang dengan musuh-musuh yang begitu kuat itu, menjadi seperti orang yang terbukti keahliannya, meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi kita dari beroleh mahkota yang tak dapat binasa. Marilah kita masuk ke medan laga untuk melawan musuh-musuh rohani kita, tanpa membawa sampah-sampah dunia yang menjadi beban dan penghalang, yang melekat pada kita karena ikatan cinta kedagingan, yang hanya akan mengkhianati kita dan menjerumuskan kita ke tangan musuh-musuh yang hendak menaklukkan kita. 

Sulit untuk menemukan deskripsi yang lebih akurat tentang kepalsuan budaya kita daripada apa yang digambarkan oleh Love sebagai “sampah-sampah dunia”. Apa yang budaya sajikan sebagai harta karun kepada orang Kristen, sesungguhnya hanyalah begitu banyak sampah dan kotoran. Rasul Paulus memahami hal ini dengan jelas ketika ia mengaku: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap kerugian karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Flp. 3:7-8).

Pada akhirnya, hati kitalah yang dikejar oleh budaya artifisial kita. Seiring akses kepada media sosial meningkat, khususnya ketika media-media tersebut dipakai untuk mempromosikan dan menyebarluaskan ideologi-ideologi yang tidak alkitabiah seperti homoseksualitas dan transgenderisme, tuntutan supaya orang percaya menyetujui dan merangkul pemikiran duniawi seperti itu pasti akan meningkat. Namun, ini adalah hal yang wajar dari budaya yang secara alami tidak ingin berurusan dengan hal-hal tentang Allah (Yoh. 7:7). Sebagaimana dikatakan oleh tokoh Puritan John Owen:

Seluruh struktur teologi injili yang menyelamatkan, dibangun di atas kenyataan tentang kondisi umat manusia yang sepenuhnya menyedihkan secara alami, dan teologi tersebut tidak dapat dimengerti atau dipraktikkan tanpa pemahaman yang jelas tentang kondisi menyedihkan yang alami itu.

Sebagai institusi yang ditahbiskan Allah (Mat. 16:18), Gereja harus menjadi saksi Kristus di dalam dunia, bukan partner dunia (2Kor. 6:14; Ef. 5:11). Kiranya Allah mengaruniakan kepada kita keberanian dengan kerendahan hati untuk berdiri bagi kebenaran-Nya yang kekal di dalam budaya yang dikuasai oleh kepalsuan yang fana (Yoh. 17:17).

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Darrell B. Harrison

Darrell B. Harrison

Pdt. Darrell B. Harrison adalah pendeta dan konselor alkitabiah di Redeemer Bible Church di Gilbert, Arizona, dan rekan penyiar dalam siniar Just Thinking. Ia adalah rekanan dari Black Theology and Leadership Institute di Princeton Theological Seminary, dan rekan penulis buku Just Thinking: About the State, Just Thinking: About Ethnicity, dan Why Are You Afraid?