
Harapan dalam Ujian
24 September 2026
Budaya Kita yang Artifisial
01 Oktober 2026Kekristenan yang Sejati
Saya masih ingat ketika Facebook pertama kali diluncurkan dan saya bersemangat mengirimkan permintaan pertemanan kepada orang-orang yang saya kenal. Namun, sejumlah permintaan segera datang dari berbagai kenalan—bahkan dari orang-orang tak dikenal. Terlepas dari seberapa baik saya mengenal mereka, Facebook melabeli mereka semua sebagai “teman”. Pada akhirnya, istilah “teman Facebook” muncul, dan menjadi cara untuk membedakan antara pertemanan sejati dan pertemanan yang bersifat maya dan dangkal.
Begitu pula, sebutan “Kristen” dapat membawa ketegangan antara Kekristenan sejati dan artifisial. Kisah Para Rasul 11:26 memberitahu bahwa orang percaya pertama kali disebut Kristen di Antiokhia. Sebelumnya, mereka dikenal sebagai pengikut “Jalan Tuhan” (24:14) atau “aliran Nasrani” (ay. 5). Namun, sebutan Kristen itu yang terus melekat, dan sekarang ini, sebutan itu menjadi istilah yang paling umum bagi para pengikut Yesus Kristus. Namun, saya kerap mendapati diri saya menambahkan kualifikasi—“Kristen sejati”, “Kristen otentik”, atau “Kristen yang berkomitmen”. Mengapa? Sebab Kekristenan telah menyebar begitu luas sehingga sekarang kita tidak selalu dapat memastikan siapa yang benar-benar tunduk kepada pemerintahan Kristus. Kekristenan nominal menjadi lazim. Akibatnya, budaya kita sering kali mencerminkan ketaatan yang samar-samar kepada prinsip-prinsip kristiani tanpa dasar yang alkitabiah. Inti ajaran Kristen—Kristus dan Injil-Nya—sering kali dikeluarkan, hanya menyisakan potongan-potongan kebenaran yang dipahami dan diterapkan secara keliru.
Bahkan di dalam gereja terdapat definisi-definisi yang saling bersaing tentang apa artinya menjadi orang Kristen. Seorang pendeta mungkin menekankan satu aspek, sementara buku atau siniar populer menyajikan aspek yang lain. Dengan begitu banyaknya suara yang menawarkan versi Kekristenannya sendiri, bagaimana kita bisa tahu mana yang otentik? Jawabannya sederhana, yaitu dengan menyelidiki firman Allah. Di dunia yang sering kali terasa artifisial dan tidak pasti ini, Kitab Suci tetap menjadi dasar yang pasti bagi kita. Ketika banyak orang berpaling dari Yesus, Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal” (Yoh. 6:68).
Firman Allah memberitahu bagaimana kita dapat menjadi Kristen, cara menjalani hidup sebagai Kristen, dan seperti apa Kekristenan yang otentik itu. Karena Kristus telah mati untuk menebus dosa-dosa kita, dan mengaruniakan Roh-Nya kepada kita, kita dipanggil untuk menjalani hidup yang baru (Rm. 6:4) dan mengikut Dia (Yoh. 10:27). Kita diutus untuk memberitakan Injil (Mrk. 16:15) dan berdiri dengan berani bagi kebenaran (Ef. 6:13-14) sembari hidup dengan damai dan tenang (1Tes. 4:11-12).
Kekristenan otentik tidak ditentukan oleh tren budaya, pendapat pribadi, atau norma-norma sosial yang bergeser, melainkan ditentukan oleh Kristen dan firman-Nya. Panggilan untuk mengikut Dia bukanlah hal yang santai atau opsional, tetapi memanggil kita kepada pengabdian sepenuh hati. Semoga kita tidak puas dengan Kekristenan yang kosong. Semoga kita, oleh anugerah Allah, menjadi Kristen dalam arti yang sesungguhnya—murid-murid Yesus Kristus yang hidup dalam terang firman-Nya, berdiri teguh di atas kebenaran, dan memegang erat iman yang telah sekali untuk selamanya disampaikan kepada orang-orang kudus (Yud. 1:3).


