
Apa Kata Alkitab tentang Hubungan Seks di Luar Nikah?
13 Juli 2023
Apakah Allah Menghukum Kita karena Dosa Orang Tua Kita?
20 Juli 2023Berdoa Mengikuti Mazmur 51
Umat Allah telah lama melihat perkataan Daud di dalam Mazmur 51 sebagai sebuah model tentang bagaimana seharusnya kita berdoa ketika diliputi dengan pelanggaran-pelanggaran jahat terhadap Allah yang kudus. Harus diakui, dengan istilah-istilah seperti “hisop”, “hutang darah”, dan “korban bakaran”—belum lagi pengakuan Daud bahwa Allah adalah satu-satunya yang terhadap-Nya ia berdosa—kitab Mazmur memberi gambaran-gambaran yang tidak umum kepada umat Allah Perjanjian Baru. Meski demikian, Mazmur 51 adalah sebuah panduan yang indah untuk doa pertobatan. Tujuan dari artikel ini adalah menunjukkan bagaimana Mazmur 51 menuntun pertobatan kita sendiri.[1]
1. Berdoa untuk pengampunan (Mzm. 51:3-11: “Kasihanilah aku”; “Bersihkanlah aku”; “Tahirkanlah aku”; “Hapuskanlah”
Kebutuhan terbesar kita adalah Allah, masalah terbesar kita adalah dosa kita, dan satu-satunya solusi adalah pengampunan Allah. Ketika kita berdosa, kebutuhan terbesar kita bukanlah menutupinya, merasionalisasinya, atau bahkan untuk merasa lebih baik (mencurahkan isi hati kita). Kita memerlukan pengampunan. Allah cepat dalam mengampuni orang-orang yang datang dengan rendah hati kepada-Nya untuk mengakui dosa-dosa mereka dan meminta pengampunan. Namun, kita harus memiliki hati nurani yang terluka bila kita ingin mencari belas kasihan, sebagaimana dikatakan oleh John Calvin, “Kita tidak akan pernah memohon pengampunan Allah dengan serius sampai kita memiliki pandangan tentang dosa yang menyebabkan kita gentar.”1 Kita harus memahami dosa-dosa kita dan cepat untuk bertobat bilamana Roh Kudus menusuk hati nurani kita. Lalu, kita berdoa memohon pengampunan, bukan karena Allah enggan memberikannya, tetapi karena kita sadar bahwa kita benar-benar bergantung pada belas kasihan-Nya. Kita tidak melakukan sakramen tobat. Kita tidak mencambuki diri sendiri untuk menebus dosa-dosa kita. Kita juga tidak menutupi dosa-dosa kita. Seperti Daud, kita membentangkan dosa-dosa kita dan bergantung pada janji Allah untuk mengampuni umat-Nya. Ketika kita diliputi penyesalan, kita berharap kita memiliki mesin waktu. Andai saja kita bisa memutar waktu dan membatalkan apa yang telah terjadi. Hai, orang Kristen yang terkasih, kita memiliki sesuatu yang lebih baik. Kita memiliki janji yang pasti, seperti yang diterima Daud dari Natan, yaitu bahwa Tuhan telah “menyingkirkan dosamu” (2 Sam. 12:13). Jadi, sebutkanlah dosa Anda secara spesifik, akui, dan berdoalah meminta belas kasihan.
2. Berdoa untuk pemulihan (Mzm. 51:12-14): “Perbaruilah aku”; “Janganlah membuang aku”; “Kembalikanlah”
Setelah berdoa untuk pengampunan, Daud sekarang berdoa untuk pemulihan. Pertobatan sejati mencari pengampunan dan pemulihan, transformasi, dan pembaruan. Orang-orang munafik yang tidak tulus mencari pengampunan dosa walau jelas bermaksud untuk kembali melakukannya. Para pendosa yang bertobat mencari pengampunan dan pemulihan perkenanan Allah dan berkat-berkat lain yang menyertai keselamatan-Nya. Daud mencari pembaruan yang telah ia hilangkan melalui dosanya: hati yang murni, roh yang teguh, hadirat Allah dan Roh yang penuh anugerah, dan sukacita. Dosa merupakan hal yang paling menyeramkan dan menyedihkan karena memedihkan hati Allah. Ketika kita berdosa dan memohon pengampunan, adalah baik kita merenungkan doa Daud yang memohon pemulihan dan pembaruan anugerah-anugerah ini. Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan Anda bersedia dan siap untuk taat, memberi Anda hati yang murni, yang berintegritas, memperbarui sukacita berada dalam keselamatan Allah, dan menjadikan Anda menyadari akan hadirat-Nya yang kekal.
3. Berdoa untuk ketaatan dan mempersembahkan korban rohani (Mzm. 51:15-19): “Aku akan”; “Jiwa yang hancur”; “Hati yang remuk redam”
Pemulihan atas anugerah-anugerah tersebut mendorong sebuah ketetapan hati yang baru dan usaha untuk memiliki ketaatan yang baru—baca Westminster Shorter Catechism 87. Kita diampuni dan dipulihkan kepada ketaatan yang baru. Bila Daud menemukan pengampunan dan pemulihan yang ia cari, ia akan mengungkapkan syukurnya dalam bentuk proklamasi, yaitu memberitakan kepada orang-orang tentang kabar baik anugerah Allah yang telah ia sendiri alami dengan berlimpah. Calvin menulis, “Orang-orang yang dengan belas kasihan dipulihkan dari kejatuhan mereka akan dibakar dengan hukum umum tentang kasih untuk mengulurkan tangan kepada saudara-saudara mereka; dan secara umum, orang-orang yang telah menerima anugerah Allah, akan sedemikian didorong oleh prinsip agama, dan demi kemuliaan ilahi, akan menginginkan agar orang lain juga mengambil bagian di dalamnya.”2 Raja Daud juga berketetapan hati untuk memuji Tuhan (Mzm. 51:16-17). Terakhir, ia mempersembahkan korban rohani alih-alih korban binatang. Ini mungkin terlihat aneh, sebab Tuhan telah menetapkan sebuah sistem korban untuk penghapusan dosa. Namun, Daud memahami apa yang tidak dimengerti oleh kebanyakan orang Yahudi. Banyak orang yang di bawah Taurat berusaha mendapatkan pengampunan dan keselamatan Allah dengan mempersembahkan sebuah pembayaran dalam bentuk korban binatang di atas mezbah. Daud memahami bahwa ia tidak dapat membawa apa pun kepada Tuhan untuk memperoleh pengampunan, bahwa ia tetap bergantung sepenuhnya kepada belas kasihan Allah dan penebusan yang Ia janjikan.3
Menurut John Bunyan, memiliki hati yang remuk berarti memiliki hati yang “lumpuh, tanpa kemampuan, dan diliputi oleh murka Allah atas dosa”. Jiwa yang hancur adalah jiwa yang menyesal, yang “sangat berduka dan amat menyesal karena dosa yang ia lakukan terhadap Allah, dan kerusakannya terhadap jiwa”.4 Maka, hati yang remuk redam mencerminkan sikap yang rendah hati, sedih, sekaligus berharap. Saudara-saudara yang terkasih, Allah tidak memandang hina jiwa yang hancur dan hati yang remuk redam (Mzm. 51:19). Ia justru menyukainya. Ketika kita mengambil sikap ini, kita mengakui kebergantungan kita pada pemeliharaan Allah yang ultima untuk dosa kita (tidak peduli seberapa mengerikan), yaitu karya penebusan Tuhan Yesus Kristus. Perbaruilah ketaatan Anda kepada Tuhan, dan persembahkanlah hati Anda kepada-Nya.
4. Berdoa untuk umat Allah (Mzm. 51:20-21): “Tunjukkanlah kebaikan”; “Bangunkanlah”
Sampai sejauh ini Daud menaikkan doa-doa bagi dirinya sendiri—untuk pengampunan, pemulihan, dan ketetapan hati untuk berjalan dengan rasa syukur dalam ketaatan dengan hati yang hancur. Di ayat 20, Daud beralih memohon untuk umat Allah. Sepintas ini tampak seperti bagian penutup yang aneh terhadap doa pertobatan. Pastinya, permohonan Daud bagi Sion adalah unik, sebab ia adalah wakil Allah di Israel. Sebagai raja-gembala, ia bertanggung jawab untuk memelihara dan melindungi umat Allah. Dosanya mendatangkan hukuman dan masalah bagi bangsa Israel, dalam cara yang tidak sama seperti dosa-dosa orang lain.5 Namun, adalah juga benar, meski dalam jangkauan yang lebih kecil, bahwa dosa kita juga mengganggu gereja. Sejauh dosa-dosa kita telah melukai orang lain, kita harus berdoa bagi mereka, dan terkadang mengakuinya kepada mereka. Karena mengetahui kesakitan dan kepedihan yang kita rasakan, kita berdoa untuk mereka, dan menguatkan mereka, supaya mereka tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Selain itu, kita memercayakan pemeliharaan atas gereja kepada sang Kepala, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak mungkin dapat menghancurkan gereja dengan dosa kita pada akhirnya, ataupun membangun dan menumbuhkan gereja dengan usaha kita sendiri. Dengan percaya kepada Kristus untuk membangun dan memelihara gereja-Nya, doa-doa pertobatan kita seharusnya mengingat gereja yang kelihatan. Meskipun beberapa dosa bersifat pribadi, kita tidak pernah benar-benar berdosa sendirian. Kita adalah anggota dari satu tubuh (Gal. 3:26). Maka, kita berdoa agar Tuhan menghapuskan kejahatan kita, memelihara umat-Nya, mengokohkan gereja-Nya, dan membuat berhasil jalan-jalan mereka.
Kesedihan Daud atas dosanya hanya dapat diimbangi oleh keyakinannya bahwa Tuhan senang menunjukkan belas kasihan kepada umat-Nya yang hancur dan remuk redam. Ketika Anda terjebak dalam pergumulan kesedihan yang mendalam atas dosa-dosa Anda, berdoalah untuk meminta pengampunan dan pemulihan, tetapkan hati untuk berjalan dalam ketaatan yang baru, dan naikkan permohonan bagi orang lain agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa. Yang paling penting, seperti Daud menantikan penebusan yang sempurna dan final yang Tuhan akan sediakan, kita mengarahkan mata kita kepada sang Raja yang telah datang untuk membuat kita lebih putih dari salju. Maka, kita bangkit dari lutut yang bertobat dan berjalan maju sebagai orang-orang yang yakin bahwa Tuhan telah “menjauhkan dosa [kita]” (2 Sam. 12:13) “sejauh Timur dari Barat” (Mzm. 103:12).
[1] Pastinya, ada banyak mazmur lain yang dapat menjadi model doa pertobatan. Untuk melihat pentingnya mendoakan mazmur dan panduan lengkap mendoakan mazmur dalam struktur kanonisnya, bacalah Gordon Wenham, The Psalter Reclaimed: Praying and Praising with the Psalms (Wheaton, Ill.: Crossway, 2013).
—
- John Calvin, Commentary on the Book of Psalms (Bellingham, Wash.: Logos, 2010), 2:284–85.
- Calvin, Commentary on the Book of Psalms, 2:302.
- R.C. Sproul, Following Christ (Wheaton, Ill.: Tyndale House, 1996). “Di sini pemikiran Daud yang dalam menyingkapkan pemahamannya atas apa yang sering kali gagal dipahami oleh orang-orang dalam Perjanjian Lama, yaitu bahwa persembahan korban di Bait Suci tidak menghasilkan jasa apa pun bagi orang berdosa. Korban-korban tersebut menunjuk melampaui korban-korban itu sendiri, kepada Korban yang sempurna. Penebusan yang sempurna dipersembahkan oleh Anak Domba yang tidak bercacat cela. Darah lembu jantan dan kambing jantan tidak dapat menghapuskan dosa. Darah Yesus menghapuskannya. Untuk dapat menerima penebusan Kristus, yaitu untuk memperoleh penghapusan dosa, kita dituntut untuk datang kepada Allah dalam kehancuran dan penyesalan. Korban yang sejati kepada Allah adalah jiwa yang hancur dan hati yang remuk redam.”
- John Bunyan, The Acceptable Sacrifice (Bellingham, Wash.: Logos, 2006), 1:69.
- Calvin menuliskan keunikan dari kewajiban yang dirasakan Daud ini. “Dinaikkan ke takhta, dan awalnya diurapi untuk menjadi raja demi tujuan menumbuhkan Gereja Allah, melalui perbuatannya yang memalukan, ia hampir mengakibatkan kehancurannya. Meski dapat didakwa dengan kesalahan ini, ia sekarang berdoa agar Allah memulihkan kesalahannya dalam pelaksanaan belas kasihan-Nya yang cuma-cuma.” Commentary on the Book of Psalms, 2:307.


