
Apakah Allah Selalu Berkenan pada Orang Kristen?
13 November 2025
Cara Mendukung Para Caregiver (Pengasuh/Pendamping) di Gereja Anda
20 November 2025Bagaimana Saya Bisa menjadi Seorang Kristen di Tempat Kerja Saya?
“Kamu tahu, Alex, selain sebagai sumber penghasilan, apa yang aku lakukan dalam pekerjaanku hampir tidak bermakna.” Itulah yang dikatakan oleh seorang pengusaha Kristen sukses kepada saya saat saya berusia pertengahan dua puluhan. Seorang pria yang rendah hati, maksudnya adalah bahwa pekerjaan sering kali terasa seperti hal buruk yang tak terhindarkan.
Adalah mengagumkan bahwa teman saya yang lebih tua ini tidak menemukan identitas dirinya dalam pekerjaannya—suatu godaan yang sebaiknya kita hindari. Hanya Kristus yang dapat memberi kita signifikansi yang banyak orang cari dari pekerjaan mereka. Namun, apakah ini bagaimana kita seharusnya memandang pekerjaan kita, sebagai sesuatu yang tidak bermakna? Atau mungkinkah Alkitab dapat memberi kita pandangan yang lebih kaya dan optimis tentang aktivitas yang menghabiskan setengah dari waktu terjaga kita? Apa artinya bekerja sebagai seorang Kristen?
Kerja sebagai Ibadah
Sering kali kita mendengar orang membandingkan pekerjaan Kristen dengan pekerjaan sekuler. Pelayanan penuh waktu adalah panggilan yang unik dan penting, yang layak mendapat kehormatan dua kali lipat (Ibr. 13:7; 1Tim. 5:17). Namun, bagi orang Kristen, seluruh kehidupan harus dijalani coram Deo, di hadapan Allah. Oleh karena itu, setiap aktivitas yang melayani kebaikan sesama dan dipersembahkan kepada Allah dalam ketaatan yang berakar pada iman adalah pekerjaan Kristen.
Roma 12:1 mengarahkan kita untuk mempersembahkan diri kita kepada Allah “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati.” Ini bukanlah tindakan sekali saja, tetapi persembahan yang terus-menerus. Seluruh hidup kita seharusnya dipersembahkan kepada Dia yang hidup dan mati agar “mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor. 5:15). Kita melakukannya bukan untuk memperoleh perkenanan Allah, tetapi karena kita telah menerimanya dan mengalaminya.
Segala yang kita lakukan memiliki arti karena setiap tindakan, perasaan, dan motivasi kita seharusnya merupakan bagian dari ibadah rohani, yang kita dipanggil untuk melakukannya. Di tempat kerja, kita seharusnya menciptakan atau mendistribusikan barang dan jasa seperti untuk dipersembahkan kepada Tuan itu sendiri. Kita seharusnya bekerja dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Kita berupaya mencapai keunggulan dalam pekerjaan kita untuk menyenangkan Allah, bukan untuk imbalan duniawi.
Kerja sebagai Kasih pada Sesama
Martin Luther sering mengatakan, “Allah tidak membutuhkan perbuatan baik kita, tetapi sesama kita membutuhkannya.” Pekerjaan kita memberikan cara konkret yang dengannya kita dapat mengasihi sesama. Sering kali, kita menggunakan frasa “pekerjaan baik” hanya dalam konteks gaji. Tidak ada yang salah dengan kompensasi yang adil—kemandirian finansial dan rasa puas didorong dalam Alkitab (1Tes. 4:11–12; 1Tim. 5:8; Ibr. 13:5)—tetapi baik uang maupun status tidak boleh menjadi motivasi utama kita. Apa yang seharusnya? Kasih kepada Allah dan sesama.
Dalam pekerjaan kita, kita seharusnya berusaha untuk memberikan manfaat: untuk meningkatkan kualitas hidup, mempromosikan ketertiban, dan meringankan penderitaan. Ini merupakan bagian dari prinsip yang lebih besar: kekristenan itu baik bagi masyarakat. Kekristenan membuat kita menjadi suami, istri, ayah, ibu, warga negara, dan karyawan yang lebih baik. Kekristenan membuat kita bermanfaat bagi orang Kristen maupun non-Kristen. Tidak semua pekerjaan baik dibayar dengan baik. Tidak semua pekerjaan baik sering mendapat pujian. Akan tetapi, semua pekerjaan baik itu bermanfaat.
Kerja sebagai Panggilan
Menyadari tangan Allah yang memanggil kita untuk bekerja di bidang tertentu demi kebaikan orang lain dapat menghasilkan rasa sukacita dan signifikansi yang lebih besar, terlepas dari detail-detailnya. Apakah atasan Anda tidak tahu berterima kasih? Rekan kerja Anda sulit? Pelanggan Anda sulit dipuaskan? Biarlah demikian. Pekerjaan Anda adalah panggilan dari Allah. Jika kesetiaan adalah tujuan kita, dan pujian bagi Allah adalah sasaran kita, ini memudahkan kita untuk bertahan menghadapi rasa frustrasi. Yesus adalah teladan kita, yang ketika dihina, tetap “menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil” (1Ptr. 2:23).
Syukurlah, dalam banyak hal, kita memiliki kebebasan untuk menekuni pekerjaan yang paling sesuai dengan kemampuan kita. Sebisa mungkin secara praktis, kita seharusnya mencari pekerjaan yang memaksimalkan bakat, temperamen, talenta, dan preferensi kita. Dengan begitu, pekerjaan kita akan kurang terasa membebani dan, seperti yang dikatakan Dorothy Sayers, lebih merupakan sarana di mana kita “menemukan kepuasan spiritual, mental, dan fisik,” dan “sarana di mana kita mempersembahkan diri kita kepada Allah.”
Jika Anda sedang mencari pekerjaan, percayalah pada pemeliharaan Allah selagi Anda mengembangkan keterampilan dan menyusun resume untuk mendapatkan peran yang Anda inginkan. Memandang pekerjaan kita sebagai panggilan mengingatkan kita untuk setia dalam keadaan kita saat ini, dengan menyadari bahwa, setidaknya untuk saat ini, Allah telah menunjuk kita untuk melakukannya.
Kerja sebagai Pra-Penginjilan
Melalui perbuatan baik yang dimungkinkan oleh pekerjaan kita, kita memuliakan Injil anugerah Allah (Tit. 2:9–10). Artinya, kita membuatnya lebih menarik bagi orang lain. Tempat kerja memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan orang-orang non-Kristen yang tidak akan kita kenal jika kita tidak bekerja di sana. Kebaikan terhadap rekan kerja kita menciptakan peluang untuk berbicara tentang karya Kristus baik di kayu salib maupun dalam hidup kita. Saat pintu terbuka, kita seharusnya menjangkau orang lain, mengatakan kebenaran dalam kasih, dan meminta Allah untuk memberikan mereka pertobatan.
Kristus telah membayangkan hal ini, mengajarkan kita untuk membiarkan terang kita bersinar di hadapan orang lain, sehingga mereka dapat melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa kita yang di surga (Mat. 5:16).
Kerja sebagai Sarana Pengudusan
Akhirnya, sejauh pekerjaan kita melibatkan kesulitan—dan dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, hal itu pasti akan terjadi—pekerjaan kita adalah sarana pengudusan. Dengan mengingat hal ini, kita dapat menganggap semuanya sebagai sukacita ketika kita menghadapi berbagai macam pencobaan, karena kita tahu bahwa ujian iman kita menghasilkan ketekunan (Yak. 1:2–3). Syukur kepada Allah bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik ini akan setia untuk menyelesaikannya (Flp. 1:6).
Saudara-saudara Kristen yang terkasih, apa yang Anda lakukan di tempat kerja bukanlah hal yang tidak bermakna. Itu adalah bagian penting dari panggilan Allah dalam hidup Anda, sebuah arena untuk mempersembahkan ibadah rohani, berkontribusi bagi kebaikan bersama, dan mengasihi sesama melalui perbuatan baik.


