Berkhotbah dan Mengajar
19 Januari 2026
Pertobatan Sejati Menuju Kehidupan
23 Januari 2026
Berkhotbah dan Mengajar
19 Januari 2026
Pertobatan Sejati Menuju Kehidupan
23 Januari 2026

Ketakutan dan Ketidakpastian

Kematian adalah masalah terbesar yang dihadapi manusia. Kita mungkin mencoba untuk menyingkirkan pikiran tentang hal itu di sudut pojok pikiran kita, tetapi kita tidak dapat sepenuhnya menghapus kesadaran akan kefanaan kita. Kita tahu bahwa bayangan kematian menanti kita.

Rasul Paulus menulis:

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Sebab, sebelum hukum Taurat ada, dosa telah ada di dunia. Namun, dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguhpun demikian, maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai zaman Musa. (Rm. 5:12–14)

Kita melihat bahwa dosa sudah ada bahkan sebelum hukum diberikan melalui Musa, dan hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kematian telah terjadi sebelum hukum diberikan. Fakta kematian membuktikan adanya dosa, dan fakta dosa membuktikan adanya hukum, yang telah dinyatakan secara batiniah kepada manusia sejak semula. Kematian datang ke dalam dunia sebagai akibat langsung dari dosa.

Dunia sekuler memandang kematian sebagai bagian dari tatanan alamiah, sedangkan orang Kristen memandang kematian sebagai bagian dari tatanan kejatuhan; kematian bukanlah keadaan orisinal manusia. Kematian datang sebagai penghakiman Allah atas dosa. Sejak awal, semua dosa adalah pelanggaran dengan hukuman mati. Allah berkata kepada Adam dan Hawa, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati” (Kej. 2:16-17). Kematian yang Allah peringatkan bukan hanya kematian rohani, tetapi juga kematian fisik. Adam dan Hawa tidak mati secara fisik pada hari mereka berbuat dosa; Allah memberi mereka anugerah untuk hidup sekian waktu lebih lama sebelum menuntut hukuman-Nya. Meskipun demikian, mereka akhirnya lenyap dari muka bumi.

Setiap manusia adalah orang berdosa dan oleh karena itu telah dijatuhi hukuman mati. Kita semua sedang menunggu putusan hukum itu dilaksanakan. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang terjadi setelah kematian. Bagi orang Kristen, hukuman tersebut telah dibayar oleh Kristus. Hal ini berimplikasi pada cara kita menghadapi kematian. Paulus sedang berada di dalam penjara ketika ia menulis:

Aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. Yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Sesungguhnya, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama Kristus; hal itu memang jauh lebih baik. Namun, lebih perlu tinggal di dunia ini karena kamu. (Flp. 1:19-24)

Banyak dari kita yang terkejut dengan kata-kata Paulus dalam teks ini. Meskipun kita bersukacita dalam kemenangan Kristus atas maut, kita tetap takut akan kematian. Orang Kristen tidak dijamin terbebas dari kematian yang menyakitkan. Dengan demikian, pemikiran tentang kematian sering kali membawa ketakutan baik bagi orang Kristen maupun non-Kristen. Ketakutan itu terkait dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah kematian.

Bagi orang Kristen, ada sebuah janji dari Allah, sebuah janji yang membuat Paulus dapat berkata, “Sesungguhnya, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Kita dijanjikan bahwa kita akan masuk ke dalam hadirat Allah. Akan tetapi, ada beberapa pertanyaan, bahkan dengan janji ini. Seperti apakah surga itu? Apakah kita akan menikmatinya? Apa yang akan kita lakukan di sana? Akan menjadi seperti apakah kita nantinya?

Untuk semua kesulitan dalam hidup ini, hanya itu yang kita ketahui. Lagipula, bahkan Paulus pun tidak memandang rendah kehidupan ini. Dia berkata: “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama Kristus; hal itu memang jauh lebih baik. Namun, lebih perlu tinggal di dunia ini karena kamu” (Flp. 1:23-24). Paulus ingin melanjutkan hidupnya di dunia ini, khususnya pelayanannya, tetapi ia mengakui bahwa “pergi dan tinggal bersama Kristus” adalah “jauh lebih baik”.

Bagi orang non-Kristen, berita ini jauh lebih tidak baik. Kembali ada sebuah janji dari Allah, tetapi kali ini adalah janji tentang hukuman, bahwa murka Allah terhadap dosa akan dilampiaskan kepada mereka yang tidak percaya kepada Kristus. Hukuman itu akan terjadi di tempat yang disebut neraka, tetapi sekali lagi, ada ketidakpastian. Seperti apakah neraka itu? Apa saja yang tercakup dalam hukuman itu? Apakah ada kesempatan untuk lolos darinya? Apakah itu adil, atau apakah akan lebih adil jika orang jahat dibinasakan saja?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang penting, karena kita semua akan menghadapi kematian suatu hari nanti. Menjadi orang Kristen yang konsisten berarti menerima supernaturalisme Alkitab yang tak tergoyahkan, supernaturalisme yang dikutuk oleh dunia saat ini. Kita harus memiliki perspektif yang dibentuk oleh Alkitab dan bukan oleh budaya orang yang tidak percaya. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan pengharapan—pengharapan di dalam Allah yang telah menciptakan kita dan yang berjanji untuk membawa kita ke surga melalui karya Anak-Nya dan meluputkan kita dari penderitaan neraka.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.