
Buah Roh
27 Februari 2026
Kitab Amsal
04 Maret 2026Kontribusi Augustinus bagi Doktrin Kristen
Aurelius Augustinus, yang kita kenal sebagai Augustinus dari Hippo, lahir pada tahun 354 di sebuah kota kecil di Afrika Utara. Ayahnya adalah seorang pagan seumur hidup, yang dibaptis menjelang ajalnya, dan ibunya seorang Kristen saleh yang berdoa tanpa henti untuk anak laki-lakinya yang keras kepala. Nantinya, anak dari Afrika Utara ini akan menjadi seorang Kristen. Ia juga akan menjadi teolog paling berpengaruh dalam seribu tahun pertama sejarah Gereja dan salah satu pemikir paling berpengaruh secara umum dalam seluruh sejarah Barat.
Pada masa mudanya, Augustinus tertarik kepada agama dualistis Manikheisme lalu kemudian neo-Platonisme. Pertobatannya yang dramatis menjadi Kristen diceritakan di dalam bukunya, Confessions. Pada tahun 395, Augustinus menjadi uskup Hippo Regius di Afrika Utara. Sebagai pemimpin gereja yang berpengaruh, ia sangat terlibat dalam dua kontroversi teologis besar dan banyak kontroversi kecil semasa hidupnya. Dua kontroversi besar yang banyak mendapatkan perhatian dan tulisan darinya adalah kontroversi Donatis dan kontroversi Pelagius. Kontribusinya terhadap dua kontroversi ini secara permanen menetapkan arah Gereja Barat.
Augustinus juga meninggalkan sejumlah besar karya tulis bagi Gereja, termasuk esai-esai teologi yang panjang, risalah-risalah polemik, komentari-komentari Alkitab, dan ratusan surat dan khotbah. Tulisan-tulisan ini merupakan sumber teologis yang penting pada zamannya, dan tetap penting pada masa kini.
Dalam sebagian besar sejarah Gereja mula-mula dan Abad Pertengahan, Augustinus merupakan salah satu otoritas teologis utama di luar Alkitab. Sama seperti seorang teolog Reformed saat ini mungkin merujuk pada tulisan-tulisan John Calvin untuk mendukung suatu posisi teologis, para teolog awal akan sering merujuk pada Augustinus untuk mendukung posisi mereka. Dalam beberapa perdebatan, misalnya perdebatan pada era Reformasi mengenai Perjamuan Kudus, pendukung pandangan-pandangan yang berlawanan telah memasukkan Augustinus ke pihak mereka.
Pada abad ke-12, Petrus Lombardus menulis sebuah naskah teologi berjudul The Four Books of Sentences. Tulisan ini menjadi buku teks teologi standar di universitas-universitas sejak awal abad ke-13 hingga masa Reformasi. Setiap teolog yang cakap akan menulis tafsiran atas buku Sentences karya Lombardus sebagai bagian dari tuntutan studinya. Saya menyinggung Sentences di sini karena salah satu hal paling mengejutkan tentangnya adalah isinya hampir selalu merujuk kepada tulisan Augustinus.
Intinya, pemahaman Augustinus tentang Alkitab dan teologi memberi dampak luar biasa bagi teologi Kristen mula-mula, Abad Pertengahan, dan Reformasi. Gereja secara resmi menyetujui banyak ajarannya, dan teolog-teolog Gereja setelah Augustinus berusaha membangun di atas karyanya. Bahkan ketika Gereja dan para teolognya menjauh dari ajaran Augustinus, mereka melakukannya secara diam-diam. Tidak seorang pun di dalam kekristenan ortodoks yang ingin dilihat menentang Augustinus.
Jika Augustinus mengajarkan sesuatu, entah itu alkitabiah atau tidak, ajarannya bertahan di dalam Gereja dan memengaruhi semua orang di Gereja selama berabad-abad. Ini berarti jika Augustinus mengajarkan hal yang benar, otoritasnya akan menolong ajaran itu menjadi sebuah pagar pengaman melawan kekeliruan di masa depan. Namun, jika ada sesuatu yang keliru, kekeliruan itu berlipat ganda karena pengaruhnya terhadap ajaran Gereja selanjutnya. Para teolog Barat biasanya sangat tidak suka untuk menentang Augustinus sehingga hal-hal yang benar dan keliru yang ia ajarkan menjadi bagian dari materi doktrin Gereja.
Artikel sebelumnya dalam edisi Tabletalk ini membahas kasus-kasus ketika Augustinus melakukan kekeliruan-kekeliruan yang signifikan. Sering kali hal ini disebabkan oleh sisa-sisa ajaran pagan yang dipelajari Augustinus sebelum pertobatannya. Namun, artikel ini berfokus pada kontribusi Augustinus bagi Teologi Kristen. Kita pertama-tama akan mencermati beberapa doktrin spesifik Augustinus dalam konteks sejarahnya. Ketika kita melakukannya, kita akan mengamati aspek-aspek ajarannya yang dipermasalahkan oleh para Reformator. Ini penting karena kadang terjadi percampuran antara yang baik dan yang buruk dalam ajaran Augustinus, bahkan dalam bidang-bidang pengajarannya di mana dia sebagian besar berada dalam jalur yang benar.
Augustinus sendiri mendorong pendekatan semacam ini pada tulisan-tulisannya. Ia tidak mengalami delusi bahwa ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tidak percaya bahwa tulisannya setara dengan Alkitab. Dalam satu surat yang baru-baru ini ditemukan, Augustinus menulis:
Kami, yang berkhotbah dan menulis buku-buku, menulis dengan cara yang sama sekali berbeda dari bagaimana kanon Alkitab ditulis. Kami menulis sembari membuat kemajuan. Kami belajar hal baru setiap hari. Kami mendikte sembari menyelidiki. Kami berbicara sembari masih mengetuk pintu pemahaman… Saya meminta kemurahan hati Anda, untuk saya dan dalam kasus saya sendiri, supaya Anda tidak menganggap buku atau khotbah saya sebagai Kitab Suci… Jika ada yang mengkritik saya ketika saya berkata benar, ia tidak melakukan hal yang benar. Namun, saya akan lebih marah lagi terhadap orang yang memuji saya dan menganggap apa yang saya tulis sebagai kebenaran [kanon] Injil daripada orang yang mengkritik saya secara tidak adil.
Kita pertama-tama akan melihat sebuah kontroversi yang menghabiskan sekitar dua puluh lima tahun dari kehidupan Augustinus. Kontroversi Donatis bermula dari penganiayaan yang dialami oleh Gereja selama abad ke-3 dan awal abad ke-4. Selama masa penganiayaan ini, banyak orang Kristen menolak berkompromi sehingga mengalami penderitaan yang ekstrem, beberapa sampai mati martir. Namun, yang lain berkompromi atau bekerja sama dengan para penganiaya; beberapa bahkan menyerahkan salinan Alkitab kepada para penguasa, yang kemudian menghancurkannya.
Ketika penganiayaan berhenti, timbul sebuah kontroversi yang membawa kepada skisma yang berlarut-larut pada jemaat Afrika Utara. Dua pertanyaan terpenting berkaitan dengan natur Gereja dan keabsahan baptisan. Kaum Donatis, yang bukan merupakan satu kelompok monolitik, pada dasarnya melihat Gereja sebagai satu jemaat orang percaya yang kecil dan murni. Gereja terdiri dari orang-orang yang belum terinfeksi dengan dosa para pengkhianat. Banyak dari mereka percaya bahwa Gereja yang sejati ini secara efektif terbatas pada Afrika Utara saja. Mereka melihat baptisan hanya sah bila dilaksanakan oleh hamba Tuhan dalam Gereja yang sejati ini.
Augustinus terlibat dalam kontroversi Donatis sampai Donatisme dikecam pada Konsili di Kartago pada tahun 411. Augustinus menjawab pandangan Donatis bahwa mereka adalah satu-satunya Gereja yang sejati dengan mengemukakan doktrin Gereja universal yang terdiri dari dan akan terus terdiri dari “gandum dan lalang” sampai akhir zaman. Ajarannya menjadi pandangan yang diterima secara umum sejak saat itu, meski, tentu saja, dipahami secara berbeda oleh Katolik Roma dan Protestan. Menanggapi ide kaum Donatis bahwa keabsahan baptisan bergantung pada kelayakan imam atau uskup yang melaksanakan, Augustinus berpendapat bahwa keabsahan sakramen pada akhirnya bergantung pada fakta bahwa Kristuslah yang melaksanakannya. Maka, keabsahan sakramen tidak bergantung pada karakter dari instrumen manusia yang dipakai oleh Kristus. Andai demikian, kita tidak akan pernah tahu apakah kita telah menerima baptisan yang sah sebab kita tidak pernah tahu keadaan hati orang yang melaksanakannya. Para teolog Reformed pada dasarnya setuju dengan Augustinus dalam hal ini, meski mereka berbeda pendapat dengannya mengenai hubungan antara sakramen dan anugerah.
Dapat dikatakan bahwa kontribusi terpenting dari Augustinus bagi doktrin Kristen diberikan dalam kontroversi berikutnya yang ia ikuti. Tulisan-tulisan Augustinus yang pertama melawan Pelagius ditulis tidak lama setelah Konsili di Kartago. Di dalam tulisan-tulisan tersebut, Augustinus mengemukakan doktrin dosa, anugerah, predestinasi, dan kehendak bebas. Pandangan-pandangannya menetapkan batas-batas diskusi sampai pada dan selama zaman Reformasi. Namun, untuk memahami pandangan Augustinus, kita pertama-tama harus melihat apa yang diajarkan oleh Pelagius.
Menanggapi pandangan Manikhean bahwa manusia itu jahat dikarenakan bagian jasmani dari naturnya, Pelagius mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik karena diciptakan baik oleh Allah. Menurutnya, orang-orang Kristen yang mengajarkan bahwa manusia tercemar oleh dosa Adam sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang mirip dengan Manikheisme. Ia menolak ajaran ini dan mengatakan bahwa dosa Adam hanya berpengaruh pada Adam. Bila kita berdosa saat ini, itu bukan karena kerusakan yang diwariskan. Ketika kita berdosa, kita semata-mata meniru Adam seperti seorang anak meniru ayahnya. Jika kita melakukannya cukup sering, kita membentuk kebiasaan berdosa. Kita dapat mengatasi kebiasaan berdosa ini dengan memakai kehendak bebas kita untuk memilih yang baik daripada yang jahat. Dalam pandangan Pelagius, kita ada kemungkinan menjalani hidup yang sama sekali tidak berdosa jika kita selalu menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih yang baik daripada yang jahat.
Meski Pelagius tidak memiliki doktrin dosa asal, ia mengatakan bahwa anugerah diperlukan untuk memperoleh keselamatan. Namun, kita harus mencermati apa persis yang ia maksudkan dengan “anugerah”. Pelagius memakai kata tersebut dalam banyak cara. Pertama, ia berkata bahwa wahyu Allah di dalam Alkitab adalah sebuah karunia anugerah. Kedua, inkarnasi Yesus memberi kita sebuah teladan baru untuk ditiru. Ini adalah karunia anugerah. Ketiga, dan yang paling penting, keberadaan kita adalah sebuah karunia anugerah. Allah telah dengan penuh anugerah menciptakan kita dengan berbagai kemampuan, termasuk kehendak bebas. Artinya, kemampuan kita untuk memilih yang baik atau yang jahat adalah karunia dari anugerah Allah. Cara kita memilih atau menggunakan kehendak bebas sepenuhnya bergantung pada kita, tetapi kenyataan bahwa kita memiliki kemampuan untuk memilih adalah karena keputusan Allah yang penuh anugerah untuk mencipta kita. Inilah sebabnya Pelagius dapat berkata bahwa anugerah Allah diperlukan untuk memperoleh keselamatan. Allah dengan penuh anugerah mengaruniakan kita kemampuan untuk dengan bebas memilih untuk meneladani Kristus, dan jika kita melakukannya, perbuatan baik kita layak mendapatkan keselamatan kita.
Menanggapi ajaran Pelagius, Augustinus membedakan dengan tegas antara keadaan umat manusia sebelum dan sesudah kejatuhan ke dalam dosa. Dosa Adam menyebabkan kerusakan pada naturnya, dan kerusakan ini diteruskan kepada keturunannya. Sebelum kejatuhan, manusia memiliki kemampuan untuk menghendaki yang baik maupun yang jahat. Namun, karena dosa asal, kehendak manusia menjadi rusak dan tidak lagi memiliki kebebasan seperti sebelum kejatuhan. Kehendak manusia tidak lagi bebas menghendaki yang baik atau memilih Allah. Setelah kejatuhan, kehendak kita berada dalam perbudakan. Kehendak kita sekarang hanya memiliki kemampuan untuk berdosa. Kita tidak dapat melakukan apa pun untuk membebaskan diri kita dari perbudakan ini. Hanya Kristus yang dapat menyelamatkan kita. Di sinilah anugerah diperkenalkan dalam doktrin Augustinus.
Penting untuk diingat apa yang diajarkan Augustinus tentang anugerah karena para Reformator sepakat dengan bagian-bagian tertentu dan menolak bagian-bagian yang lain. Mereka setuju dengan pandangan dasar Augustinus melawan Pelagius. Mereka setuju dengan doktrin dosa asalnya dan sebagai akibatnya manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri (baca Pengakuan Iman Westminster 6). Mereka setuju bahwa manusia berdosa membutuhkan Allah untuk menyelamatkannya. Lantas, di manakah letak ketidaksetujuan mereka? Augustinus mengajarkan bahwa anugerah adalah karunia Allah, bukan sesuatu yang diusahakan manusia, tetapi Augustinus juga sesekali berbicara tentang anugerah dalam istilah yang dipengaruhi neo-Platonisme, yang mengimplikasikan semacam skala keberadaan yang naik kepada Allah. Namun, Reformed berbicara tentang anugerah hanya dalam pengertian anugerah Allah yang tidak layak kita terima.
Doktrin Augustinus tentang dosa dan anugerah memengaruhi doktrin predestinasi dan ketekunan orang percaya yang dikembangkannya selama tahapan kontroversi semi-Pelagius. Bagi Augustinus, predestinasi tidak bergantung pada usaha manusia yang telah Allah lihat sebelumnya. Predestinasi sepenuhnya didasarkan pada belas kasihan Allah yang berdaulat. Selain itu, menurut Augustinus, semua orang yang dipredestinasikan untuk menerima keselamatan kekal diberikan karunia untuk bertekun sampai akhir.
Para teolog Reformed mengikuti Augustinus dengan dekat dalam pemahaman doktrin predestinasi mereka, tetapi berbeda dalam satu hal penting. Perbedaan ini tidak selalu diamati oleh kaum Protestan ketika membaca Augustinus, tetapi ini penting. Para teolog Reformed sepenuhnya sepakat dengan Augustinus terkait ide bahwa semua yang dipredestinasikan diberi anugerah untuk bertekun sampai akhir. Mereka berbeda dengan Augustinus dalam hal apakah orang-orang percaya dapat memiliki kepastian dalam hidup ini bahwa mereka memiliki karunia untuk bertekun sampai akhir. Bagi Augustinus, semua yang dipredestinasikan untuk selamat diberi karunia untuk bertekun sampai akhir, dan Allah tahu persis siapa yang mendapat karunia tersebut. Namun, tidak ada individu orang percaya yang tahu persis bahwa ia memiliki karunia untuk bertekun sampai akhir sampai ia mencapai akhir hayatnya. Hanya setelah bertekun sampai akhir seseorang bisa tahu bahwa ia memiliki karunia tersebut.
Satu kontribusi penting lain dari Augustinus bagi Gereja adalah karyanya yang berjudul On the Trinity. Pendapat ini belum diterima oleh semua sejarawan pemikiran Kristen belakangan. Selama bertahun-tahun, teologi Tritunggal Augustinus dikarikaturkan dan dipahami bertentangan dengan teologi Tritunggal Yunani dari bapa-bapa gereja Kapadokia. Apa yang disebut Trinitarianisme “Barat” Augustinus dikatakan bertentangan dengan Trinitarianisme “Timur” yang bersifat lebih personal. Pembacaan terbaru yang lebih cermat atas On the Trinity telah menyingkapkan karikatur ini seperti apa adanya dan dengan jelas memperlihatkan bahwa Augustinus sesungguhnya mendukung doktrin Tritunggal menurut Pengakuan Iman Nicea. Tidak ada yang secara khusus baru tentang doktrin Tritunggal Augustinus selain kenyataan bahwa ia memperkenalkan beberapa analogi psikologis dalam usaha untuk mengilustrasikannya. Apakah analogi-analogi ini menolong masih menjadi perdebatan.
Kami akan lalai jika membuat artikel tentang topik ini jika kami tidak secara singkat menyebutkan kontribusi dari karya monumental Augustinus The City of God. Karya besar ini ditulis selama kurun waktu lebih dari satu dasawarsa untuk menanggapi serangan orang Visigot pada Roma. Banyak orang Roma menyalahkan kekristenan atas malapetaka ini. Di dalam The City of God, Augustinus menjawab mereka. Ini adalah salah satu karya agung dalam bidang Apologetika dan Teologi Kristen. Pada bagian pertama, yaitu buku 1-10, Augustinus membantah argumen-argumen orang pagan di Roma yang menentang kekristenan, dan dengan cemerlang juga menentang banyak doktrin pagan mereka. Pada bagian kedua, yaitu buku 11-22, Augustinus memberi pembelaan secara positif terhadap kekristenan. Saat ia melanjutkan karyanya, Augustinus secara efektif membahas hampir semua topik yang dapat dipikirkan. Karyanya ini panjang, tetapi nilainya sepadan dengan waktu yang dihabiskan untuk membacanya. Saya mendorong pembaca Tabletalk yang belum pernah membacanya agar mulai “ambil dan bacalah”.
Augustinus adalah seorang teolog Kristen yang setia. Bila dibaca dengan cermat, ia tetap merupakan sumber teologi yang berharga bagi orang Kristen masa kini.
Detail dari St. Augustine Reading Rhetoric and Philosophy at the School of Rome, 1464-65 oleh Gozzoli, Benozzo di Lese di Sandro (1420-97), Bridgeman Images


