Rasa Hormat kepada Allah

31 Agustus 2026

Rasa Hormat kepada Allah

31 Agustus 2026

Apa itu Sembilan Puluh Lima Dalil?

Pada tanggal 31 Oktober 1517, Martin Luther, yang saat itu berusia pertengahan tiga puluhan, berjalan menuju Castle Church di Wittenberg dan menempelkan Sembilan Puluh Lima Dalilnya di pintu gereja. Awalnya dimaksudkan sebagai gagasan untuk perdebatan publik, dalil-dalil tersebut ditulis dalam bahasa Latin—bahasa para akademisi, bukan bahasa rakyat jelata. Luther tidak menyangka bahwa dalil-dalil itu akan bergema ke seluruh Eropa dan menjadi pemicu revolusi spiritual.

Banyak dari mereka yang melihat kertas-kertas yang ditempel di pintu Castle Church itu—yang tampaknya berfungsi sebagai papan pengumuman umum—mungkin tidak bisa membaca bahasa Latin. Namun tak lama kemudian, dalil-dalil tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan sejak saat itu menyebar ke seluruh Eropa seperti api yang berkobar—bahkan, seperti sebuah “tindakan Allah.”

Apa itu Sembilan Puluh Lima Dalil? Dalil-dalil tersebut merupakan pernyataan-pernyataan yang ditujukan secara langsung kepada praktik-praktik korupsi tertentu dalam gereja pada masa Luther, banyak di antaranya berkaitan dengan masalah pengampunan dosa, api penyucian, dan kekuasaan paus. Dalil pertama di antaranya khususnya sangat mengejutkan:

Dengan mengatakan “Bertobatlah,” Tuhan dan Tuan kita Yesus Kristus menghendaki agar seluruh hidup orang percaya merupakan pertobatan. (Dominus et magister noster Iesus Christus dicendo “Poenitentiam agite etc.” omnem vitam fidelium poenitentiam esse voluit.)

Luther telah menyadari bahwa terjemahan Vulgata untuk kata “Bertobatlah” (poenitentiam agite) rentan terhadap penafsiran yang keliru sebagai “Lakukan penyesalan (atau hukuman).” Ia juga telah memahami sebuah prinsip yang kemudian akan dipaparkan dengan sangat jelas oleh John Calvin: penyesalan atau pertobatan bukanlah tindakan sesaat, melainkan perubahan total arah hidup—penolakan terhadap dosa yang dihasilkan oleh karya penuh anugerah dari Roh Kudus. Oleh karena itu, penyesalan tidak dapat menjadi suatu tindakan tunggal yang diselesaikan dalam sekejap, melainkan adalah sebuah gaya hidup yang terus berlangsung hingga kemuliaan.

Luther menjalani kehidupan yang penuh dan banyak petualangan, yang hanya dapat digambarkan dengan baik melalui sebuah biografi yang panjang. Ia adalah seorang yang luar biasa dengan energi berlimpah yang diberikan Allah. Gaya bicaranya lugas dan sederhana, serta tak jarang membumi. Ia adalah seorang pengajar teologi, pengkhotbah Injil, dan penulis beberapa buku terpenting pada masa Reformasi. Di antara karya-karya awalnya yang menonjol adalah On the Babylonian Captivity of the Church, yang mengungkap kegagalan-kegagalan gereja, sementara dalam On the Freedom of a Christian ia menjelaskan bagaimana dalam Yesus Kristus, orang percaya dibebaskan untuk mengasihi Allah dan melayani sesama. Demikianlah ia menulis dalam sebuah kalimat yang disusun dengan indah, yang menangkap paradoks kehidupan yang berpusat pada Injil: “Seorang Kristen adalah tuan yang paling merdeka di antara semua orang, dan tidak tunduk kepada siapa pun; seorang Kristen adalah hamba yang paling setia di antara semua orang, dan tunduk kepada semua orang.”

Melalui khotbahnya, tulisannya, dan terutama melalui pengaruhnya dalam menjelaskan keselamatan oleh anugerah melalui iman kepada Kristus, Luther dipakai oleh Allah untuk mentransformasi gereja Kristen. Para tokoh Reformasi terkemuka di Inggris dan Skotlandia dipengaruhi oleh tulisan-tulisannya, yang sering diselundupkan oleh para pelaut yang berdagang. Khususnya di Skotlandia, para martir St. Andrews, Patrick Hamilton dan George Wishart (John Knox pernah menjadi pengawalnya), adalah pengikut ajaran Luther. Demikian pula di Inggris, William Tyndale yang heroik meninggalkan warisan tidak hanya dalam terjemahan Alkitabnya ke dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam seluruh karya literatur yang menggemakan karya Reformator Jerman tersebut.

Namun, apa yang diajarkan oleh Luther? Penekanan utamanya dirangkum dengan tepat dalam prinsip-prinsip “sola” Reformasi yang terkenal: (1) sola Scriptura (hanya Alkitab): kita mengenal Allah hanya melalui Kitab Suci, bukan melalui tradisi gereja sebagaimana adanya; (2) sola gratia (hanya anugerah): kita menerima pengampunan hanya oleh anugerah Allah, bukan karena hasil usaha kita; (3) sola fide (hanya iman): kita menerima pembenaran hanya melalui iman, dan bukan melalui iman ditambah yang lain; (4) solus Christus (hanya Kristus): segala kekayaan Allah diberikan kepada kita hanya di dalam Kristus; (5) soli Deo gloria (hanya bagi kemuliaan Allah): tujuan dari seluruh kehidupan adalah hanya bagi kemuliaan Allah.

Prinsip-prinsip ini secara sederhana menggarisbawahi penekanan-penekanan yang ditemukan Luther dalam Kitab Suci. Namun dalam konteksnya, hal yang paling penting mengenai prinsip-prinsip tersebut bukan hanya apa yang mereka tekankan, melainkan juga apa yang mereka hindari. Baik Luther maupun para Reformator yang berotoritas lainnya tidak memandang rendah gereja. Namun, mereka memandang gereja hanya sebagai saksi dan ilustrasi yang kuat akan keselamatan oleh anugerah—bukan sebagai pemberi keselamatan tersebut. Dengan demikian, dalam arti tertentu, gereja tidak hanya gagal mengajarkan Injil dengan benar; gereja juga telah merebut peran Roh Kudus dalam keselamatan. Peneguhan kembali pelayanan Roh Kudus dalam penerapan penebusan inilah yang memberikan nuansa yang begitu nyata akan kedekatan anugerah Allah serta sukacita dan kelegaan atas pengampunan dan kehidupan baru di dalam Kristus. Kita perlu berpaling hanya kepada Kristus—bukan kepada gereja yang adalah perantara—untuk memperoleh anugerah dan keselamatan.

Di sini kita belum membahas para tokoh Reformator besar lainnya—Huldrych Zwingli dan Heinrich Bullinger, John Calvin dan John Knox, serta banyak lainnya. Namun, bahkan tinjauan singkat mengenai Luther dan pengaruhnya ini saja menunjukkan bahwa abad keenam belas merupakan periode yang monumental dalam sejarah gereja Kristen. Periode itu tentu tidak luput dari kekurangan, juga tidak luput dari kegagalan. Namun, orang Kristen pada masa itu berkobar dengan kuasa dan energi dari penemuan agung ini—bahwa beban dosa mereka telah diambil oleh Yesus Kristus dan mereka, akhirnya, dapat dibebaskan. Ini adalah hari-hari, sebagaimana dijelaskan Knox, ketika “Allah memberikan Roh Kudus-Nya kepada orang-orang sederhana dengan melimpah.”

Itulah yang masih kita butuhkan!

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Sinclair B. Ferguson

Sinclair B. Ferguson

Dr. Sinclair B. Ferguson adalah salah satu dewan pengajar Pelayanan Ligonier, vice-chairman Pelayanan Ligonier, dan Chancellor’s Professor of Systematic Theology di Reformed Theological Seminary. Dia adalah pengajar utama untuk beberapa seri pengajaran Ligonier, termasuk Union with Christ. Ia adalah penulis dari banyak buku, termasuk The Whole Christ, Maturity, dan Devoted to God's Church. Dr. Ferguson juga merupakan pembawa acara podcast Things Unseen.