
Bagaimana Saya Bisa Bertumbuh dalam Hikmat?
10 Juli 2026Apakah Pernikahan Bersifat Kekal?
Jarang ada pertanyaan yang menggelisahkan hati kita seperti pertanyaan ini: Apakah saya akan tetap menikah dengan pasangan saya di surga? Di dalam Alkitab kita membaca tentang permulaan pernikahan, bagaimana suami dan istri saling menjalin hubungan, dan bagaimana hasil dari penyatuan ini berkontribusi bagi kemuliaan Allah. Namun, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah pernikahan berlanjut sampai selamanya. Apakah saya tetap dalam pernikahan? Bisakah saya menikah di surga? Bagaimana jika saya menikah beberapa kali dalam hidup saya? Apakah saya akan lupa tentang pernikahan saya di bumi? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini, kita pertama-tama perlu memahami mengapa Allah meneguhkan pernikahan pada awalnya.
Sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah meneguhkan dua institusi ketika Ia menciptakan dunia. Pernikahan adalah yang kedua; yang pertama adalah Sabat. Setelah Allah menciptakan dunia dalam enam hari, Ia beristirahat pada hari ketujuh (Kej. 2:2-3). Dengan melakukan ini, Allah menyatakan bahwa kita seharusnya bekerja selama enam hari, tetapi pada hari ketujuh kita seharusnya beristirahat dan menyembah Dia (Kel. 20:8-11). Melampaui hal ini, Sabat mingguan merupakan bayang-bayang ciptaan baru—sebuah zaman ketika Allah akan mewujudkan keselamatan yang sempurna dan selamanya bagi umat-Nya (Yes. 66:23). Perjanjian Baru menyatakan bahwa Sabat menunjukkan kepada kita karya Kristus saat Ia membawa kita kepada peristirahatan kekal ini, baik sekarang maupun pada zaman yang akan datang (Ibr. 4:9-11). Dengan kata lain, Kristus telah menuntun kita kepada perhentian Sabat rohani, tetapi kita masih menantikan penggenapannya secara penuh. Karena itu, kita terus memelihara Sabat pada hari pertama tiap minggu saat kita menantikan peristirahatan kekal yang ditunjuknya (Kis. 20:7; 1Kor. 16:1-2).
Sangat mirip dengan itu, Allah meneguhkan pernikahan dalam ciptaan untuk menunjukkan pada kita sebuah relasi perjanjian dengan-Nya, bahkan sebelum Kejatuhan. Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja (Kej. 2:18), maka Allah menciptakan seorang istri untuk Adam. Namun, relasi pernikahan tersebut bukanlah tujuan akhir itu sendiri; pernikahan dimaksudkan untuk menjadi representasi nyata dari pernikahan antara Allah dan umat-Nya. Di sepanjang Perjanjian Lama, Allah menggambarkan diri-Nya menikah dengan umat-Nya yang telah menyeleweng dari-Nya (Yes. 62:5; Yer. 2:2; 3:6-8; Yeh. 16:8-21; Hos. 2:2). Begitu pula, Yesus sering kali menggambarkan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki bagi para pengikut-Nya (Mat. 9:15; 22:2; 25:1-13; Yoh. 3:29). Mengikuti teladan Yesus, Paulus mengindikasikan bahwa pernikahan merupakan sebuah rahasia besar yang menunjuk kepada Kristus dan Gereja-Nya. Seperti Gereja terhadap Kristus, istri menghormati dan tunduk kepada suaminya; seperti Kristus terhadap Gereja, suami mencintai dan berkorban bagi istrinya (Ef. 5:22-33; 1Kor. 11:2-3). Dalam kitab Wahyu, Yohanes bahkan menggambarkan perayaan surgawi yang final atas penyatuan kembali Kristus dan Gereja-Nya sebagai Perjamuan Kawin (Why. 19:7-9; 21:2; 22:16-17).
Sabat dan pernikahan adalah ketetapan-ketetapan dalam penciptaan yang sekarang kita nikmati sebagai berkat yang luar biasa dari Allah. Namun, Sabat dan pernikahan masing-masing merujuk pada realitas surgawi yang kita dambakan tergenapi pada zaman yang akan datang. Alasan kita orang Kristen terus berkumpul untuk beribadah pada hari Sabat Kristen adalah karena kita masih menantikan penyempurnaan peristirahatan Sabat kekal kita di dalam Kristus. Sangat serupa dengan itu, alasan kita terus kawin dan dikawinkan di dunia ini adalah karena kita menantikan penyempurnaan pernikahan kekal kita dengan sang Anak Domba. Namun ketika realita tersebut dinyatakan sepenuhnya, bayang-bayangnya akan lenyap.
Itulah alasan Yesus memberi pernyataan yang sangat penting tentang pernikahan ketika Ia berada di Yerusalem sebelum Ia dikhianati. Orang-orang Saduki, kelompok elite yang menyangkali kehidupan setelah kematian, mengajukan pertanyaan tentang pernikahan kepada Yesus (Mat. 22:23-33; Mrk. 12:18-27; Luk. 20:27-38). Dalam usaha menunjukkan betapa tidak masuk akalnya kebangkitan itu, mereka bertanya kepada Yesus apa yang akan terjadi jika seorang perempuan telah menjanda sebanyak enam kali. Apakah orang itu akan memiliki beberapa suami sekaligus di surga? Dalam menjawabnya, Yesus tidak hanya menunjukkan kepada mereka realita kebangkitan, tetapi juga menjelaskan bahwa pernikahan di bumi tidaklah kekal: “Sebab, bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan tetapi menjadi seperti malaikat di surga” (Mrk. 12:25). Menurut Yesus, orang yang menikah di bumi tidak akan tetap menikah dengan pasangannya di surga. Sebaliknya, satu-satunya perhatian mereka akan sama seperti para malaikat, yaitu menyembah dan memuliakan Allah selama-lamanya. Dengan kata lain, satu-satunya pernikahan yang akan kita pedulikan di surga adalah pernikahan rohani dengan Tuhan Yesus Kristus.
Jadi, apakah pernikahan itu kekal? Hanya pernikahan Kristus dan Gereja-Nya yang akan bertahan selama-lamanya. Jika kita mengira pernikahan di bumi akan berlanjut selamanya, itu berarti dari awal kita sama sekali tidak mengerti apa arti pernikahan. Pasangan kita di bumi ini adalah karunia yang berharga dari Allah, yang harus kita hargai dan perhatikan sepenuh hati. Namun, meski saya pikir kita akan tetap mengingat pernikahan kita di bumi ketika di surga nanti, kita tidak akan tetap menikah di sana. Realita lebih baik daripada bayang-bayang. Ketika kita berkumpul di hadapan takhta, kita akan berdiri di samping pasangan kita di bumi bukan dalam ikatan pernikahan, melainkan sebagai Gereja yang menikah dengan Kristus. Dalam kemuliaan nanti, pernikahan di dunia ini akan tampak redup di hadapan terang pernikahan dengan Anak Domba yang penuh kemuliaan.


