Resolusi-Resolusi Jonathan Edwards
11 Februari 2026
Mengapa Allah-Manusia?
16 Februari 2026
Resolusi-Resolusi Jonathan Edwards
11 Februari 2026
Mengapa Allah-Manusia?
16 Februari 2026

Kasih Allah yang Tak Terpisahkan

Kasih Allah yang konstan dan setia dinyatakan melalui kemampuannya bertahan dalam segala hambatan dan pencobaan. Puncak dari ungkapan kasih yang setia ini tampak dari ajaran Paulus di dalam Roma 8:

Sebab itu, apa yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah mati? Bahkan yang dibangkitkan, duduk di sebelah kanan Allah, dan memohon untuk kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti tertulis,

“Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari,

kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan.”

Tetapi, dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab, aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun suatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 8:31-39)

Di dalam perikop tersebut, sang rasul mengungkapkan sebuah prinsip yang menyentuh hati para reformator abad ke-16: Deus pro nobis, yang secara sederhana berarti “Allah untuk kita”. Sumber penghiburan Kristiani bukanlah “kita untuk Allah” atau “kita ada di pihak-Nya”, tapi sebaliknya, yaitu “Allah untuk kita dan ada di pihak kita”. Mengetahui bahwa Allah untuk kita berarti mengetahui bahwa tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat menang melawan kita. Pertanyaan Paulus jelas bersifat retorik: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Jawabannya jelas: tidak seorang pun. Tentu saja, bukan berarti orang Kristen tidak memiliki musuh. Sebaliknya, kita akan dikelilingi oleh banyak musuh. Banyak orang akan melawan kita. Namun, musuh yang banyak ini tidak mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kita ketika Allah mengikatkan diri-Nya dengan kita. Kita seperti Elisa di Dotan, yang dikelilingi oleh malaikat-malaikat tak kasat mata yang berperang untuk kita sebagai bala tentara surga.

Sumber penghiburan Kristiani… “Allah untuk kita dan ada di pihak kita”.

Secara khusus, apa yang tidak pernah dapat dilakukan oleh musuh-musuh kita adalah memisahkan kita dari kasih Kristus. “Pemisahan” berarti semacam perpecahan. Kita sering melihatnya sebagai langkah percobaan dalam pernikahan yang diambang perceraian. Hidup berpisah mendahului perceraian, dan acap kali merupakan tanda akan terjadi perceraian. Namun, dalam pernikahan antara Kristus dan mempelai-Nya, tidak ada perceraian atau hidup berpisah. “Kasih Kristus” yang dibicarakan Paulus di sini bukanlah kasih kita kepada-Nya, melainkan kasih-Nya kepada kita.

Paulus merujuk kepada Tuhan yang telah bangkit dan naik ke surga, yang duduk di sebelah kanan Allah dan berfungsi sebagai pendoa syafaat kita, Imam Besar kita. Kita tidak dapat dipisahkan dari kasih dan kepedulian-Nya. Paulus mendaftarkan hal-hal spesifik yang mengancam keamanan kita di dalam kasih ini. Ia berbicara tentang penindasan, kesengsaraan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, dan pedang.

Daftar ini belum mencakup semuanya, tetapi mengarahkan perhatian kita kepada beberapa hal yang mungkin menyebabkan kita mengaburkan atau meragukan kasih Kristus. Ketika kita menderita penganiayaan atau konsekuensi karena kelaparan, kita cenderung takut kalau-kalau Kristus telah meninggalkan kita. Namun, Paulus melihat hal-hal berbahaya ini sebagai bagian penderitaan yang menyertai kemuridan kita kepada Kristus. Ia mengutip Mazmur 44: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan” (ay. 23).

Sekalipun kita dapat menjadi martir, penderitaan seperti ini tidak dapat menyingkirkan kasih Kristus bagi kita. Ada kemenangan dalam semua situasi ini karena kasih Kristus.

Paulus menyatakan bahwa dalam semua hal ini kita “lebih daripada orang-orang yang menang”. Frasa “lebih dari orang-orang yang menang” ini diterjemahkan dari satu kata dalam bahasa Yunani, yang ditransliterasikan “hipernikon”. Akar katanya merujuk kepada konsep penaklukkan (seperti yang tersirat dari rudal atau sepatu atlet Nike). Kata depan hiper meningkatkan akar katanya. Inti dari perkataan Paulus adalah bahwa karena kasih Kristus, kita bukan hanya penakluk di hadapan segala penderitaan, tetapi kita telah meraih level penaklukan tertinggi, yaitu puncak kemenangan di dalam Dia.

Kata dalam bahasa Latin yang berpadanan dengan kata hipernikon adalah istilah supervincimus. Kata ini mengindikasikan bahwa di dalam Kristus, kita bukan sekadar pemenang, tetapi pemenang super.

Penting untuk dicermati bahwa puncak kemenangan ini diperoleh melalui Dia. Kemenangan ini tidak diperoleh tanpa Dia atau terpisah dari-Nya. “Dia” yang dibicarakan Paulus di sini didefinisikan dan diidentifikasikan sebagai “Dia yang mengasihi kita”.

Kemudian, Paulus memberi sebuah daftar lain berisi hal-hal yang ia percaya tidak berkuasa memisahkan kita dari kasih Kristus. Daftar ini mencakup kematian, kehidupan, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, yang ada sekarang, yang akan datang, yang di atas, yang di bawah, dan makhluk ciptaan lain apa pun.

Sekali lagi, daftar yang disajikan Paulus tidak lengkap, namun bersifat ilustratif. Ia memakai hiperbola untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Bahkan para malaikat tidak berkuasa untuk merenggut kita dari kasih Allah di dalam Kristus. Tidak ada bahaya yang jelas dan sedang terjadi atau ancaman yang akan datang yang mempunyai kuasa untuk memisahkan kita dari Dia. Kuasa alam, pemerintahan, neraka—semuanya tidak memiliki kemampuan untuk menceraikan kita dari Kristus. Di hadapan kasih Allah dalam Kristus, kuasa-kuasa makhluk ciptaan ini disingkapkan sebagai tidak berdaya.

Penting untuk kita lihat bahwa kasih yang tak terpisahkan ini yang dibicarakan Paulus di dalam Roma 8 secara khusus diarahkan kepada orang-orang pilihan Allah. Orang-orang pilihanlah yang menikmati jaminan dari kasih yang tak terpisahkan ini. Diskusi tentang kasih Allah yang tak terpisahkan di dalam Kristus ini terjadi dalam konteks pemilihan. Ketika Paulus menyatakan bahwa Allah untuk kita, kata “kita” didefinisikan sebagai orang-orang pilihan. Paulus bertanya secara retorik, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang membenarkan mereka?” (Rm. 8:33).

“Kasih Kristus” yang dibicarakan Paulus di sini bukanlah kasih kita kepada-Nya, melainkan kasih-Nya kepada kita.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.