Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah
09 Februari 2026
Kasih Allah yang Tak Terpisahkan
13 Februari 2026
Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah
09 Februari 2026
Kasih Allah yang Tak Terpisahkan
13 Februari 2026

Resolusi-Resolusi Jonathan Edwards

Dia adalah seorang pemuda yang tidak yakin akan masa depannya. Dia memiliki banyak bakat dan tidak sedikit pilihan di hadapannya. Ayah dan kakeknya adalah pendeta, begitu juga para paman dan orang-orang lain dalam silsilah keluarganya. Dia memiliki pendidikan kelas satu, salah satu yang terbaik pada masa itu, jadi dia dipersiapkan dengan baik untuk masa depan di ranah akademik, jika dia memilih demikian. Dia bahkan memiliki ketertarikan pada sains dan  bisa saja menuju ke arah itu. Namun, untuk sementara ini dia adalah seorang pastor, seorang pastor muda pula. Pada usia delapan belas tahun menuju sembilan belas tahun, ia menemukan dirinya jauh dari tanah kelahirannya di Connecticut River Valley di tengah pergolakan perpecahan gereja di sebuah gereja Presbiterian di kota New York. Dia diundang untuk menggembalakan faksi minoritas di suatu tempat di tepi dermaga pelabuhan kota. Kota New York pada tahun 1722, tahun terjadinya peristiwa itu, tidak sesibuk sekarang. Jumlah penduduknya hanya berkisar sedikit di bawah sepuluh ribu jiwa. Namun, bagi seorang pemuda dari kota kecil New England yang indah, kota ini tidak seperti tempat-tempat lain yang pernah dilihatnya.

Di tengah semua ketidakpastian dan perubahan ini, pemuda ini, Jonathan Edwards, membutuhkan tempat untuk berpijak dan kompas untuk menentukan arah. Jadi dia mulai menulis. Dia membuat buku harian dan menuliskan beberapa panduan, yang kemudian dia sebut sebagai “Resolusi-Resolusi”nya. Resolusi-resolusi ini akan menyediakan tempat baginya untuk berpijak dan kompas untuk menuntunnya saat dia berjalan.

Sejarawan gereja Sean Lucas pernah menunjukkan bahwa ada suatu masa ketika Jonathan Edwards bukanlah Jonathan Edwards. Maksudnya, ada suatu masa sebelum Edwards menjadi seorang teolog dan pendeta besar seperti yang dikenal sekarang. Pada tahun 1722 dan 1723, ketika dia berusia sembilan belas tahun, ia hanyalah seorang Jonathan Edwards. The Great Awakening (Kebangunan Rohani Besar) dan keterlibatannya di dalamnya, publikasi Religious Affections, Life of Brainerd, dan Freedom of the Will—belum lagi banyak buku, khotbah, dan tulisan lain yang cukup untuk memenuhi banyak rak—pelayanan misi di Stockbridge, dan menjadi presiden Princeton University (yang saat itu dikenal dengan nama College of New Jersey), semuanya masih jauh di masa depan. Jonathan Edwards, yang menjadi subjek dari banyak buku, disertasi, konferensi, dan bahkan situs web, belum dikenal. Pada usia sembilan belas tahun, Jonathan Edwards adalah potensial Jonathan Edwards.

Aristoteles berbicara tentang perbedaan antara aktualitas dan potensialitas, perbedaan antara apa yang ada dan apa yang bisa ada. Aristoteles lebih lanjut berbicara tentang keberadaan aktual sebagai keberadaan yang nyata, sementara keberadaan potensial sebagai sesuatu yang kurang. Pada titik ini, para pakar pengembangan diri melangkah masuk, menawarkan Anda tujuh rahasia untuk menjadi terbaik yang Anda bisa, jika Anda menghadiri seminar tertentu dan membeli buku kerjanya dan mendaftar untuk tujuh seminar lainnya. Namun, Edwards sangat berbeda dari sosok pakar pengembangan diri. Resolusi-resolusinya sama berbedanya dengan buku-buku kerja yang dibawa pulang setelah seminar. Resolusi-resolusi Edwards melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh semua buku pengembangan diri dan buku panduan. Resolusi-resolusi tersebut menghasilkan apa yang tidak dapat dihasilkan oleh buku-buku lain tersebut karena, dari awal hingga akhir, resolusi-resolusi tersebut sama sekali berbeda dengan buku-buku yang memenuhi rak-rak buku pengembangan diri dan buku panduan di toko-toko buku.

Pertama, perhatikan titik awal dari “Resolusi-Resolusi” tersebut. Edwards mulai menulis resolusinya saat pergantian musim gugur ke musim dingin pada tahun 1722. Edwards memberi tanggal pada resolusi nomor tiga puluh lima pada tanggal 18 Desember 1722, sedangkan resolusi terakhir, nomor tujuh puluh, pada tanggal 17 Agustus 1723. Kemungkinan dia memulai menulis resolusinya tak lama sebelum tanggal pada nomor tiga puluh lima, karena dia baru saja tiba di kota New York pada bulan Agustus 1722 saat berusia delapan belas tahun. Resolusi-resolusi ini membantunya menghadapi saat-saat yang menegangkan dalam hidupnya ini, momen ketidakpastian dan perubahan yang muncul dari lingkungan baru. Namun, sebelum Edwards memulai resolusi nomor satu, ia menyampaikan sebuah kata pengantar:

Dengan menyadari bahwa saya tidak dapat melakukan apa pun tanpa pertolongan Allah, saya dengan rendah hati memohon kepada-Nya untuk memampukan saya menjalankan resolusi-resolusi ini dengan anugerah-Nya, sejauh semua ini sesuai dengan kehendak-Nya demi Kristus.

Kata pengantar ini mendasari tujuh puluh resolusi selanjutnya, yang sangat penting untuk diingat. Memisahkan resolusi-resolusi tersebut dengan dasar dari kata pengantar tersebut akan membuat kita melihat resolusi-resolusi tersebut sebagai semacam kegigihan pribadi dan tekad untuk mengembangkan diri. Itu bukan hanya sebuah pembacaan yang keliru, tetapi juga tragis. Menjadi sukses dengan usaha sendiri adalah idealisme modern, bukan ajaran Alkitab. Namun, berdasarkan kata pengantar tersebut, kita sungguh melihat bahwa Edwards menantang dirinya kepada sebuah kehidupan dengan standar yang tinggi dan harapan yang besar. Dia bertekad untuk menjalani kehidupan yang berarti, bukan hanya kehidupan yang hanya menghabiskan waktu. Dalam resolusi nomor enam, Edwards menyerukan, “Bertekad, untuk hidup dengan sekuat tenaga, selagi saya masih hidup.”

Beberapa kategori dan tema tertentu mulai muncul dari daftar tujuh puluh resolusi ini tentang niat Edwards untuk hidup sepenuh-penuhnya. Sebagian menyangkut hubungan dan interaksi interpersonal. Sebagian lagi menyangkut topik umum dalam daftar resolusi: makan dan minum. Sebagian lagi berkaitan dengan kehidupan spiritual dan ibadahnya. Sebagian lagi berkaitan dengan keinginannya untuk menggunakan waktunya di bumi dengan bijak. Jenis-jenis resolusi ini muncul dalam hampir semua daftar resolusi. Memang, terlepas dari semua perbedaan antara abad ke-21 dan abad ke-18, manusia pada dasarnya tetaplah sama. Namun, daftar Edwards berisi beberapa tema yang unik.

Salah satu tema unik ini adalah tentang penderitaan dan kesengsaraan. Mendekati akhir dari daftar tersebut, Edwards menulis, “Bertekad, setelah mengalami kesengsaraan, untuk mencari tahu hal apa yang membuat saya lebih baik untuk itu, hal baik apa yang telah saya dapatkan dari hal tersebut, dan apa yang mungkin bisa saya dapatkan dari hal tersebut.” Visi Edwards yang cukup besar tentang Allah melihat bahwa hal baik dan buruk dalam hidupnya berasal dari tangan Allah, sesuatu yang sulit dimengerti bahkan bagi orang Kristen yang paling dewasa sekalipun, apalagi bagi seorang berusia sembilan belas tahun. Dengan keyakinan bahwa bahkan sisi muram dari providensia, sebagaimana kaum puritan terkadang menyebut penderitaan dan kesengsaraan, dimaksudkan untuk kebaikannya, Edwards memantapkan dirinya pada kehendak dan cara-cara Allah.

Tema unik lainnya menyangkut kesadarannya yang mendalam tentang kefanaan dan kerapuhan manusia. Beberapa orang melihat kaum puritan sebagai orang yang terobsesi dengan kematian. Huruf “Y” dalam New England Primer diikuti dengan kalimat berikut: “Sementara Youth (kaum muda) bersorak, kematian mungkin sudah dekat.” Namun, kita perlu melihat sedikit latar belakangnya untuk menafsirkan kaum puritan dan Edwards dengan benar. Kehidupan pada abad ke-18 itu rentan dan rapuh. Pada kenyataannya, kehidupan masih tetap rentan dan rapuh saat ini; kita hanya menyamarkannya dengan kemajuan medis dan teknologi kita. Kita bisa dengan mudahnya mati rasa terhadap kerentanan kita. Edwards tahu betul akan hal itu. Oleh sebab itu, dalam beberapa resolusinya, Edwards melihat melampaui kehidupan saat ini ke kehidupan yang akan datang. Dia serius memikirkan urusan penilaian hidupnya ketika hidupnya berakhir, karena dia tidak begitu naif untuk berpikir bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Berbagai resolusi yang berbicara tentang kematiannya dan kehidupan setelah kematian mengingatkan kita pada abad ke-21 tentang singkatnya kehidupan, sesuatu yang mungkin akan segera kita lupakan atau abaikan.

Kesadaran akan kefanaan ini memberi Edwards perspektif yang unik tentang kehidupan. Dia memandang jauh ke depan, bukan pandangan yang pendek. Resolusi nomor lima puluh dua mencatat nasihat bijak bagi dirinya sendiri: “Saya sering mendengar orang di usia lanjut mengatakan bagaimana mereka akan hidup andaikan mereka menjalani hidup mereka kembali. Bertekad, bahwa saya akan hidup seperti yang saya pikir akan saya harap telah lakukan, seandainya saya bisa hidup sampai tua.”

Urgensi, atau, seperti yang dikatakan beberapa orang, tirani masa kini cenderung membuat kita tidak bisa melihat jauh ke depan. Kita terjebak dalam siklus yang tampaknya tidak ada gunanya. Kita berkata pada diri kita sendiri jika setidaknya kita bisa melewati hari ini, besok akan berbeda. Kemudian hari esok datang dan tidak ada yang berubah. Ada jalan keluar dari siklus yang tidak ada gunanya ini, sebuah jalan kebebasan. Pandangan yang jauh, sebenarnya pandangan yang sangat jauh, yaitu perspektif kekal dari kehidupan kita menyediakan jalan demikian itu. Edwards menulis di nomor lima puluh lima, “Bertekad, untuk berusaha sekuat tenaga untuk bertindak sejauh yang dapat saya pikirkan seharusnya saya lakukan jika saya telah melihat kebahagiaan surga dan siksaan neraka.”

Edwards tidak hanya memulai resolusinya dengan cara yang berbeda dari para pakar pengembangan diri, dia juga mengakhirinya dengan cara yang berbeda. Tujuannya dalam membuat dan menjalankan resolusi bukanlah pemenuhan diri sendiri, melainkan kemuliaan Allah. Ironisnya, dalam mencari kepuasan diri sendiri, seseorang sebenarnya kehilangan nyawanya menurut perkataan Kristus (Mat. 10:39). Namun, dengan mencari kemuliaan Allah, seseorang akan menemukan kehidupan dalam kelimpahan. Edwards mengungkapkan hal ini persis dalam resolusi pertamanya, di bagian akhir kata pengantar: “Bertekad, bahwa saya akan melakukan apa saja yang saya pikir paling berdampak bagi kemuliaan Allah dan untuk kebaikan, keuntungan, dan kesenangan saya sendiri, dalam keseluruhan hidup saya.” Katekismus Singkat Westminster memang benar. Ada hubungan yang tak terpisahkan antara memuliakan Allah dan menikmati Dia. Edwards hanya memperluasnya. Ada hubungan yang tak terpisahkan antara memuliakan Allah dan menikmati hidup. Kehidupan yang dihidupi bagi kemuliaan Allah adalah kehidupan yang menyenangkan, kehidupan yang baik. George Marsden, dalam biografi otoritatifnya tentang Edwards, mengungkapkan, “Jonathan mengarahkan ‘Resolusi-Resolusi’nya untuk menutup setiap celah yang dapat mengalihkan perhatiannya dari apa yang ia lihat sebagai satu-satunya kegiatan yang layak, yaitu memuliakan Allah” (Jonathan Edwards: A Life, New Haven: Yale University Press, hal. 50, 2003). Segala sesuatu dalam hidup Edwards, semua aktivitas dan usahanya, harus kembali kepada tujuan utama ini.

Poin ini saja sudah membuat resolusi Edwards terlihat berbeda. Rekan sesama kolonial, Benjamin Franklin, juga menulis resolusi. Dalam perjalanan panjang pulang ke Philadelphia setelah kunjungan pertamanya ke Prancis pada tahun 1726, dia memutuskan untuk “membuat beberapa resolusi, dan menyusun beberapa rencana tindakan.” Franklin terus membuat dan membuat ulang resolusi-resolusi tersebut sepanjang hidupnya. Dalam set pertama, resolusi ketiganya berkaitan dengan tujuannya: “Untuk mencurahkan diri saya dengan tekun pada bisnis apa pun yang saya lakukan, dan tidak mengalihkan pikiran saya dari bisnis saya dengan proyek-proyek bodoh untuk menjadi kaya mendadak; karena usaha dan kesabaran adalah cara yang paling tepat untuk mendapat kelimpahan.” Fokus dan kesabarannya memang patut dipuji, tetapi pada akhirnya tujuan Franklin adalah untuk mencapai “kelimpahan”, menjadi makmur. Edwards mengarahkan pandangannya jauh lebih tinggi.

Cara Edwards memulai dan mengakhiri resolusinya membedakannya dari lautan nasihat pengembangan diri dan panduan-panduan. Edwards memiliki dasar dan tujuan yang unik dan berbeda. Di tengah-tengahnya, dia juga memiliki pendapat yang unik. Salah satunya adalah tentang membaca Kitab Suci, yang oleh banyak orang di dunia modern dan postmodern saat ini dianggap sebagai buku kuno yang tidak lagi kredibel atau bermakna. Melawan anggapan seperti itu, Edwards mengabdikan dirinya pada Kitab Suci, seperti yang terlihat dalam resolusi nomor dua puluh delapan: “Bertekad untuk mempelajari Kitab Suci dengan tekun, terus-menerus, dan sering, sehingga saya dapat menemukan, dan dengan jelas melihat diri saya bertumbuh dalam pengetahuan tentangnya.” 

Edwards juga memiliki pendapat tentang doa dalam resolusi nomor dua puluh sembilan: “Bertekad untuk tidak pernah memperhitungkan sebuah doa sebagai doa, atau mengangapnya sebagai doa atau sebagai permohonan doa, jika dipanjatkan tanpa saya berharap bahwa Allah akan menjawabnya; atau sebagai pengakuan, yang saya tidak dapat berharap akan diterima oleh Allah sebagai pengakuan.” Mungkin karena Edwards menggunakan kata-kata dengan sangat baik, ia memiliki rasa hormat yang tinggi dan sehat terhadap kata-kata. Edwards tidak tertarik untuk sekadar mengucapkan kata-kata, ia ingin kata-katanya diperhitungkan ketika dia berdoa, kata-kata yang tidak sembarangan diucapkan, melainkan kata-kata yang diucapkan dengan iman yang sungguh-sungguh. Lebih jauh lagi, kita tidak boleh melewatkan pernyataan Edwards tentang doa pengakuan. 

“Resolusi-Resolusi” tersebut mengungkapkan keinginan Edwards yang sungguh-sungguh untuk setia dalam disiplin rohani membaca Alkitab dan berdoa. Bertahun-tahun setelah ia meninggalkan New York, ketika menulis Religious Affections, Edwards teringat akan seorang Yahudi yang menjadi tetangganya. Edwards dengan jelas mengingat orang ini, “yang tampak bagi saya adalah orang yang paling saleh yang pernah saya lihat dalam hidup saya; sebagian besar waktunya dihabiskan untuk melakukan tindakan-tindakan devosi.” Edwards menggunakan tindakan devosi pria ini untuk menantang orang Kristen untuk melakukan devosi yang lebih dalam di buku Religious Affections (1746). Pada tahun 1722, ketika menulis “Resolusi-Resolusi” itu, pria ini telah menantang devosi Edwards sendiri.

Selain membaca Kitab Suci dan berdoa, Edwards juga memiliki cukup banyak hal untuk dikatakan pada dirinya sendiri tentang komunitas, meskipun dia tidak menggunakan kata tersebut. Banyak, jika bukan sebagian besar, dari resolusinya berkaitan dengan hubungan interpersonal. Sebagian besar dari hal tersebut berkaitan dengan ucapannya. “Bertekad, dalam percakapan tidak akan pernah mengatakan apa pun kecuali kebenaran yang murni dan sederhana,” demikianlah tekadnya dalam resolusi nomor tiga puluh empat. Ia tidak hanya ingin mengatakan kebenaran, ia juga ingin berbicara dengan baik. Dalam resolusi nomor tiga puluh satu, ia menulis, “Bertekad untuk tidak pernah mengatakan apa pun melawan siapa pun, kecuali jika hal itu benar-benar sesuai dengan derajat tertinggi kehormatan Kristen dan kasih kepada umat manusia”; kemudian ia menambahkan, “sesuai dengan kerendahan hati yang paling rendah dan kesadaran akan kesalahan serta kegagalan saya.” Edwards menyadari betapa ia bisa bersikap kritis terhadap orang lain atas kesalahan mencolok yang sama yang ia miliki dalam hidupnya sendiri. Kesadaran ini sangat membantu kita dalam berinteraksi dengan pasangan, anak- anak, dan anggota keluarga lainnya, dengan saudara-saudari kita di dalam Kristus, dengan sesama karyawan dan atasan, dan dengan tetangga kita.

Edwards juga menghindari pandangan yang naif mengenai hubungan interpersonal. Resolusi nomor tiga puluh tiga memperjelas hal ini. Di sini ia menulis, “Bertekad, selalu melakukan apa yang saya bisa untuk menciptakan, memelihara, dan melestarikan perdamaian, jika hal itu dapat dilakukan tanpa merugikan hal-hal lain secara berlebihan.” Ingat, Edwards sedang menggembalakan sebuah kelompok kecil dari sebuah gereja yang terpecah ketika ia menuliskan ini. Dia menyadari kesulitan dalam menavigasi interaksi interpersonal.

Resolusi terakhir dari resolusi-resolusi bernomor ini, nomor tujuh puluh, menyatakan, “Biarlah ada kebajikan dalam semua yang saya ucapkan.” Resolusi itu saja sudah cukup untuk dikerjakan oleh siapa pun selama hidupnya. Edwards memiliki enam puluh sembilan resolusi lainnya yang sama menantangnya.

Membaca beberapa resolusi ini memberikan kesan bahwa Edwards adalah seorang manusia super, tetapi resolusi nomor tiga puluh enam menunjukkan sisi kemanusiaannya. Pada bagian pertama dari resolusi ini, Edwards mencatat, “Bertekad untuk tidak pernah mengatakan hal buruk tentang siapa pun,” sebelum menambahkan, “kecuali jika ada alasan baik untuk itu.” Sungguh menyegarkan melihat Edwards begitu manusiawi. Kita juga melihat hal ini dalam resolusi nomor lima puluh enam, di mana dia dengan jujur menangani dosanya, “kerusakan”nya. Di sini dia menulis, “Bertekad, tidak akan pernah menyerah, atau sedikit pun mengendurkan perjuangan saya melawan kerusakan saya, betapapun tidak berhasilnya saya.”

Sungguh menguatkan ketika kita melihat para pahlawan kita sebagai manusia. Sesungguhnya, begitulah seharusnya kita melihat mereka. Dosis kerendahan hati yang kuat dan kesadaran terus-menerus akan kemanusiaan, kelemahan, dan kekurangan kita sendiri, membantu kita menempatkan pembacaan Resolusi-Resolusi Edwards, juga ketika kita membuat dan menjalani resolusi kita sendiri, dalam perspektif yang sehat. Kita harus ingat bahwa ada suatu masa ketika Jonathan Edwards bukanlah Jonathan Edwards. Lebih penting lagi, kita harus ingat bahwa Jonathan Edwards tidak menjadikan Jonathan Edwards—sehebat apa pun dia dalam membuat dan menjalankan resolusi. Allah menjadikan Jonathan Edwards sebagai Jonathan Edwards melalui karya Yesus Kristus, Allah-manusia. Kristus membuat resolusi tertinggi, dan Dia melakukannya dengan sempurna dan sepenuhnya. Kristus bertekad untuk menebus umat-Nya yang telah jatuh dan berdosa agar komunitas yang baru ini dapat diperdamaikan dengan Bapa dan mengejar kehidupan yang kudus.

Bertahun-tahun kemudian, selama masa The Great Awakening, seorang remaja bernama Deborah Hatheway menulis surat kepada Edwards untuk meminta nasihat tentang bagaimana menjalani kehidupan Kristen. Dia tinggal di Suffield, Connecticut, yang pada saat itu merupakan sebuah kota tanpa gembala. Karena Suffield tidak jauh dari Northampton, Edwards berkhotbah di sana dari waktu ke waktu. Edwards membalas dengan surat yang terdiri dari sembilan belas poin, dan surat ini mungkin ditulis pada waktu tersibuk dalam hidupnya. Surat ini pada dasarnya adalah serangkaian resolusi untuknya dan teman-temannya, dan Edwards mendorong Hatheway untuk berbagi surat tersebut kepada teman-temannya. Dia berbicara tentang disiplin rohani, tentang memiliki kesadaran akan dosa, dan memiliki kesadaran yang bahkan lebih besar akan anugerah. Namun, mungkin nasihat terbaiknya muncul di dekat bagian akhir, ketika ia menulis, “Dalam semua perjalananmu, berjalanlah bersama Allah dan ikutilah Kristus sebagai seorang anak yang kecil, miskin, dan tak berdaya, memegang tangan Kristus dan mengarahkan pandangan pada tanda luka di tangan dan lambung-Nya.”

Bertekad, berkat pengingat dari Jonathan Edwards ini, untuk mengarahkan pandangan kita kepada Kristus.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

Stephen Nichols
Stephen Nichols
Dr. Stephen J. Nichols adalah presiden Reformation Bible College, chief academic officer Pelayanan Ligonier, dan salah satu dewan pengajar Pelayanan Ligonier. Dia adalah pembawa acara potcast 5 Minutes in Church History dan Open Book. Ia telah menulis lebih dari dua puluh buku, termasuk Peace, A Time for Confidence, dan R.C. Sproul: A Life, dan beberapa jilid dalam seri Guided Tour mengenai Jonathan Edwards, Martin Luther, dan J. Gresham Machen. Ia adalah rekan editor dari The Legacy of Luther dan editor umum dari Church History Study Bible.