
Satu Tuhan
04 Februari 2026
Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah
09 Februari 2026Mengapa Good Friday (Jumat Agung) disebut “Good” (Baik)?
Good Friday, yang memperingati penderitaan dan kematian Yesus, telah lama dirayakan dalam gereja Kristen. Catatan sejarah tidak jelas mengenai bagaimana gereja kemudian menyebut hari ini sebagai Good Friday karena istilah ini tidak disebutkan dalam Kitab Suci. Beberapa orang berpendapat bahwa istilah ini awalnya disebut “God’s Friday” (Jumatnya Allah) dan kemudian berubah menjadi “Good Friday”, tetapi sebagian besar ahli bahasa menganggap teori tersebut tidak dapat dipertahankan. Kemungkinan besar istilah ini berasal dari makna kuno “good” sebagai “suci”—dengan kata lain, “Jumat Suci.”
Terlepas dari bagaimana istilah ini berkembang secara historis, faktanya tetaplah bahwa orang Kristen melihat istilah Good Friday sebagai baik dalam arti yang kita pahami saat ini—sebuah fakta yang mungkin membingungkan bagi sebagian orang. Mengapa orang Kristen menyebut “baik” sebuah hari saat pemimpin mereka mengalami ketidakadilan yang mengerikan di tangan para penguasa agama yang korup dan dihukum mati oleh orang Romawi dengan alat penyiksaan yang memalukan?
Sekilas, tampaknya sama sekali tidak ada yang baik tentang hari ini. Para pengikut Yesus tentu saja tidak melihatnya sebagai sesuatu yang baik ketika mereka meratapi kematian-Nya pada hari Jumat dan Sabtu itu. Para murid, yang telah meninggalkan mata pencaharian mereka, percaya bahwa mereka akan menjadi tokoh kunci dalam kerajaan mesianik yang akan menggulingkan kekuasaan Roma, mendapati harapan dan impian mereka kandas. Memang betul, jika kematian Yesus pada hari yang kelam itu adalah akhir ceritanya, orang akan dengan tepat memandang orang Kristen sebagai orang yang patut dikasihani (1Kor. 15:17-19).
Lantas, mengapa orang Kristen menyebut Good Friday sebagai “baik”? Jawabannya adalah karena Minggu Kebangkitan menafsirkan dan mentransformasi Good Friday. Kita melihat terjalin di sepanjang Kitab Suci di mana pola “tidak baik” belakangan ditafsirkan kembali ketika Allah secara berdaulat menggunakannya untuk menghasilkan hal yang baik.
Sebagai contoh, lihatlah kisah Yusuf dalam kitab Kejadian. Tidak ada yang baik secara inheren tentang dikhianati oleh saudara-saudara sendiri, dijual sebagai budak di negeri asing, dan—saat keadaan akhirnya kelihatannya menjadi semakin baik—mendapat tuduhan palsu, dijebloskan ke dalam penjara, dan dilupakan oleh sesama tahanan yang kemudian menjadi orang bebas. Wajar jika kita memberi cap “tidak baik” pada bagian-bagian kisah Yusuf ini. Namun, dalam pemeliharaan Allah yang misterius dan ajaib, Dia membentuk sesuatu yang baik dari bahan-bahan mentah yang “tidak baik” ini, menggunakan Yusuf dan posisi otoritasnya di Mesir di kemudian hari untuk menyelamatkan bukan hanya keluarga Yusuf dari kelaparan, tetapi juga seluruh wilayah itu. Melihat ke belakang, Yusuf dapat berkata tentang pengkhianatan jahat dari saudara-saudaranya terhadap dirinya, “Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang” (Kej. 50:20).
Begitu pula dengan peristiwa jahat dalam penyaliban dan kematian Yesus. Seperti yang Rasul Petrus jelaskan dalam khotbahnya di hari Pentakosta, Yesus memang “[disalibkan dan dibunuh] melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23) yang “telah membunuh Perintis Kehidupan” (Kis. 3:15). Adalah jahat bagi orang-orang ini untuk dengan sengaja menghukum mati orang yang tidak bersalah yang juga adalah Allah yang berinkarnasi. Akan tetapi, di atas semua peristiwa ini, Allah dengan berdaulat mengerjakan rencana yang telah dinubuatkan selama berabad-abad untuk menghasilkan kebaikan terbesar dari kejahatan terbesar. Apakah kebaikan yang sedang Allah kerjakan dalam kematian Yesus pada hari Jumat itu?
Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa umat manusia berada dalam kondisi yang sulit. Kita semua telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kejahatan dan kenistaan dosa memisahkan kita dari Allah yang mulia, sempurna, dan kudus, yang dalam kebenaran dan keadilan-Nya harus menghakimi dosa (Rm. 2:5-6; 5:9-10; 1Tes. 1:10). Harapan apa yang kita miliki ketika kita melesat menuju masa depan yang terpisah selama-lamanya dari kasih Allah, dan sebaliknya menghadapi murka-Nya yang adil atas dosa kita? Kita tidak memiliki kebenaran yang diperlukan untuk berdiri di hadirat Allah dan tidak dapat membayar utang dosa kita.
Tidak akan ada pengharapan selain dari rencana Allah Tritunggal dalam kekekalan yang lalu untuk memberikan kepada kita keselamatan yang tidak dapat kita usahakan sendiri. Pribadi kedua dari Tritunggal, Sang Anak, mengambil rupa manusia dan menjalani kehidupan yang benar secara sempurna yang kita semua gagal jalani. Di atas kayu salib, sesuai dengan rencana Allah sendiri (Kis. 2:23), Yesus menghadapi hal yang jauh lebih besar daripada kemarahan para pemimpin Yahudi dan tentara Romawi. Dia menghadapi dan mendamaikan/meredakan (“propisiasi”) murka Allah sendiri atas dosa-dosa semua orang yang adalah milik-Nya (Rm. 5:9-10; Ibr. 2:17; 1Yoh. 2:2). Sistem kurban Perjanjian Lama menunjuk ke depan kepada Yesus, yang adalah Imam Besar yang sempurna sekaligus kurban yang sempurna (Ibr. 9:12, 26). Kehidupan-Nya dan kematian-Nya sebagai kurban pengganti yang sempurna telah meredakan murka dan penghakiman Allah yang adil terhadap dosa-dosa semua orang yang percaya hanya kepada Kristus untuk keselamatan. Yesus, Pribadi yang benar secara sempurna, menanggung hukuman atas dosa-dosa kita ke atas diri-Nya sendiri, dan kita, yang layak menerima hukuman kekal atas ketidakbenaran kita, menerima kebenaran Kristus yang sempurna.
Oleh karena itu, Good Friday adalah baik karena melalui kematian-Nya, Kristus telah menebus kita dari kutuk Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sehingga kita dapat menerima adopsi sebagai anak (Gal. 3:13-14; 4:5). Karena Yesus telah menanggung dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (1Ptr. 2:24), kita memiliki penebusan melalui darah-Nya dan pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran kita (Ef. 1:7). Kita ditebus dengan darah Kristus yang mahal (1Ptr. 1:18-19). Kita dibenarkan, diselamatkan dari murka Allah, dan diperdamaikan dengan Allah (Rm. 5:9-10).
Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian pada hari ketiga mengesahkan semua yang telah Dia capai pada Good Friday, yang menyatakan bahwa maut tidak memiliki klaim akhir atas-Nya (Kis. 2:24). Kemenangan-Nya atas maut dalam kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa dan kemampuan untuk menjamin pembenaran kita (Rm. 4:25). Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia sungguh adalah Allah (Rm. 1:4) dan bahwa murka Allah sungguh-sungguh diredakan oleh kematian Kristus yang menebus. Karena Yesus telah menanggung murka Allah atas dosa-dosa semua orang yang akan percaya kepada penyediaan ini semata-mata dengan iman, orang Kristen tidak akan pernah menghadapi murka Allah atas dosa-dosa mereka atau terpisah dari Allah, karena mereka disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kehidupan-Nya.
Singkatnya, Good Friday adalah baik karena pada hari ini, pertukaran terbesar terjadi: “[Yesus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat [Allah] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21). Kiranya kita dapat menyatakan bersama Rasul Paulus, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2Kor. 9:15).


