5 Cara untuk Mengejar Kepuasan
11 November 2025
Bagaimana Saya Bisa menjadi Seorang Kristen di Tempat Kerja Saya?
18 November 2025
5 Cara untuk Mengejar Kepuasan
11 November 2025
Bagaimana Saya Bisa menjadi Seorang Kristen di Tempat Kerja Saya?
18 November 2025

Apakah Allah Selalu Berkenan pada Orang Kristen?

Untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat, kita perlu meletakkan dasar yang kokoh, yang dimulai dengan menempatkan anugerah sebelum perbuatan.

1. Di luar Kristus, kita tidak dapat menyenangkan Allah dengan moralitas, usaha, atau jasa kita sendiri.

Jiwa-jiwa yang tidak dilahirbarukan tidak mau dan tidak mampu menyenangkan Allah serta menentang perintah-Nya (Rm. 8:5–8). Keinginan diri yang berdosa yang berakar dalam daging, menguasai hidup mereka (2Tim. 3:1–5). Hanya dengan imanlah Henokh dapat berjalan bersama Allah (Ibr. 11:5–6). Hanya ketika terjadi pembaruan yang radikal dan penuh anugerah pada pikiran, kehendak, dan hati, barulah kita menyadari kesulitan kita yang tanpa harapan, mengakui bahwa Allah adil, dan menyerahkan diri kita kepada Kristus. Roh Kudus harus terlebih dahulu menuliskan Hukum Allah di hati kita dan mengarahkan kita kepada hukum itu sebelum kita benar-benar berusaha untuk menyenangkan-Nya dengan cara yang penuh syukur dan memuliakan Allah.

2. Allah tidak pernah menyesali pilihan-Nya yang berdaulat sedetikpun sejak kekekalan.

Sebelum penciptaan, adalah baik dalam pandangan Allah untuk menetapkan mempelai-Nya, gereja, sebagai harta kesayangan-Nya dan biji mata-Nya, untuk dengan penuh sukacita bersorak-sorai dan menenangkannya dengan kasih (Zef. 3:11–17).  Secara umum, dengan pengecualian tertentu, Allah berkenan memilih yang tidak terpandang, bodoh, dan lemah untuk mempermalukan yang terpandang, berhikmat, dan kuat (1Kor. 1:20–29). Menyembunyikan terang wahyu dari orang bijak dan memancarkannya kepada orang bodoh adalah kesukaan Bapa (Mat. 11:25–27; Luk. 2:14; 12:32). Berkaca dari contoh akan nelayan yang gegabah, ahli Taurat yang kejam, teroris yang sekarat, pelacur yang terkenal, orang kesurupan yang kacau, dan pemungut pajak yang korup, Allah memilih orang-orang yang paling tidak mungkin dan terburuk untuk membalikkan keadaan terhadap kebanggaan manusia dan memperoleh lebih banyak kemuliaan bagi diri-Nya. Jika Allah puas dengan pilihan-Nya, maka dalam arti pemilihan ini, orang Kristen menyenangkan Allah.

3. Meskipun Allah berbuat baik (murah hati) kepada semua orang dan bermaksud baik (baik hati) kepada orang-orang kudus, hanya satu manusia, dalam diri-Nya sendiri, yang selalu sepenuhnya berkenan kepada Bapa (Yoh. 8:29).

Allah bersukacita atas pesan-pesan mesianik Kristus, mukjizat-Nya, ketaatan-Nya terhadap hukum, dan penderitaan-Nya. Pernyataan penerimaan-Nya yang cemerlang bergema di langit: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:16–17; 17:5). Jika sebagai Anak yang kekal dan Pengantara Perjanjian, Yesus dalam kekekalan berkenan kepada Allah, maka mereka yang disatukan dengan-Nya dibasuh dalam darah-Nya, dikenakan kebenaran-Nya, diterima dalam Sang Terkasih (Ef. 1:3–6), dan berkenan kepada Allah.

4. Pilihan dan status yang pasti menuntun murid-murid yang bersyukur menjadi semakin meningkat dalam ketaatan yang berkenan kepada Allah (Ef. 5:1–10; Kol. 1:9–14), dengan tidak mengabaikan atau melalaikan panggilan pada pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dipersiapkan sebelumnya (Ef. 2:5–10).

Sebaliknya, kita bertekad untuk mencari cara bagaimana menyenangkan Tuhan. Kita melakukannya sebagai prajurit, seperti Timotius, ketika kita menjadikan tujuan utama kita untuk menyenangkan Komandan kita, Yesus (2Tim. 2:1–4). Kita melakukannya seperti hamba, mengikuti teladan Kristus, yang merendahkan diri-Nya sampai ke kayu salib. Kita tidak lagi haus akan pujian manusia, tetapi menyingkirkan tujuan-tujuan egois kita sendiri dan lebih mengutamakan kebutuhan saudara-saudara dan orang lain, untuk menghindarkan segala bentuk kesalahan, menguatkan yang lemah, dan memberitakan Firman.

5. Kitab Suci sering kali menjelaskan cara untuk menyenangkan Allah.

Allah berkenan ketika pegawai bekerja keras, anak-anak taat kepada orang tua, pernikahan harmonis, warga negara menghormati penguasa, anggota gereja mendengarkan para penatua, dan kesetiaan menggantikan perselingkuhan (1Tes. 4:1–8). Allah berkenan atas perilaku kita ketika damai memadamkan perselisihan, gereja penuh dengan Firman, dan domba-domba diberi makan (bukan terluka atau kelaparan). Pelayanan Kristen dipuji ketika kesungguhan batin menggantikan ritual kosong, orang berdosa yang bersalah remuk hatinya (Mzm. 51:18-19; Mi. 6:6–8), orang-orang kudus yang diampuni memberikan pelayanan dengan pengorbanan, disertai dengan pemberian yang murah hati (Flp. 4:18; Ibr. 13:16), dan kita tekun berdoa (1Tim. 2:1–4).

6. Dua kebenaran membantu upaya perjalanan yang menyenangkan Allah.

Pertama adalah bahwa tidak ada dorongan dan keinginan untuk mencari perkenanan Allah yang berasal dari diri sendiri, melainkan hasil dan dampak dari Firman injil Kristus yang penuh kuasa, yang diaplikasikan oleh Roh Kudus, bekerja di dalam hati kita, untuk mendorong kita berpikir dan bertindak dengan cara yang diterima Allah (Flp. 2:12–13; Ibr. 13:20–21).

Satunya lagi adalah bahwa ketika kita berhenti mendambakan pujian manusia, mematikan keegoisan, menyerahkan diri kepada Allah, dan mengutamakan orang lain, kita menemukan bahwa jalan salib dengan kerendahan hati adalah jalan menuju kebebasan dan kehidupan yang sejati (Rm. 14:1–15:33; 1Kor. 10:31–33). Seperti yang dikatakan Kitab Suci, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35). Allah berkenan ketika kita menemukan kesenangan di dalam Dia.

7. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah tidak berkenan akan dosa dalam hidup kita.

Ketika Daud mengambil Batsyeba dan dengan bangga memerintahkan sensus, Yahweh tidak berkenan (2Sam. 11:27; 1Taw. 21:1–7). Perbuatan yang tidak baik membuat Roh Kudus berduka (Ef. 4:25–32). Demi kebaikan kekal orang-orang kudus-Nya, Bapa kita dengan penuh kasih mendisiplin anak-anak-Nya (Ibr. 12:5–11), bahkan dengan serius untuk pelanggaran yang berat (1Kor. 11:28–34). Jika Kristus menemukan kesalahan pada enam dari tujuh gereja di Asia (Why. 2:1–3:22), anugerah selalu merupakan kata terakhir. Tuhan tahu kita adalah debu dan tidak dapat membayar apa yang dosa tuntut, tetapi ketika kita berbuat salah, Allah dengan sabar mengampuni dan mengasihani kita (Mzm. 103:8–18).

Kesimpulan

Berkenaan dengan tujuan-Nya, Allah selalu berkenan kepada orang-orang kudus. Berkenaan dengan posisi orang percaya dalam Kristus, perkenanan Allah terjamin. Namun, berkenaan dengan perbuatan kita, Allah tidak berkenan akan dosa, tetapi berkenan kepada ketaatan yang Dia upayakan dalam diri kita. Jika kita bertanya-tanya mengapa Allah berkenan menyelamatkan kita meskipun kita telah berbuat dosa dan kesalahan yang besar, itu adalah agar Dia dapat dimuliakan dan dinikmati. Dengan turun ke dalam kerendahan kita dan mengangkat kita kepada ketinggian-Nya, Ia menyatakan hati-Nya yang sabar, penuh belas kasihan, dan pengampun, supaya hidup kekal-Nya sendiri dapat diperlihatkan dalam diri kita, untuk pengagungan atas anugerah-Nya yang mulia.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Andrew Kerr
Andrew Kerr
Dr. Andrew Kerr adalah pendeta di Ridgefield Park Reformed Presbyterian Church di Ridgefield Park, New Jersey, dan profesor bahasa dan literatur Perjanjian Lama di Reformed Theological College di Belfast, Irlandia Utara.