
Apa Itu Pengakuan Dosa?
03 April 2026
Siapakah Simson?
08 April 2026Siapakah Rut?
Banyak orang Kristen akrab dengan Rut, salah satu tokoh utama dalam kitab Perjanjian Lama yang menyandang namanya. Ini adalah sebuah kisah yang dikenal luas dan disukai orang dewasa maupun anak-anak. Namun, meski kita telah akrab dengan kisah tersebut, adalah baik bila kita mengingat siapa sebenarnya Rut, baik untuk menggugah agar kita hidup dengan setia maupun untuk memusatkan pandangan kita kepada Juru Selamat kita, yaitu Dia yang ditunjuk oleh Rut.
Seorang Asing
Hal pertama yang kita ketahui tentang Rut adalah bahwa dia seorang perempuan Moab, yang menikah dengan salah satu anak laki-laki Elimelekh dan Naomi, yang berasal dari Betlehem di daerah Yehuda (Rut 1:1-4). Hal ini penting, khususnya karena orang Moab tidak diizinkan “ikut pertemuan jemaah TUHAN” karena mereka dahulu menolak menyediakan roti dan air bagi umat Allah setelah mereka keluar dari Mesir, dan karena mereka mengupah Bileam untuk mengutuk umat Allah (Ul. 23:3-5). Bangsa Israel dilarang “mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka” (Ul. 23:6).
Seorang Janda
Kedua, suami Rut meninggal di negeri Moab—meninggalkannya sebagai janda tanpa anak (Rut 1:5). Tidak hanya ia harus menanggung kepedihan akibat kehilangan suami, ayah mertua dan saudara iparnya juga meninggal. Segera setelah penderitaan itu, ia meninggalkan negerinya untuk mendampingi ibu mertuanya pulang ke Betlehem, di mana bencana kelaparan telah berlalu dan kembali ada makanan (Rut 1:6-7).
Menantu yang Setia
Ketiga, ketika ibu mertuanya mendesaknya untuk pulang kembali ke rumahnya di Moab sebelum mereka tiba di Betlehem, Rut menolak. Pada akhirnya, saudari iparnya pulang, tetapi Rut “ingin tetap bersamanya [Naomi]” (Rut 1:14). Ini sebuah keputusan yang mahal harganya, terutama karena Naomi tidak memiliki anak laki-laki lain yang dapat menjadi suami bagi Rut. Jika Rut tetap bersamanya, sangat mungkin ia tetap menjanda tanpa anak seumur hidupnya. Meski demikian, ia menjawab Naomi, “Jangan desak aku meninggalkan engkau untuk pulang dan tidak mengikutimu. Ke mana pun engkau pergi, ke situ aku pergi. Di mana engkau bermalam, di situ aku bermalam” (Rut 1:16).
Seorang Perempuan Beriman
Dalam perjalanan ke Betlehem, Rut menyatakan sebuah pengakuan iman: “Bangsamulah bangsaku dan Allahmu Allahku” (Rut 1:16). Pengakuan seperti ini ditegaskan dengan tindakan kesalehannya pada hari-hari berikutnya. Dengan iman ia berinisiatif mencari makan bagi Naomi dan dirinya: “Izinkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang bermurah hati kepadaku” (Rut 2:2). Dengan iman, ia bekerja keras di ladang tersebut (Rut 2:7). Boas memuji dia atas semua yang telah ia lakukan bagi ibu mertuanya, dan memberkatinya dengan kata-kata ini: “Kiranya TUHAN membalas perbuatanmu. Kiranya upahmu sepenuhnya dikaruniakan oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung” (Rut 2:12). Dengan iman, Rut mengikuti rencana Naomi untuk meminta Boas menebusnya, dan dengan berani ia pergi ke tempat pengirikan untuk meminta Boas menikahinya (Rut 3:1-13). Dengan iman, ia menanti dengan berhikmat sampai perkaranya diselesaikan dengan baik (Rut 3:18).
Seorang Perempuan dan Ibu yang Saleh
Meski Rut telah mengalami penderitaan hebat dalam masa hidupnya, Tuhan mengaruniakan kepadanya persis laki-laki yang telah berdoa agar Tuhan membalas perbuatan baik dan kesetiaannya (Rut 2:12). Setelah menyelesaikan seluruh perkara itu dengan baik, Boas mengambil Rut sebagai istrinya (Rut 4:10). Para tua-tua dan penduduk Betlehem mengucapkan berkat atas Boas:
Kiranya TUHAN menjadikan perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu seperti Rahel dan Lea; keduanya telah membangun keturunan Israel… Kiranya keturunanmu menjadi seperti keturunan Peres… karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan ini. (Rut 4:11–12)
Tuhan memberkati Boas dan Rut dengan seorang anak laki-laki (Rut 4:13). Penting untuk dicermati bahwa para perempuan di kota itu menyebutnya “penebus” dan “menyegarkan jiwa” (Rut 4:14-15). Mereka berdoa supaya namanya “termasyhur di Israel” (Rut 4:14). Mereka juga menamainya Obed, yang berarti “hamba” (Rut 4:17).
Silsilah Yesus Kristus
Anak laki-laki Rut, Obed, menjadi “ayah Isai, dan Isai itu ayah Daud” (Rut 4:17). Kitab Rut ditutup dengan silsilah Daud untuk menuntun kita kepada silsilah Yesus Kristus:
Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud… Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab; Boas mempunyai anak, Obed dari Rut; Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. (Mat. 1:1, 5–6)
Yesus adalah Penebus dan Hamba yang lebih besar daripada Boas dan Obed. Ia adalah Raja yang lebih besar daripada Daud. Ia termasyhur di seluruh dunia:
Ia [TUHAN] berkata kepadaku, “Engkaulah anak-Ku!
Pada hari ini engkau Kunyatakan sebagai anak.
Mintalah kepada-Ku,
maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu,
dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.” (Mzm. 2:7–8)
Ketika kita merenungkan pengakuan iman dan karakter Rut, kiranya kita tergugah untuk hidup setia sembari menatap kepada Yesus, sang Penebus umat Allah, yaitu Dia yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).


