
Bagaimana Seharusnya Saya Menghadapi Anak Saya yang Memberontak?
27 November 2025
Istirahat Jiwa
04 Desember 2025Kehidupan Kristiani
Allah adalah Sang Pemberi Hidup. Halaman-halaman awal Kitab Suci menyaksikan kuasa-Nya yang memberi hidup, terutama ketika kita melihat Ia mengembuskan napas hidup ke dalam hidung Adam (Kej. 2:7). Allah menciptakan Adam dan Hawa untuk mengalami kehidupan yang sempurna melalui persekutuan mereka dengan-Nya dan ketundukan mereka pada pemerintahan-Nya yang bajik. Namun, godaan Iblis terhadap Adam dan Hawa, yang memuncak pada kejatuhan umat manusia, membawa dosa dan kematian ke dalam ciptaan Allah yang baik (Rm. 5:12).
Pemberian kulit binatang oleh Allah untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa setelah dosa mereka menyingkapkan sebuah kebenaran yang diungkapkan sepanjang Kitab Suci: sebuah persembahan kurban diperlukan untuk memulihkan apa yang hilang akibat kejatuhan. Para orang kudus di Perjanjian Lama memercayai janji Allah untuk mengutus seorang Penebus terakhir sementara mereka mempersembahkan kurban-kurban yang diperintahkan oleh Allah, kurban-kurban yang merupakan bayang-bayang dari kurban terakhir ini, yaitu Anak Allah itu sendiri.
Meskipun Israel gagal untuk tetap setia pada perjanjian Allah, Allah tetap setia. Pada waktu yang telah ditentukan Allah, Pribadi Kedua dari Tritunggal, Yesus Kristus, mengambil rupa manusia, lahir dari seorang anak dara, dan berjalan di bumi yang telah Ia ciptakan. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus dengan jelas menyatakan identitas diri-Nya: Dia sendiri adalah hidup, dan Dia datang untuk menyerahkan hidup-Nya bagi umat Allah (Yoh. 14:6; 10:11). Yesus bukanlah salah satu dari banyak jalan menuju hidup. Dia adalah satu-satunya jalan yang menuju hidup; semua jalan lain menuju kematian. Kita dapat memiliki hidup hanya jika kita percaya bahwa Dia adalah satu-satunya kurban yang sempurna dan final untuk memuaskan tuntutan Allah yang adil (Yoh. 20:31).
Ketika kita menaruh kepercayaan kita hanya kepada Kristus sebagai Juru Selamat, kita berpindah dari dalam maut (kerohanian yang mati) ke dalam hidup (Yoh. 5:24). Kita sekarang disatukan dengan Kristus. Kita ada di dalam Kristus. Demikianlah kehidupan Kristiani dimulai.
Oleh karena itu, kehidupan Kristiani bukanlah upaya menghidupi kehidupan bermoral dengan usaha kita sendiri dan dengan kekuatan kita sendiri. Kehidupan Kristiani tidak dihasilkan oleh kehadiran di gereja, menjadi orang yang “baik”, atau mendapatkan pengetahuan Alkitab. Sebaliknya, kehidupan Kristiani tidak kurang dari kehidupan Kristus yang telah bangkit itu sendiri, yang bekerja di dalam kita melalui Roh Kudus, memungkinkan kita untuk melihat dan menyembah kemuliaan dan keindahan Kristus, serta memberikan kita kuasa untuk berjalan mengikuti jejak-Nya seiring kita bertumbuh dalam kasih kepada Allah Tritunggal dan kasih kepada sesama.
Inilah kehidupan Kristiani—suatu kehidupan di mana Allah secara berdaulat membawa umat-Nya dari kematian kepada kehidupan dengan memberikan hati yang baru kepada mereka, membuat mereka merangkul Yesus yang disalibkan dan bangkit sebagai satu-satunya pengharapan bagi orang berdosa, dan dalam kesatuan dengan-Nya, bertumbuh dalam kedekatan dan keserupaan dengan-Nya, semuanya bagi pujian atas anugerah-Nya yang mulia (Ef. 1:6).


