Bagaimana Yesus Adalah “Jalan, Kebenaran, dan Hidup”?
15 Juli 2025
Bagaimana Yesus Adalah “Terang Dunia”?
22 Juli 2025
Bagaimana Yesus Adalah “Jalan, Kebenaran, dan Hidup”?
15 Juli 2025
Bagaimana Yesus Adalah “Terang Dunia”?
22 Juli 2025

Bagaimana Yesus Adalah “Pokok Anggur yang Benar”?

Perkataan “Akulah” yang ketujuh dan terakhir dari Yesus—“Akulah pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1)—bisa dikatakan adalah perkataan yang paling membingungkan dari semuanya (setidaknya bagi pembaca non-Yahudi). Godaan bagi banyak pembaca (dan pengkhotbah) adalah menganggap perkataan ini murni sebagai sebuah metafora tentang bagaimana kita seharusnya bertumbuh dan berbuah sebagai orang Kristen. Namun, bukan begitu pemahaman para pendengar Yesus mula-mula, yang semuanya adalah orang Yahudi.

Segala sesuatu mengenai pernyataan ini pasti dengan cepat membawa pikiran para pendengar Yahudi kembali ke Alkitab Ibrani mereka, di mana gambaran tentang pokok anggur menyebar di sepanjang penyingkapan sejarah penebusan dalam relasi Allah dengan bangsa Israel. Maka, seiring bobot dari perkataan Yesus mulai dimengerti mereka, mereka hanya dapat tercengang oleh apa yang Yesus katakan dengan berani tentang diri-Nya, dalam arti penggenapannya.

Di dalam Kitab Mazmur, pemazmur berbicara tentang bagaimana Israel menjadi sebuah bangsa dengan berkata, 

Telah Kaupindahkan pokok anggur dari Mesir,
telah Kauhalau bangsa-bangsa,
lalu Kautanam pohon itu. (Mzm. 80:9)

Nabi Yesaya, ketika memperingatkan Israel tentang kemerosotan rohani mereka, menggunakan bahasa pokok anggur yang ditanam dan dirawat Allah tetapi kemudian menjadi liar dan tidak berbuah (Yes. 5:1-6). Nabi Yeremia menggunakan bahasa yang sama (Yer. 2:21). Ini sebuah gambaran yang indah tetapi juga menyentuh emosi.

Seluruh kisah bangsa Israel sebagai umat Allah diiringi dengan bukti kasih dan kepedulian Allah bagi mereka. Ia memilih mereka dari sejak kekekalan, menebus mereka dari perbudakan, menuntun mereka melalui padang gurun, dan memberi mereka tanah pusaka milik mereka sendiri. Ia memberi semua yang mereka perlukan untuk tidak hanya menjadi makmur secara rohani sebagai sebuah bangsa, tetapi juga untuk menjadi saluran berkat-Nya bagi semua bangsa di muka bumi (Kej. 12:3). Namun, mereka menyia-nyiakan pemberian-Nya dan menjauh dari Allah yang kepada-Nya mereka berutang seluruh keberadaan mereka.

Tak satu pun dari hal-hal itu akan luput dari pemahaman murid-murid Yesus ketika Ia berbicara tentang pokok anggur dalam kaitannya dengan diri-Nya. Sama seperti identitas kolektif umat Allah di Israel berakar pada Allah, pembebas mereka, serta vitalitas dan keberhasilan rohani mereka berakar pada kesatuan dan persekutuan mereka dengan-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka sekarang, bahkan secara lebih mulia lagi, janji-janji yang telah Allah berikan digenapi di dalam Kristus.

Pola pikir banyak orang Kristen pada hari ini sering kali dibentuk oleh individualisme pasca-Pencerahan, yang terutama berfokus pada diri sendiri dan menganggap kisah pribadi sendiri sebagai paling penting. Namun, pola pikir ini bertentangan dengan ajaran Alkitab. Penekanan Kitab Suci bukan hanya pada siapakah kita pada diri kita sendiri, melainkan pada siapakah kita secara korporat dan kolektif dalam kehidupan baru dalam keselamatan kita. Yesus memakai gambaran pokok anggur dan carang-carangnya untuk melukiskan hubungan antara Dia dan umat-Nya. Murid-murid-Nya tahu persis apa yang Ia katakan—terutama dalam kaitannya dengan buah-buah rohani yang secara tidak terelakkan merupakan hasil dari kesatuan orang percaya dengan-Nya.

Perlu dicatat bahwa penerapan pertama Yesus atas gambaran diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar berkaitan dengan orang-orang yang tampaknya adalah pengikut-Nya tetapi sebenarnya bukan: “Setiap carang pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya [Bapa]” (Yoh. 15:2). Ia sedang berbicara tentang mereka yang kelihatannya adalah orang Kristen melalui keterlibatan lahiriah di gereja tetapi yang pengakuan imannya tidak sungguh-sungguh. Mereka tidak memiliki bukti berupa apa yang kemudian disebut Paulus “buah Roh” (Gal. 5:22-23).

Yesus melanjutkan berbicara tentang dasar yang olehnya seseorang disatukan kepada Dia, yang adalah pokok anggur yang benar, ketika Ia berkata, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh. 15:3). Firman-Nya, yang diucapkan di dalam Injil, pertama-tama bersifat deklaratif. Firman itu menjamin bahwa orang-orang yang percaya bukan hanya diampuni tetapi juga dimurnikan oleh anugerah-Nya yang membenarkan. Itu adalah pernyataan-Nya yang sekali untuk selamanya tentang posisi yang baru bersama Allah.

Akan tetapi, sebagaimana sering ditekankan oleh para teolog, “Adalah semata-mata iman yang membenarkan, tetapi iman yang membenarkan tidak pernah sendirian.” Iman tidak dapat dilepaskan dari anugerah pengudusan. Posisi legal kita yang baru di hadapan Allah melalui pengampunan dan penerimaan-Nya harus berlanjut dengan kita memanifestasikan diri dalam bukti anugerah-Nya yang mengubah hidup kita. Allah membuat kita secara bertahap menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, Juru Selamat kita, Yesus.

Akan tetapi sering terjadi, sebagaimana digaungkan lewat ajaran Alkitab di tempat lain, kehidupan baru yang bertumbuh dan berbuah ini diperoleh dengan membayar harga. Bapa “membesihkan” carang-carang untuk membuatnya lebih banyak berbuah (Yoh. 15:2). Melalui pemeliharaan yang ketat dan pergumulan kehidupan, Allah menyapih kita dari mengandalkan diri sendiri dan mengajar kita untuk “tinggal” lebih sepenuhnya di dalam Anak-Nya.

Menarik bahwa Yesus menyediakan kunci untuk memahami arti “tinggal” di dalam-Nya secara praktis: kita harus tinggal di dalam Dia dan Firman-Nya harus tinggal di dalam kita (Yoh. 15:7). Buktinya akan terlihat melalui kehidupan doa kita ketika kita memaparkan kebutuhan-kebutuhan kita di hadapan Allah dan melihat jawaban-Nya atas doa-doa kita.

Intinya adalah bahwa sebagai murid Kristus kita harus tinggal dalam kasih-Nya (Yoh. 15:9). Satu hal ini yang terus melekat pada kesadaran Paulus, yang secara mengharukan tertangkap dalam pernyataannya kepada jemaat Galatia, “Anak Allah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal. 2:20). Kasih Kristus kepadanya adalah tanah yang di dalamnya kasih Paulus bagi Kristus berkembang dan bertumbuh. Kiranya hal yang sama terjadi bagi kita semua yang telah disatukan dengan Kristus, Pokok Anggur yang benar.

Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The “I Am” Sayings of Jesus.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Mark Johnston
Mark Johnston
Rev. Mark G. Johnston telah menghabiskan sepuluh tahun merintis gereja, dan menolong mengawasi pendirian Trinity EPC, Richhill di Irlandia Utara. Ia juga telah menggembalakan jemaat di Inggris, Amerika Serikat, dan Wales. Saat ini ia melayani di Groomsport EPC di Irlandia Utara. Ia melayani sebagai anggota board Banner of Truth Trust dan merupakan penulis beberapa buku, termasuk This World Is Not My Home: Reflections for Pilgrims on the Way dan beberapa komentari dalam seri buku Let’s Study, yaitu John, Colossians and Philemon, dan 2 Peter and Jude.