Bagaimana Yesus Adalah “Pokok Anggur yang Benar”?
17 Juli 2025
Mengapa Doa Merupakan Sarana Anugerah?
24 Juli 2025
Bagaimana Yesus Adalah “Pokok Anggur yang Benar”?
17 Juli 2025
Mengapa Doa Merupakan Sarana Anugerah?
24 Juli 2025

Bagaimana Yesus Adalah “Terang Dunia”?

Beberapa minggu lalu saya sedang memotong kayu di satu bagian hutan di sebelah rumah kami dan mengamati bagaimana pohon-pohon di situ menggapai matahari: di bagian tengah, pohon-pohonnya tumbuh lebih tinggi; sedangkan di bagian pinggir, dahan-dahan yang panjang menjulur ke arah kekuatan yang memberi hidup itu. Saya lalu teringat bahwa Yesaya pernah menubuatkan hasil dari pelayanan khotbah Kristus:

Roh Tuhan ALLAH ada padaku,

karena TUHAN telah mengurapi aku.

Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara…

supaya orang menyebut mereka “pohon tarbantin kebenaran”,

yang ditanam TUHAN untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

(Yes. 61:1, 3)

Firman Allah menjadikan terang. Kata-Nya, “Jadilah terang” maka terang pun jadi—sebuah substansi yang bukan energi murni, bukan pula materi, dan masih menjadi misteri bagi kita (Kej. 1:4). Allah juga menciptakan benda-benda penerang: “penerang yang lebih besar untuk menguasai siang dan penerang yang lebih kecil untuk menguasai malam” (Kej. 1:16). Penerang yang lebih besar—matahari—adalah sebuah reaktor fusi nuklir dengan dimensi dan energi yang menakjubkan, yang menyirami bumi dengan kekuatan yang mencengangkan. Kita dengan mudah melupakan hal ini—karena sibuk dan terdistraksi oleh hal-hal yang kurang atau tidak mulia sama sekali—sampai kita menemukan diri kita meraba-raba dalam malam gelap atau merindukan kembali hari-hari musim dingin yang gelap dan panjang berubah menjadi kehidupan musim semi dan kemuliaan musim panas yang panjang. Terang adalah kehidupan.

Akan tetapi, terang juga dipakai untuk menggambarkan keselamatan. Pilar api adalah keselamatan bagi bangsa Israel, tetapi bangsa Mesir hidup dalam kegelapan (Kel. 14:20). Lampu kandil menerangi dua belas roti sajian, sebuah keadaan yang dijelaskan melalui berkat Tuhan atas suku-suku Israel: “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya” (Bil. 6:24-27). Pemazmur berseru: “TUHANlah terangku dan keselamatanku” (Mzm. 27:1). Sebaliknya, dunia ini adalah kegelapan karena keberdosaan manusia. Ketidaktaatan berarti manusia alami “meraba-raba di tengah hari seperti orang buta meraba-raba di dalam gelap” (Ul. 28:29). Namun, jalan keselamatan diterangi oleh Firman Allah, yang adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mzm. 119:105).

Pergerakan dari kegelapan kepada terang adalah keselamatan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Akulah terang dunia,” Ia membuat sebuah klaim penuh kuasa tentang kemuliaan yang cermerlang dan kuasa yang menyelamatkan (Yoh. 8:12).

Di dalam teks ini, Yesus menegaskan keilahian-Nya. Ia adalah “AKULAH AKU” yang eksis pada diri-Nya sendiri dalam kekekalan, Pencipta matahari, bulan, dan bintang (Kel. 3:14). Ia adalah sumber dan templat kemuliaan cahaya. Ia adalah Tuhan, yang adalah Terang—sebagaimana ditulis oleh Yohanes, “Allah adalah terang, dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1Yoh. 1:5). Ia adalah agen kehidupan ilahi yang bersinar dari Bapa, yang diam di dalam terang dan kemuliaan yang tak dapat dijangkau. Yohanes 1:4-5 berkata tentang Yesus, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Pernyataan ini hanya dapat dimengerti ketika kita pertama-tama memikirkan kemuliaan terang yang alami (khususnya matahari) lalu mengangkat hati kita kepada kemuliaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bintang yang paling terang—bahkan semua bintang—hanyalah indikator terkecil dari bobot kemuliaan kekal Allah kita.

Akan tetapi, Yesus juga berbicara tentang karya-Nya yang menyelamatkan. Dialah satu-satunya sumber kehidupan rohani di dalam dunia yang penuh dengan kegelapan dosa. Maleakhi mengantisipasi kedatangan Mesias sebagai “surya kebenaran dengan pemulihan pada sayapnya” (Mal. 4:2). Wajah Yesus yang berubah rupa memancarkan cahaya seperti matahari (Mat. 17:2). Paulus menganggap penglihatan yang menyelamatkannya akan kemuliaan Yesus Kristus lebih terang daripada matahari (Kis. 26:13). Yohanes melihat kemuliaan Kristus bagikan “matahari yang besinar terik” (Why. 1:16-20). Ketika kita menjadi orang Kristen, itu karena “Allah, yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan bercahayalah terang!’, Ia juga yang membuat terang bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). Terang yang lebih besar—sang Anak—menyingkapkan keberdosaan kita dengan kekudusan-Nya yang menyilaukan dan kemudian memancarkan kuasa yang memurnikan dan memberi hidup ke lubuk hati kita yang terdalam. Yesus bersinar dengan terang di kayu salib, lebih terang lagi di kuburan kosong, dan lebih terang lagi dalam kemuliaan waktu Ia naik ke surga. Kedatangan-Nya kembali akan terjadi seperti sebuah kilat yang menerangi seluruh bumi. Semua terang ini ditawarkan kepada dunia di dalam berita Injil, dan diterima dengan iman yang sederhana kepada Yesus Kristus.

Ketika kita percaya kepada Yesus, sebuah perubahan permanen terjadi: “Siapa yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh. 8:12). Sebagaimana dikatakan Paulus, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan,” dan kita hidup sebagai terang di dunia yang gelap (Ef. 5:8). Melalui kesatuan kita dengan Kristus, ke mana pun kita pergi, terang-Nya bersinar. Kenyataan ini seharusnya menghibur kita, khususnya bila kita menemukan diri kita ditentang oleh dunia. Hal ini juga seharusnya menguatkan kita untuk berdoa supaya orang-orang melihat perbuatan baik kita, memuliakan Bapa di surga, dan datang kepada sang Terang.

Lebih lagi, Yohanes berkata bahwa hidup Kristus adalah terang manusia (Yoh. 1:4). Kita tidak sekadar datang kepada Terang lalu hidup menurut cara kita sendiri. Sebaliknya, kita menggapai kemuliaan surga agar makin menyinari kita. Kita telah melihat kemuliaan melampaui matahari terbit yang terik pada wajah Dia yang memeliharanya, dan sekarang kita lapar akan kemuliaan Allah yang agung dan tanpa batas. Ketika matahari kecil kita berubah menjadi gelap dan bulan menjadi darah, itulah tanda bahwa kita sedang berada di titik balik kehidupan dalam kepenuhan kemuliaan Allah Tritunggal. Daun-daun pohon tarbantin kita akan berbalik untuk menerima terang kehidupan, yang senantiasa mengalir dari takhta di pusat kota yang tidak membutuhkan matahari atau bulan, sebab kemuliaan Allah meneranginya (Why. 21:23). Tuhan akan menjadi terang bagi kita, dan Ia akan memerintah selama-lamanya.

Semua ini adalah apa yang dimaksud Yesus ketika Ia berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12).

Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The “I Am” Sayings of Jesus.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Peter Van Doodewaard
Peter Van Doodewaard
Pdt. Peter Van Doodewaard adalah gembala di Covenant Community Church di Taylors, South Carolina.